“Eighteen is a legal age to get married in England. So, you can do it with me with no worries.”

Hera & Dominic || Life, Plotless || Ficlet || PG – 17! || Photo © Jenna Carlock || Warning: Mature content.

London, England.

Summer, 2011.

09:34 A.M.

 

Hera menelengkan kepalanya ke samping, merasa salah dengan intensitas cahaya yang menusuk pori-pori wajahnya. Tubuhnya meregang sesaat di atas kasur sebelum—secara terpaksa—kelopak matanya terangkat. Ujung kepalanya terasa berdenyut sementara pandangnya masih menyesuaikan dengan keadaan sekitar, berusaha menyatukan potongan-potongan kilas buram yang terasa asing serta familier di saat bersamaan. Butuh waktu lama pun hanya butuh pemicu singkat untuk menyatukan puzzlenya.

“God, damn it!”

Ia menemukan seorang laki-laki yang masih mendengkur dalam tidur di sampingnya, lantas berbagai macam jenis minuman juga hal-hal yang bisa membawanya ke atas sini tergambar jelas begitu saja. Punggung terduduk tegak di atas kasur. Mengabaikan palu-palu bayangan yang memukul kepalanya, kakinya memijak ubin yang cukup dingin sembari lengannya mengambil kemeja yang entah milik siapa di atas lantai. Dan ketika dikenakan, ia sadar, bukan miliknya, tapi Dominic. Masa bodohlah.

“Hmmm.” Lelaki itu menggeliat, menarik kembali selimut yang sempat tersingkap dari tubuhnya lantaran Hera turun dari kasur secara terburu-buru. Otaknya masih memproses kata tidur untuk dipanjangkan waktunya, namun erangan gadis di ruangan itu mampu membuat atensinya terbentuk. Lensa mulai beradaptasi dengan atmosfer ruang ketika sebuah celana panjang melayang di udara, lalu mendarat di dekat tubuhnya.

“Kenakan celanamu.”

Dominic tidak mengerti, tapi ia tetap melakukannya—masih terlalu dini untuk berdebat. Ia memasukan kedua tungkainya ke dalam bawahan tersebut, sementara Hera tengah mengobrak-abrik beberapa lacinya. Dan lelaki itu—beserta kesadaran yang belum utuh—meracau, “Kamu tidak memakai bawahan, sementara aku tidak memakai atasan. Kita bisa saling melengkapi, sepertinya.”

“Huh?” Remanya terayun pelan kala kepalanya menoleh ke belakang bersamaan dengan jemarinya yang menemukan satu tabung kecil aspirin.

Hera menanti beberapa saat hanya untuk didiamkan bersama hening, memandang balik pria yang kini tengah bersandar pada meja di ujung ruang. Tidak ada jawaban, tidak ada ucapan. Maka, tungkai gadis itu bersiap keluar dari ruangan—sebab tidak ada air untuk meminum obat—pun tangannya sudah siap memutar kenop pintu, ketika—lagi-lagi—Dominic menambah pening di kepalanya dengan teriakan.

“Hey!” Bariton tersebut mendesak atmosfer, namun ia tidak begitu sadar—akibat pusing. “Berapa umurmu?”

Hera menekan pintu yang telah terbuka beberapa derajat ke tempatnya kembali, “Eighteen.”

Laki-laki itu tersenyum. Kurva asimetris yang masih ditandai dengan candu-candu perusak kesadaran otak. Hangover, Hera berpikir. “It’s a legal age to get married in England. You can do it with me, it’s okay.”

“What?” Matanya memicing, mencerna perkataan itu terlalu serius. Yeah, gadis itu juga masih hangover.

“Umurku 21, sudah cukup mapan, dan tentunya bisa menghidupmu. Kenapa tidak?”

Mata kelabu itu bersitatap dengan lawan bicaranya, berusaha mengira masih berapa persen kandungan alkohol yang tubuh itu simpan hingga pemikiran Dominic kelewat sinting. “Karena aku tidak berniat menikah muda dan menghabiskan umur termenyenangkanku bersama kehidupan membosankan.”

“Kamu tahu aku, Milady. Aku tidak akan mengekangmu.” Lelaki itu berbicara bersama nada yang tidak bisa ditebak, entah serius atau bercanda—mungkin bisa juga lembut, tapi serius. “Lagipula, tidak akan banyak bedanya kan?”

Pikiran si gadis menyatakan bahwa pria di depannya mabuk terlalu parah, sayangnya ia sendiri tidak awas bahwa kadar kekacauannya juga tidak lebih rendah—kalau iya, seharusnya ia sudah melewati pertikaian kurang mutu ini. Sekarang mulut gadis itu kembali siap untuk menyerang, “Kalau tidak banyak bedanya, kenapa harus memaksa!?”

