I wonder whose arms would I run and fall into if I were drunk in a room with everyone I have ever loved. — Unknown

Photo © Behance || Note: Inspired by the quotes above I found on twitter.

Puluhan pasang kaki berdiri membentuk banyak lingkaran atau menari asal-asalan di atas lantai pub, membiarkan penat yang menjajaki lekukan otak mereka hilang sesaat. Dibalut dress silver selutut, aku tengah bersandar ke meja bar, mengguncang-guncangkan gelas berisi New Yorker—gelas kedelapanku malam ini. Pengelihatanku terkesan menumbuk cairan yang bergerak ke kanan dan kiri dalam lowball glass, faktanya, perhatianku tertuju pada seorang laki-laki di arah jam empat.

Wajahnya tirus pula garisnya tidak kasar, dihias dengan bibir kemerahan yang tipis, dan hidung mancung; cukup menarik. Ia mengenakan celana chinos dengan warna beige yang masih tak bernoda, lengan kaus flanelnya ia gulung sampai tepat di atas siku, dan energinya sedang mengalir untuk berbicara dengan ketiga temannya. Kata banyak orang ia punya wibawa kelewat mengesankan, dan, oh, betapa aku baru sadar mengenai hal itu ketika menilik bahasa tubuhnya malam ini—betapa ia tidak pantas untuk diabaikan.

Kemudian aku segera menimang persentase keberhasilan ia akan tetap tinggal mendengarkan pengakuanku tentang seberapa tampan, mengesankan, menarik, dan semua tentang keagungan dirinya. Sepuluh persen? Tidak-tidak, ia tidak akan menolak wanita macam diriku, suaraku—bahkan keberadaanku saja—akan membuatnya tinggal. Lalu tubuhku bergerak memecah sejumlah lingkaran gosip tanpa keraguan demi mencapai tubuhnya.

Gelas dalam genggamanku menghantam meja bar cukup keras, memaksa spinalnya untuk segera memutar tubuh sekaligus mencari manusia mana yang melakukan hal tadi. Lengannnya hampir menabrak dadaku ketika ia telah berbalik; beruntunglah ia bisa mengontrol saraf-sarafnya sekejap. Sorot netranya berubah nyalang mendapati spasi antara kami hanya terpaut dua meter dan ia gagal mengeluarkan protes tentang spasi ini lantaran jari telunjukku sudah menudingnya.

Once,” ujarku sebagai pemula sementara tubuhku mengayun perlahan—keseimbangan tubuhku mulai rusak. “My friend ask me, whose arm I would fall into if I were drunk?

Cairan cocktail kemerahan Bourbon menciprati ujung lengan kemejanya, sementara gelas kecil dalam genggamanku menggelinding di atas kaca meja bar lantas jatuh ke lantai—dari suaranya sih tidak pecah. Sedangkan aku? Limbung menubruk dada lelaki itu. Vokalnya mengeluarkan volum kecil yang bernada kaget pun tungkainya mundur ke belakang beberapa centi, untungnya si lelaki dengan sigap melingkarkan lengannya pada pinggangku sekaligus menjaga keseimbangan tubuh.

Maaf saja untuknya jika mungkin sabtu malam ini rusak dengan sikapku, maaf saja jika malamnya yang bisa berakhir dengan lawakan konyol kedua temannya malah berakhir untuk menopang seorang gadis mabuk yang tengah meracau. Sayangnya, aku sudah kepalang mabuk sampai-sampai cuman memiliki satu pemikiran; mengatakan semuanya.

And it’s yours, Luke, the arms that I choose to fall.”

Dua pasang pupil milik temannya yang sedari tadi bertanya-tanya maksud tujuanku ke sini, kini memusatkan fokus pada koordinat lain sembari memberi ruang yang lebih luas dengan kami; sadar bahwa apa yang mau aku bicarakan butuh ruang privasi.

Untuk lelaki di hadapanku sendiri… ia mengenalku, aku mengenalnya. Aku tidak sesembrono itu untuk membuang waktu seseorang sembarangan karena walaupun kadar alkohol berhasil melumpuhkan sebagian kewarasanku, aku tidak sepenuhnya hilang akal; aku tidak akan bertindak gila atau menggoda seorang pria asing, aku melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan ketika memiliki urat malu—contohnya, menjawab langsung pertanyaan temanku.

