A story by S. Sher & Siluetjuliet

Mia & Aufa || Sad, Psychology, slight Thriller || Ficlet || Photo © Sammi Martin

Written for Tata a.k.a. slovesw

Mia.

Bukan gadis remaja yang luar biasa, hanya seorang anak SMA tahun terakhir yang kesulitan juga menghadapi tugas pun ulangan-ulangan—tapi prestasinya cukup mengesankan.

Bukan pula seseorang yang hatinya bagai bulu putih halus tak bernoda, ia masih bisa marah atau cuai pada seseorang di saat tertentu.

Bukan juga seorang gadis yang kecantikannya mampu menarik minat semua orang, namun tetap saja ada seseorang yang atensinya berhasil ia miliki hampir setiap saat, namanya Aufa. Aufa itu nama lelaki, omong-omong.

Aufa bukanlah seorang superhero yang gemar memakai celana dalamnya di luar, bukan pula sosok yang selalu siaga kala Mia berteriak minta tolong. Aufa cuma pelajar SMU biasa—yang eksistensinya cukup dinantikan oleh Mia.

Pun begitu dini hari ini, Aufa kembali dinanti.

Kala jarum panjang dan pendek pada jam di atas nakas bertandang di angka yang sama—angka dua belas, saat itu juga genderang jantungnya bertalu.

Tadinya, ia ingin segera melipat tangan dan merapal seribu keinginan pada Yang Maha Kuasa di usianya yang baru bertambah. Namun, Mia menunda rutinitas sakral itu, demi menanti lampu notifikasi pada ponselnya berkelip.

Siapa tahu, Aufa jadi orang pertama yang memberinya ucapan selamat—selamat ulang tahun.

Keinginannya bisa dibilang tidak tahu diri, mengingat ketika Aufa ulang tahun ia memelihara gengsi yang kelewatan sampai menunda mengucapkan doanya pada sore hari—entah jadi orang yang ke berapa saat itu. Akan tetapi, kali ini, ia berangan-angan bahwa lelaki itu lupa pada kebodohannya, sehingga lelaki dengan warna layaknya kokoanya ingat dengan dirinya. Hanya saja ia tidak pernah tahu, jadi ia hanya bisa menunggu.

Ia membunuh waktu dengan berharap, dan bersamaan dengan itu harapan pun hatinya ikut terkikis; dadanya mulai sesak diikuti dengan air mata yang menumpuk terlalu banyak di ujung mata.

Empat digit penanda menit di ponselnya menampakkan angka 01:12 ketika ada bunyi yang membuatnya menoleh cepat. Bukan suara notifikasi masuk dari ponselnya, tapi sebuah padatan kecil yang membentur kaca jendela,  tungkainya melangkah sigap ke sisi kamar—sampai-sampai dirinya hampir terjatuh karena tersandung seprai—lalu tangannya mendorong jendela tersebut dan kepalanya melongok keluar. Kemudian, matanya mendapati Aufa yang berjarak dua lantai darinya berdiri di atas halaman rumah dengan kue besar dihias lilin-lilin berangka 16.

Happy birthday, Marissa.”

Vokal lelaki itu tidak besar, bahkan getarannya tidak pernah terdengar sampai telinga Mia, namun dari gerakan bibirnya, dari senyumnya yang mengembang, Mia tahu tidak ada jawaban lain. Ujung-ujung bibirnya ikut terangkat, lantas setelah mengucapkan kata tunggu ia segera lari membuka pintu, menuruni tangga, dan melangkah menuju halaman rumah.

“Mia?” Aufa langsung bertanya begitu si gadis masuk dalam jarak pandangnya.

“Ya?”

“Pakai black dress, jam segini?”

Mia bingung. Ia mengamati dirinya sendiri dan ia menjadi jauh lebih bingung lagi. Dress hitam dengan ujung renda selutunya membalut tubuh, ia tidak ingat, ia tidak tahu bagaimana dirinya sendiri mengenakan pakaian seperti itu. Dirinya juga tidak mengerti bagaimana matanya tidak bisa melihat bajunya, namun bisa melihat pisau yang berada di sisi kue.