Dominic menaikkan bola mata sejemang, mencari alasan tepat untuk menjawab. Dan ketika manik coklat terangnya mengarah pada pupil Hera, sepasang tangannya siap membentuk tanda kutip. “Maybe, I can bring you “heaven”,”—lelaki itu sungguhan membentuk tanda kutip pun menekan satu kata itu—“more often.”

—dan darah Hera mendidih cepat.

Kalau surga yang lelaki itu sebut adalah apa yang mereka lakukan di antara interval minum bergelas-gelas sampai dua pasang mata itu harus merasakan cahaya matahari yang mengusik, jantung Hera tentu layak untuk berdegup tidak nyaman—apalagi ketika Dominic mengucapkannya dalam nada serius.

Poros pandang mereka jatuh pada garis linear yang sama, saling membagi tatapan, tapi tidak menumpahkan pikiran baik secara ucapan langsung maupun gestur tubuh. Di antara mereka hanya ada senyap yang kian lama makin membuat Hera gugup, hanya saja tidak berhasil menjadikan Dominic mengetahui apa efek kalimatnya barusan pada gadisnya. Lelaki itu diam menanti jawab dari Hera yang mulut pun tubuhnya beku.

Dan ketika sadar menggapai tubuh kakunya—setelah puluhan detik—hal pertama yang Hera pikirkan adalah kaplet obat berwarna putih. “I think we need aspirin.”

Ada satu hantaman kuat menuju si lelaki tentang kemungkinan bahwa aspirin adalah obat untuk memulihkan mabuk, lensa matanya membesar, dan sedetik kemudian membawa binar malu. Dominic tertawa kecil sebelum kelima jarinya menyisir surai coklat gelap yang masih menggelantung tanpa arah di atas kepala dan mengangkat wajah, menaruh fokus pandang pada pupil yang berjarak enam meter darinya. “Yeah, I think for this morning what I need is aspirin not your presence that makes my hangover worse.”

Kali ini Hera ikut menebar senyum. Namun, ia tidak melempar sebotol aspirin yang tergeletak di meja dekat pintu, alih-alih ia membuka pintu sembari melontar gestur agar kekasihnya berdiri. “Get up. Aspirin is not that good for the stomach. Coffe is much better.”

Dominic melepaskan tumpuan tangannya, lantas memintal langkah sembari di tengah jalan menggapai jaket tidur—yang mungkin tidak akan ia gunakan—tapi tidak sekalipun berpikir untuk membawa bawahan untuk Hera, biarkan ini tidak dingin dan ia sudah biasa. Langkah itu menguntit Hera dari belakang, menjaga jarak sampai bertemu dapur, dan destinasinya tertuju pada sekumpulan cangkir di atas rak, sedangkan gadisnya mengambil sendok juga bubuk kopi. Harusnya ini yang mereka lakukan dari pagi untuk menghilangkan efek mabuk, bukannya semakin larut dalam pertengkaran di bawah alkohol. Pun begitu, ketika denting cangkir yang bertemu alas keramiknya dibuat Dominic, tawa kecil lelaki itu menyusupi udara.

“Apa?” Hera mendelik sesaat di tengah aktivitasnya menaburkan bubuk kopi pada coffee maker.

“Lucu saja.” Pupil itu tidak membalas Hera, ia lebih memilih membenarkan posisi cangkir, lantas mengambil air panas. “Obrolan kita tadi, lucu.”

Tangan putih si gadis mengambil segelas besar air panas dari tangan si lelaki sembari memasang tampang sebal, “Tidak lucu.” Ia masih kesal dengan omongan Dominic. Kendati demikian, ketika ia membelakangi kekasihnya bersamaan dengan satu gelombang tawa lagi yang tumpah, ujung bibirnya naik tidak simetris mengingat ajakan menikah dari Dominic.

Akhirnya Hera mengaku, “Yeah, mungkin itu lucu.”

“Iya, kan?” Lalu mereka mereka menjejali atmosfer dengan tawa.

Pada prakteknya semua terdengar mengerikan, tetapi beberapa jam kemudian semua bisa berubah lucu. Hera bisa saja sudah tergelak sembari menggoda Dominic dengan kata “Pria Sinting”, sementara lelaki itu mengejek wajah Hera yang malu hanya dengan bahasannya; kejadian mengerikan pagi ini hampir pasti akan menjadi cerita konyol di sore hari. Peduli setan mereka soal hal-hal bodoh pun aneh yang sempat tumpah di kamar Dominic, semua akan berlalu menyenangkan—selama mereka ingin.