It always feels safer in your arms over any other arms out there.”

Pandangku bertemu dengan iris yang tampak sewarna jelaga di keremangan ruangan, tapi kala ada sedikit cahaya yang menyambangi, aku bisa melihat warna coklat karamel. Mata itu, bukan mata yang binarnya sering kutemui dan aku observasi beberapa minggu terakhir; mata itu, adalah mata yang pernah memperlambat pula mempercepat detak jantungku pada puluhan saat berbeda. Bukan mata milik kekasihku, tapi milik mantan terakhir.

Ia masih geming.

Lengannya tidak mendorongku menjauh atau apa, hanya lensanya yang bergerak mengamati setiap inchi kulit wajahku, mengukur seberapa mabuk aku dan apa yang harus ia lakukan dari tatap lensaku, berusaha keras untuk tidak ikut bertindak gila dengan cara mencium bibirku. Lengan itu memang sempat merapihkan posisi kakiku yang semula bengkok, tapi jemarinya belum minggat dari pinggangku, masih takut-takut jika aku akan limbung lantas malah menghirup aroma parfum Calvin Klein yang melilit lehernya—mungkin.

In my dictionary,” ujarku kembali membuka suara sembari menjatuhkan berat tubuh pada dirinya, “you’re the one that I love and I will always love.”

Kala ini bibirnya melengkung, reaksinya muncul. Suara itu dekat, sangat dekat dengan cuping telingaku, hingga sebagian helai rambut di ujung pelipisku mengayun terkena getarannya, “And in my dictionary, you’re just the same.”

Tadi adalah kalimat pertama dan terakhir yang sempat ia vokalkan, sebelum lengannya melepas penjagaan dan tubuhku ditarik paksa ke sisi seseorang, Dariusz, kekasihku. Ada tak ingin pergi menjauh dari rengkuhan Lukas ketika rangkaian katanya berhasil kumaknai, namun aku tidak bisa menguasai diri untuk menolak tarikan paksa—yang jujur cukup menyakitkan ini—kesadaran diriku terlalu rendah, maka tungkaiku hanya bisa kuseret paksa tak jauh dari milik Dariusz.

Ia menggerutu, tidak jelas, bisa jadi soal aku yang mabuk atau tentang Lukas yang—menurutnya—tidak tahu batasan. Baru beberapa meter aku melangkah, kali ini lengan kekasihkulah yang ditarik secara paksa, dan kami berdua langsung memutar tubuh hampir seketika. Berbanding terbalik soal kepalaku yang pening; kesadaran tentang pengakuanku barusan, emosi Dariusz yang terasa, pun presensi Lukas di hadapan kami saat ini tidak bisa dienyahkan begitu saja. Apalagi ketika bariton mantan kekasihku kembali menyergap rungu. “You need to watch her more carefully.”

Percikan amarah yang terlukis pada mata Dariusz, sekaligus sebuah kepedulian tulus yang turut mengiringi kalimat tersebut di netra Lukas terlihat begitu jelas sampai pelupukku sendiri diisi oleh setitik air mata yang entah dari mana hadirnya.

Note:

  1. Masih gak puas sama ini bahkan sampai di detik aku post, entah.
  2. Aku buat ini dari ending (kebiasaan), dan ini make third point of view, awal-awal masih okay, lah pas nulis tengahnya tiba tiba aku-aku aja, jadi bimbang deh LOL.
  3. Terus aku pas nulis di beberapa bagian emang agak ngasal, soalnya dia mabuk ini (!?)
  4. Lowball glass itu kecil, jadi kalo kalian sempet mikir dia minum delapan gelas besar, gak gitu kok hahaha.
  5. Aku suka sama nama Lukas with K not C, bagus aja, ganteng (?).
  6. Ini adalah tulisan terakhir dariku. Tulisan terakhir… sebelum UAS HAHAHA. Udah ilang lama, dan aku rasa perlu say goodbye dulu.
Advertisements

28 thoughts on “The Arms She Chooses To Fall

  1. Ternyata saling kenal toh, lha aku mikirnya udah gini dulu : weh, baru aja liat langsung sat set sat set ditubruk XD Iya, sebelum nemu kalimat ini : Untuk lelaki di hadapanku sendiri… ia mengenalku, aku mengenalnya. Aku kira mereka belum kenalan, terus semacam stranger gitu HAHAHA ternyata bukan ya

    Tulisan yang aku baca akhir-akhir ini banyak yang gloomy sad gitu deh, gatau kenapa dan itu semua berhasil bikin greget salah satunya punya kakak yang ini beuh, tentang mantan terakhir ya? Mana sang mantan KEREN GILAAA! SINI MZ SAMA AKU AJA HEU :((

    Di sini aku nemu banyak quotes tentang percintaan(?) loh kak, hacep semua hehe❤ Keep writing!