“Mungkin, karena aku tahu kau akan datang.” Mia tak mau ambil pusing dengan terus memikirkan tentang mengapa dress hitam ini secara ajaib melekat di tubuhnya. Yang paling penting saat ini adalah merespon kehadiran Aufa beserta kue ulang tahun dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti menyanyikan lagu selamat ulang tahun, meniup lilin, dan berdoa di bawah gugusan bintang—misalnya.

“Bernyanyilah untukku, Aufa.” Gadis itu merajuk, berpolah layaknya bocah lima tahun yang menggemaskan.

Aufa tersenyum, lantas terbatuk dengan sengaja guna meregangkan pita suaranya. Kemudian, baritonnya lancar menyenandungkan lagu selamat ulang tahun yang Mia minta. Mia tersipu senang, membuat Aufa lega bahwa selama ini ia tak sia-sia menjadi anggota paduan suara, karena ia dapat meluluhkan hati Mia dengan tone suara rendah yang digaungkannya.

Usai senandung Aufa tamat, Mia lekas meniup lilin yang terpancang pada kue ulang tahunnya. Sejemang kemudian, ia berdoa cukup lama hingga membuat dahi Aufa berkerut heran. Meski demikian, Aufa enggan bertanya apa sebenarnya isi doa Mia hingga membuat gadis itu berdoa sedemikian khidmat.

Kemudian ketika kepalanya terangkat diikuti matanya yang menatap penuh tanya kepada Aufa, Mia berkata dengan nadanya yang merajuk, “Sekarang potong kue?”

Si lelaki membalas dengan gelengan kecil tapi seseorang di hadapannya tidak mengamati, tangan kecil itu keburu menyentuh pisau sepanjang 17 cm, dan Aufa terpaksa untuk menghentikan pergerakannya membelah kue dengan mengenggam lengan kecil itu lembut. Mata Mia kembali bersitatap dengan milik Aufa, bertanya-tanya dengan apa yang si lelaki lakukan saat ini; yang sekali lagi hanya membalas dengan gelengan singkat—bedanya, Mia menyadarinya.

“Pisau ini,”—ia melonggarkan cengkraman jemari si gadis pada gagang hitam pisau dengan tangan kanan dan memindahkan benda tersebut ke tangan kirinya—“Bukan untuk memotong kue—toh kuenya tidak ada—tapi untuk memotong jiwa-jiwamu menjadi jiwa yang utuh tanpa gangguan bayangan tidak jelas.”

Mia ingat. Mia ingat bagaimana ia melafalkan namanya sendiri di depan kaca, berkata bahwa namanya Mia, dan lelaki di balik punggungnya yang sedang menatap wajahnya dengan penuh kasih bernama Aufa. Mia juga sadar bagaimana ia sering lupa jika Aufa hanya beredar di sekitarnya, bukan di antara orang-orang; bagaimana ia mulai menukar mana yang menjadi khayalan untuk kesenangannya dengan kehidupan sehari-hari yang terasa hampa.

Orang lain bilang Mia sakit jiwa, padahal Mia hanya hilang arah. Tak dapat ditampik bahwa ekstistensi Aufa bagi Mia layaknya selimut yang menghangatkan, tapak menuju suaka, pula sebagai pelipur lara.

Sayangnya, definisi indah mengenai Aufa ditolak mentah-mentah oleh lingkungannya. Aufa tidak ada, itu kata mereka.

Mulanya, Mia tidak ingin percaya. Gadis itu begitu masif—kukuh mempertahankan keberadaan Aufa di sisinya.

Namun, masa ini tak lagi sama. Sejak ibu membawanya pada seorang paman yang ahli menghipnosis, serta menjejali lambungnya dengan puluhan kapsul dan pil—yang bahkan Mia sendiri tak tahu apa namanya—dalam sekejap dunia gadis itu berubah.