Note:

  1. Ajari aku menulis cerita penuh dialog dengan baik dan benar.
  2. Terus aku lebih suka nulis Hera Dominic jadinya LOL. Padahal niatnya mau nulis Joan Kyle dulu :(
  3. “It’s a legal age to get married in England. You can do it with me, it’s okay.” <<< Ngerti gak kenapa it’s okaynya aku teken? …
Advertisements

10 thoughts on “Drunk in The Morning

  1. HAHA ADUH SHER ADA ADA AJA SIH IDENYAAA xD
    ini dari pertama baca ya aku kira si dominic sama hera ini ngga ada apa apa, jadi pure stranger yg semalemnya minum minum terus akhirnya karna pengaruh alkohol jadinya berakhir di situ. terus rada mikir kan pas si hera bangun sambil ngudek ngudek nyari aspirin, oalah paling ini di kamarnya hera secara dia uda tau seluk beluk ruangannya. terus taunya mereka uda pacaran gitu kaaan wkwk. itu apasiiiih dominic pagi pagi pertanyaannya dah LOL.
    makanya pas si dominic ngajuin pertanyaan itu ke hera aku tuh yang: woi kalian masih sama sama stranger udah ngajak nikah pula wkwkwk. eh taunya kagaaa xD terus yg pas sama sama ngerasa stupid tadi kita ngobrolin apasih itu lucu bangeeeet x) karakter dominic kegambar banget aku suka gmn dia masih rada playful dan suka ngegodain hera gituu hehe
    .
    btw aku malah berhasil ngegambarin dominic di pikiran aku, yg hera aku belom kegambar malah hehe. lucuu ceritanyaa x) keep writing yaa sher! <3

    • INI EMANG RANDOM ABIS KAK AKU MIKIRNYA HAHAHA.

      Sebenernya ini di apartemennya Dominic sih kak, tapi emang gak aku detailin jadinya rancu LOL. Padahal emang mungkin lebih lucu kalo Dominic ngajakin nikah tapi stranger ya xD HAHAHA, aku gak nyangka itu jatohnya bakal lucu.

      Dominic emang niatnya jadi cowok serius tapi bisa playful, terus kalo Hera bold gitu, berharapnya sih aku bisa konsisten hehehe.

      Makasih kak :)

  2. huwaaa ancur *maksudnya tentu saja tidak secara harfiah
    aku udah merinding aja bayangin hera-dominic yg di dalam kamar berduaan dlm keadaan hangover dan tidak berpakaian lengkap. dan 18 udah begituan si hera-nya?! aish. yah sedikit culture shock tapi gapapa, aku pun pernah menulis scene dengan setting seperti ini :p *nakal sedikit gapapalah ya
    dominicnya… right, kutip kak fika. kocak banget sih kata2nya bikin gemes naik darah begitu.
    /
    /
    “Maybe, I can bring you “heaven”,”
    “It’s a legal age to get married in England. You can do it with me.”
    “Yeah, I think for this morning what I need is aspirin not your presence that makes my hangover worse.”
    /
    /
    minta diapain si dominic ini -.-
    aku suka penggambaran scenemu yg detail ^^ dan visualisasi heraku entah kenapa masuk2 aja sama gambarmu XD
    keep writing ya sher!

    • Hera Dominic emang asalnya Europe kan kak, jadi culturenya agak beda hahaha (makanya aku ngerasa ini mature contentnya parah…). Mungkin kedepannya sebagian diprotect LOL.

      MAAFKAN SAJA DOMINIC KAK. NAMANYA JUGA GAK SADAR HAHAHA. Tapi kalo mau ditendang, tendang aja sih, suka begitu emang LOL.

      Makasih ya kak ♥ keep writing juga :)

  3. KAKSHER ASTAGA!

    Kakak mah jago banget ya kalau bikin cerita bertema kek gini, sama dark juga ofc. Ini udah PG-17 ratingnya wkwk. Mana aku gabisa bayangin itu Heranya masa berandalan kek gitu omo omo terus sekarang Hera ganti kapel kak? Dulu kan sama Mino XD

    Keep writing kaksher!

    • ASTAGA. VI. KAMU TIDAK SEHARUSNYA DI SINI.

      LOL, aku mah remahan kue, gak jago nulis apa-apa :” Hera emang agak berandalan kok hahaha. Dominic itu mantannya sebelum sama Mino, Vi xD

      Keep writing juga vi ♥

  4. Sher, aku ngerasa salah buka tulisanmu yg ini, bukan yg mino itu. W SYOK SHER BACANYA. ADEGANNYA ASTAGA. Kirain awalnya hera udah potek sama mino terus balikan sama dominic &:&#-$;% ini kilas balik gasih? Ah, tau deh dag dig dug nih hati baca ini LOL

  5. KASHER NABIL UDAH TUJUH BELAS KOK, CUMA BELUM BIKIN KTP AJA WKWKWK XD

    kaya kakfika, awalnya nabil kira mereka tuh stranger e e e e e taunyaaa xd ini kebayang banget sama nabil si dominicnya, otoke ini lovable banget cowoknya haha inimah bukan drunk in the morning, BAVER IN THE MORNING :D

    • HAHAHAHA OH NO. INI GAK SEHARUSNYA DIBACA, KARENA SUGESTI OKAY BUAT HAVING SEX.

      Awalnya misleading sih emang jadi stranger LOL, gak tau ya, aku juga sebenernya mau punya cowok macam dominic 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s