    • Kalo dari quotesnya saling kenal kok, tapi emang sengaja aku buat rancu gitu pas nulis hahaha. Aku pikir udah ketauan pas dia manggil “Luke” ternyata enggak ya LOL.

      Kalo kamu ke tempatku ya isinya gloomy sad doang :” aku mah gak bisa nulis yang fluffnya macem gulali. Padahal ini mantan cuman meluk cewek orang kenapa jadi keren HAHAHA.

      Quotes apa sih? Kayaknya gak ada yang bisa dijadiin quotes LOL. Makasih bi ♥

  2. Aaaaa kak sher. aku selalu pengen bisa nulis kayak gini, maksudnya berlatarkan di pub dan semacamnya terus deskripsiin gimana kacaunya dan mabuknya seseorang. btw, aku suka quotenya! ;-;

    tadi agak terkecoh gitu, waktu si cewek datengin Lukas kirain mereka nggak saling kenal. terus aku keinget sama quote-nya, “…everyone i have ever loved.” terus aku mikir, berarti mereka harusnya kenal. tapi kenapa kok kayaknya nggak kenal?!?!?! terus baru waktu sampe “…ia mengenalku, aku mengenalnya.” baru ngeh.

    maafkan aku yang malah ngeracau nggak jelas hee. pokoknya ini bagus banget aaaa. apalagi endingnya. kerasa banget gitu sad-nya. kenapa mereka putus sih?!?!?!

    p.s aku jadi suka Lukas pake K LOL
    p.p.s kak sher baru mau uas? padahal aku uasku udah mau selesai ((terus kenapa))

    • Coba aja nulis, kalo dicoba pasti jadi juga kok ;) Nulis orang mabuk yang penting bebas aja, mau ngomong gak jelas juga selaw HAHAHA.

      Iya emang sengaja dibuat rancu gitu, kan aku suka yang ambigu-ambigu (?) LOL. Aku pikir ketauannya malah pas dia ngomong, “And it’s yours,…” ternyata pas bagian itu baru pada sadar ya hmmm.

      Santai aja kok, makasih Shia ♥. Aku juga gak tau kenapa putus :( hahaha.

      P.S
      Ganteng make K kan?

      Kalo anak kuliah uasnya pertengahan desember gitu huft.

      P.P.S
      blogmu diapus? Atau ganti??? Kok aku gak bisa buka :(

      • iya deh ntar aku coba nulis ehe he he

        btw aku pengen tau cerita dari sisi lukas ah :( (((modus))) (((abaikan aja)))

        p.s oalah kak sher udah kuliah ya aku lupa he maaf deh

        p.p.s iya aku ganti address nya he he he di profile gravatar ada kok

  3. parah, aku baca ini pagi pagi sambil makan ketan pedes terus aku baper :((
    no apaan. ini sampah dari mananya coba -_- kamu mah ih lagi gabisa nulis aja tulisannya ini gimana pas lagi mood banget nulis huhu aku gemes. oiya despite kamu nulis asal-asalan di beberapa tempat bagi aku its olrait kok. haha. she’s drunk, remember? jadi makin kerasa aja gitu, dunianya muter muter ke sana-sini sampe akhirnya jatuh ke tangan mantan. eaeaeaaaa. dan di pikiranku, Lukas ini is really a gentleman. TERUS AKU BAPER PAS DIA BILANG KE DARIUSZ TO WATCH HER MORE CAREFULLY. ah sudahlah Sher, aku pagi pagi gini udah baper :((
    oiya, aku baru inget kamu seangkatan yaaa sama adek aku. lagi UAS. semangat yaaaah. didoakeun sama aku supaya sukseees hihi. me love youuu<3

    • Sepertinya ketan pedes bikin tambah baper :( apa baper bikin tambah pedes? (!?)