Eksistensi Aufa mulai kabur, membaur bersama partikel udara yang memenuhi semesta. Sentuhan Aufa tak lagi terasa hangat, suaranya pun tak lagi ramah berdendang di telinga.

Genap di usianya yang ke-enambelas, Mia harus meneguk pahitnya kenyataan bahwa: Aufa tidaklah nyata.

Ditubruknya iris jelaga Aufa yang selalu ia banggakan dengan menusukkan pisau dalam genggaman.

“Mia, kau kenapa?” alih-alih berdarah, manik Aufa malah memancarkan binar redup penug tanya. Tusukan barusan lewat begitu saja menembus udara.

“Maaf, tapi kumohon pergilah. Jangan datang lagi, Aufa.”

Seberkas senyum mengembang di bibir Aufa. Seolah paham akan kesungguhan sang gadis, ia melangkah pergi.

Mia tak pernah menyangka bahwa berpisah dengan Aufa rasanya akan sesakit ini. Jauh lebih perih dibanding merobek kulit arinya sendiri—hal yang pernah Mia lakukan sebelum Aufa datang.

Mia yang membuat Aufa datang dalam hidupnya, maka ia juga yang harus membuat Aufa pergi.

Setelah ini, ia harus siap menjalani hidup—tanpa eksistensi Aufa lagi.

End.


Paramnesia.

(n). a condition or phenomenon involving distorted memory or confusions of fact and fantasy, such as confabulation or déjà vu.

  

Note:

KakBec:

Happy Belated Birthday Tata… udah kesel belum Mia sama Aufa muncul lagi ke permukaan? Wkkwkwkwk…

SELAMAT TAMBAH JOMPO YA TETUA TERSAYANG… traktiran di A&W nya jangan lupa… maz handoko padaku:))

*kisskiss*

 

Mbak Sher:

HAPPY BORNDAY TATA YANG UDAH UMUR 16 TAHUN! (Tapi aku masih meragukan kamu lahir tahun berapa LOL). Mia Aufa harus tetap dilestarikan, karena mereka adalah satwa eksotis! Dan aku mau minta traktir tiket ke SBY aja please!

Laf, laf! Jan lupa tasnya yang di pohon di ambil ya :)

Advertisements

18 thoughts on “Paramnesia

  1. haaaaaa
    aku gak ngikutin miaufa tapi kok ternyata hubungan mereka itu seperti ini *shock *jadi keingetan drama its okay its love TT
    dan mia astaga dia kesepian banget di sini… udah ada aufa yg manis2in dia, eh ternyata cuman bayangan dia? bener2 kisah cinta yg gelap TT
    keren pokoknya, sher dan kak becca keep writing ya!

    • kyaaaa senpay liana kyaaa…….
      iya, mia kesepian gitu, maklum jomblo /kemudia ditampar yg punya OC/
      aufa emang gelap sih kulitnya, tapi ya gak segelap kisah cinta mereka, uhuk,
      pokoknya, senpay lia tteup yang paling kece :*
      maaciw udh mampir:))

  2. Percya atau enggak, aku pernah kepikiran plot kaya gini… tapi ga pernah bisa terealisasi karena otakku cetek ttg masalah psikologi kaya gini bahahhaha xD
    Tapi ini keceh looohh dari awal dibimbing ((dibimbing???)) Biar pembaca percaya kalau dua2nya manusia biasa. Eh pas udah di tengah sampe akhir malah twist unyu gitu ((apasih bahasanya, maaf :())
    Nemu bbrp typo tp ga masalah krn aku juga sering typo lol
    Udahlah pokoknya colab yang kece badai.. ficnya juga… keep writing!!!

