…, menampilkan binar harapan yang semakin hari makin redup.

Joan D. & Dylan || Sad || Ficlet

London, England.

Fall, 2012.

08:41 A.M.

 

“Hello, this is Dylan’s phone. Sorry, I’m currently unable to take your call. You can leave a message after the tone and I’ll call you as soon as possible.”

Joan meringkuk di sudut kasur sembari menekan tombol hijau di ponselnya, menyimak voicemail Dylan, melihat sambungannya mati, dan kembali mengulang siklus tersebut hingga puluhan kali. Ia tidak bosan, mungkin juga ia sudah lupa seperti apa bosan karena emosi yang bersarang dalam hatinya cuman sakit. Bahkan ketika derit pintu menginterupsi aktivitasnya, kepalanya hanya menoleh untuk memastikan bahwa dugaannya jika Hera atau Julian datang—pun sesuai tebakkannya, orang pertama yang menapakkan kaki dalam ruangannya.

Hera berjalan pelan menuju sisi kasur, mengabaikan kekosongan atmosfer yang pada kenyataan malah membuat segalanya makin terasa sesak. Jemari itu merebut ponsel yang tergeletak di kasur sekejap mata kala tubuhnya berjarak satu meter dari Joan—mengabaikan voicemail yang masih berlangsung. “Joan, you need to stop,”

Joan tidak marah, tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak minta ponselnya dikembalikan.  Pupil gelap itu hanya menatap saudarinya lemah, menampilkan binar harapan yang semakin hari makin redup. “He never calls back.” Di akhir kalimatnya, air mata yang sedari tadi sudah kering di pelupuk mata, kini kembali mengaliri pipinya hingga jatuh ke kasur.

Dan Hera tidak tahu lagi harus bersikap apa, selain memeluk gadis yang remuk hatinya untuk kesekian kali, berharap bahwa Joan sadar jika semua sudah mutlak. Di saat seperti ini biasanya Hera berniat untuk membunuh siapapun yang menyebabkan kembarannya menangis, namun detik ini, ia berharap bahwa Dylan masih bernapas agar lelaki itu bisa tertawa bersama Joan.

Tapi nyatanya, suara Dylan yang terus berulang hanya tiga kalimat tersebut.

“Hello, this is Dylan’s phone. Sorry, I’m currently unable to take your call. You can leave a message after the tone and I’ll call you as soon as possible.”

Diikuti isak Joan yang mendesak ruang.

Note:

  1. Dibuang sayang HAHAHA.
  2. Kebiasaan banget ya aku, nulis endingnya dulu, bukannya dari mana mereka ketemu pffft. Kalo punya waktu + mood bakal nulis Dylan Joan deh.
  3. Kalo enggak, seenggaknya kalian tau Joan Dylan putus karena Dylan meninggal. Somehow ini—dan lain hal—bakal disinggung di hubungan Joan Chanyeol. Kalo aku rajin nulis sih LOL.
Advertisements

21 thoughts on “Voicemail

  1. uwoooooo jadi ceritanya Dylan ini pacar Joan sebelum Chanyeol?! OMG T.T kamu wajib bikin cerita yg lebih panjang lagi Sher. Gimana Joan yg di sini keliatan ga bs move on dan cinta mati bgt sama Dylan kok mau aja sama Chanyeol yg jelas2 udh punya pacar sebut saja GUE -_-

    Bikin ya Sher! kudoain kamu semangat terus nulisnya, sehat terus, lancar segala2x biar punya waktu buat nulis XD hehe

    • Gitu deh kak hahaha. Interval waktu ini sama ketemuan Chanyeol lumayan lama kok (3 taun?). Hmmm, Chanyeol ceweknya banyak ya emang :”

      Amiiin, makasih kak ♥ semoga bisa nulis cepat ya :)

  2. Oh mai gad, ini dibilang ‘dibuang sayang’ ckckck Kak Sher, berarti disimpan sayangnya lebih cetar lagi dong. Yang dibuang sayang aja udah membahana gini xD

    Ih, parah! Berasa baca translated novel mutakhir nih kak #wkwkwk btw, ada scene selipan buat hera juga yaaa. saya suka <3

    • Ini tidak jelas, secara tiba-tiba pacarnya Joan meninggal, gak ada ujan gak ada badai LOL. Kalo disimpen sayang, udah aku buang Bin :”)

      Hahaha, enggaklah, aku masih remahan cookies. Aku pas nulis mentok mau masukin siapa, sekarang nyesel masukin Hera pffft. Makasih Bintan ♥

  3. Lah, kelewat lama yha sher aku baru baca sekarang HAHAHA (apasih)
    Masa lalu~ biarlah jadi masa lalu~ ((joget joget gajel)). Oh, sama sama ada mantan ternyata si kembar ini. Ada mantan yha. Tersungging, eh, tersinggung nih kl bahas mantan. Gadeng wkwk btw mantannya joan meninggal gara gara apa ya?

  4. The idea about the end of relationship because death do them apart—dan diungkapkan dengan bagaimana yang masih hidup semacam mencandu voicemail lantaran ingin mendengar suara mendiang—is nice. tanpa harus berpanjang-panjang isak tangis remuk redam porak poranda, fiksi ini cukup mengena.
    nice piece, sher :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s