      Aku serius merasa beberapa kalimat ke kalimat lainnya itu, berasa ada yang kurang, kurang pehubung, jadi aneh huft. Iyasih, aku juga gak ngedit bagian dia ngomong gak jelas soalnya kalo jadi jelas, malah kesannya gak mabuk…

      Terus aku bingung kenapa pada baper sama Lukas XD Karena masih sayang tapi terpaksa jadi mantan ya gitu kak LOL.

      Adek kakak baru masuk kuliah juga? XD Makasih kak ♥♡💝

  4. ini nggak fail kok! bagus banget sher aku suka penggambaran scenenya dan ya Tuhan Lukas itu sweet banget! XDD seWB2nya kamu aliran cerita dan dialognya tetep menarik (apalagi aku memang suka tema mantan terindah *apa)
    tapi memang ada beberapa typo sih hehe, dikoreksi sekali lagi aja
    keep writing sher!

    • Lukas hanya meluk anak orang kok kak, sama peduli sama mantan aja LOL. Aku juga suka tema mantan terindah HAHAHA, ex-almost sih tapi lebih ngena xD

      Iya kak, nanti aku check lagi. Makasih udah ngingetin dan datang ♥

  5. Atulah kalau tulisanmu sampah, berarti tulisanku lebih parah dari sampah Sheerr..
    Ampun aku gak ngerti mau muji dari sudut mana lagi(?) dan kamu juga kayany bosen denger pujianku bahahaha ((gak))

    Awalnya kukira si lukas itu siapanya ‘aku’, sampe tetiba ada penjelasan kalau itu mantannya. Bahahaha kukira emang orang yg udah dia incer dari lama eh ujuk2 aja gitu caper minta kenalan pfft ((abaikan))

    Yah pokoknya bagus atulah.. Gak ada yg perlu dikoreksi selain beberapa typo hehehe
    Keep writing!! 😝😝

    • Apalah kak, tidak perlu merendah, tulisan kakak bagus :”)

      Akhirnya ada yang merasa si ‘aku’ kenal sama Lukas :”” Kalo dari lama diincer abis itu disamperin, kepikirannya manis terus aku gak bisa nulis manis LOL.

      Baru benerin typonya lagi hahaha. Makasih kak ♡♡

  6. HOLA SHER!! LAMA TAK JUMPA!!! Serius, ini gak banget aku bisa nyasar di fiksi yg macem gini. But, the title brought me here. Gatau kenapa tp judulnya asik gitu. Dan seperti biasa, kamu mah mau bilang nulisnya asal juga dibacanya tetep enak, enak banget malah hahaha andai gitu ya nyaliku sebesar dia, main nyamperin aja (APAAN NIH JADI CURCOL)(LUPAKAN BAGIAN INI)
    Yaampun sher, aku udah selesai UAS lo ((pamer)). See you later, GOOD LUCK!! Aku tunggu nih kamu balik lagi, sampe jamuran juga akunya gaapa kok hahahahaha

    • HAIII!

      Gak banget karena bikin baper ya? XP Judulnya asik dari bagian mana al… hahaha. Aku mah nulis apa atuh :”

      SAMPERIN LAH. HAHAHA. SAMPERIN BUAT DIA JADI GANTENG JUGA (?).

      Huhuhu :( sedih deh kayaknya semua orang liburan aku masih uas. Anyway, makasih al 💝

  7. oiya sampah ya? sampahhh? ini ASLI BAGUSSS BANGETTTT kapan sinhyo bisa nulis kek gini /drown in my own tears/ stuju sama komen diatas i dunno why but the tittle is sond very instresting dan yeah ceritanya juga INTRESTING BANGET bikin baper.. dan yeah, kuharap bisa nemuin cowo semanis lukass /aheyyyyy/
    “You need to watch her more carefully.” gataulahhhh sweet bangetttt aheyyyy minta dicivok silukass, nice fic kakkkk full of meaning, owh exactly quotes sukakkkk, semangat UASNYAAAA CIYE KITA BARENGAN btwey salken sinhyo imnida ^^

    • Aku lagi nulis ini revisi berkali-kali tapi tetep ada yang ganjel rasanya entah apa hahaha. Kapan aku bisa design graphic sebagus kamu :”)

      Karena? Aku biasanya mikir kalo judul kepanjangan malah aneh LOL. Kalo mau nemuin cowok semanis Lukas… pacaran, abis itu putus pas masih sayang hahahaha.