    • HALOO kak(?) titayuu :))
      this is rebecca a.k.a siluetjuliet speaking^^
      belum afdol kayaknya kalo belum kenalan sama mbak titayu (yang pastinya juga sudah sangat senpay dalam dunia tulis menulis), salam kenaaal yaaa *salim*
      tbh, ini plot nya kita ngawur abis, nulis beberapa penggal paragraf terus lanjut hand to hand, terus begitu sampe ending. hingga plot twistnya ngaco bin mbulet begini. haha….
      typo bertebaran kak, secara bikinnya malem2 dan buru2 pula sebelum jam duabelas, cinderella aja kalah ((ini pembelaan)); lagian, typo is art kak… ((ini ngeles)) hihihihi…..
      makasih ya udah mampir, kaka titayu yang keceee~

      • Aduh kak rebecca aku belum berada di titik senpay huhuhu masih pendatang baru banget :))
        Btw salam kenaaall… panggil aja Tita, anak kelahiran 94 hehehe
        Pernah liat penname kakak di bts fanfik tapi belum sempet kenalan atau komen di ficmu *sungkem* :))

  3. HAI SENSEPAIANKU MAKASIH MAKASIH SO MUCH BARU BACA HA MAAFKAN HAHAHAHAAHHAHAHAHAAH

    gini, aku udah ngira kalo Mia-nya bakal ginI HAHAHAHAHAHAHHAHA OUT OF COMFORT ZONE LAH YA AKU SUKA AKHIRNYA. Terus si Aufa-nya…. Bhay fa bhay aku dah tak padamu lagi BHAY

    Ada typo satu… Kayanya. Lupa di mana HAHAHAHAHAHAHAH

    TERUS TERUS AKU MINTA MAAF BARU BACA HAHAHHAHAHAHAHAHAHA KUOTAKU ABIS GUYS ABIS INI CONNECT WIFI KELAS LOL sampe line pun baru kebcaa semua…. Huhu sayang sesenpaianku💟💟💟💟💟💟💟💞💞💝💞💗💖💚💖💛💔💛💔💛💔 tasnya udah diambil kok huhu makasih yaaa?!!!!!!!!!! LOve lOVE POKOKE WIS MWACH TASNYA UDAH DIAMBIL HAHAHAAHHAHAHAHAHAHAHAAHAHHAHYAYSENPAI BADHAY BUATKU MENNAGISH

  4. waaah aku baca author notenya, ternyata hadiah buat ulang tahun Tata kah? selamat ulang tahun Tataaaa, semoga apa yang diinginkan tercapai semua x) ini udah telat banget kali ya, aku baru baca juga ini fiksinya hihi.
    benernya ga terlalu ngikutin cerita tentang Mia-Aufa ini. tadi tertarik liat judulnya: Paramnesia. huwoo ini kaya bawa bawa kondisi tentang kejiwaan gitu hehe. awal baca masih kalem, tengah tengah mulai gak kalem. pas akhir akhir ternyataaa… aku kira ini Aufa kaya arwah gentayangan mau bawa Mia ikut ke ‘sana’, ternyata Aufa ini hasil dari pemikiran Mia. aku suka bagian yg kalimat Mia yg bawa Aufa, Mia juga yg harus nyuruh dia pergi gituuu. sukaa. hehe. keep writingggg!! x3
    P.S.: btw mau kenalan sama siluetjuliet dulu x) aku belum pernah baca cerita-ceritamu hihi, tapi sering liat di blog (dan aku lupa di mana, huhu maafkan. udah jarang blog-walking). salam kenal yaaah :D

    • Kata Tata, makasih kak ♥♥♥

      Mia – Aufa gak punya cerita pasti sih kak (?) abis yang punya (re: Tata) sudah menyelesaikan kisah mereka begitu saja :( Emang idenya gitu, terus kepikiran Pramnesia hahaha. Iya, gak tau ini juga tiba-tiba melenceng jadi dark, terus tulisan awalnya Kak Becca aku rusak LOL. Untung dia nulis bagian akhir lagi, jadi tulisan ini masih terselamatkan X))

      Makasih kaaak ♥

  5. Dulu sekali aku juga pernah punya “Aufa” tapii aku gak separah Mia sih, aku cepet2 menjauh sebelum “Aufa” semakin nyata… btw namanya,… Daniel

    Met Ultah hahaha salam kenal, ini bacaan layak banget —- Cuckoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s