      Main quotesnya aku ngambil dari twitter btw hahaha, terus tulisanku apa yang dijadiin quotes…

      Oh ya? Kamy masih smp bukannya? Kok lama ya hahaha. Salam kenal juga :)

  8. hi sher.. ini tulisan pertamamu yang aku baca, dan kamu tadi bilang apa di note? sampah? sampah apanya coba? keren gini dibilang sampah. ini tulisan cantik banget!!
    kamu sukses bikin aku ikutan mabuk bacanya :D
    awalnya, aku kira mereka ngga saling kenal. dan langsung negative thinking “ngga kenal kok langsung gitu sih? huhu” eh, ternyata saling kenal, bahkan sempet menjalin cinta.. heuu~ mantan terindah. baper~ hoho

    btw, keep writing!! dan semoga sukses untuk UAS-nya!! ^^

    • Karena… aku ngerasa kalo diperhatiin perpindahan beberapa kalimat atau paragraf, rasanya aneh gitu, ada yang kurang :(

      Jangan mabuk lah kak, gak baik LOL. Hehehe, maaf ya, aku emang kalo nulis sukanya gitu x)

      Makasih kak, makasih banget ♥

  9. Oke, ini bingung mau komen apa. Baca tulisan kamu ini yah, kenapa aku jadi malu sih Haha. Wah, kapan bisa nulis sekeren ini. Detail deskripsi kamu itu yang bikin melongo. Masih ngasal aja udah cakep banget gini, apalagi kalo diseriusin. :D
    Oh ya, waktu nama Luke disebutin, aku malah keinget Luke Castellan-nya di Percy Jackson HAHA /iya tahu, ini nggak penting/ Tapi asli, nama Lukas itu emang ganteng :D
    Keep Writing~

    • Tulisanku mah apa, hanya remahan kukis yang kukisnya juga entah dimana (?), plus aku sesungguhnya jarang punya harapan buat nulis serius LOL. Dan gak usah malu kali, tulisan kamu juga bagus kok 👍👍

      AKHIRNYA MENEMUKAN LAGI YANG BILANG NAMA LUKAS GANTENG X) Aku belom baca PJ (sedih emang), tapi aku juga sering gitu, soalnya kalo nama barat biasanya itu-itu aja malah keinget orang lain LOL.

      Makasih pat :)

  10. YA AKU BARU BACA MAAFKAN HAHAHAHA

    Gapaham di bagian mana gapuasnya!? HA GAPAHAM. Tapi sama kaya lainnya sih kak. Aku nangkepnya mereka ini gasaling kenal juga (apa dasarnya aku lemot, blah) jadi aku bingung, lho kok tiba-tiba main tubruk-menubruk aja (?) ternyata mereka udah kenal :”) eu dasar lemot

    Ya, aku bisa ngomong apa sama masternya gloomy HE HE HE. Aku sukaaaa, sukaaa banget pas kak sher deskripsiin keadaan barnya, entah kenapa nggak pasaran (?) terus ceritanya mantan-memantan juga, apa-apaan ini (dilempar). TERUS LUKAS. KENAPA LUKAS. HAAAH LUKE-KU DICULIK, DIEMBAT!!!!!!!!!!!!!! HAHAHAHAHAHA TAI YHA AKU EMANG

    Oh, iya, mau koreksi aja (dikit, dikiiiit banget paling banyak yang nggak nyadar). Aku agak ngganjel di kalimat “Cairan cocktail kemerahan Bourbon menciprati…”, cmiiw ya, kak: bourbon itu masuknya whiskey kak, kalo cocktail itu lebih ke alkohol yang jenis campuran gitu (dan kalo diklasifikasiin kayanya kelasnya cocktail itu lebih ringan ketimbang bourbon), tapi ya aku kan gapernah (dan gabakal pernah) minum alkohol jadi yha…. Mana kutahu HEHEHEHE (terus abis ini ditonjok).

    Terus ada typo satu doang “sabtu malam” harusnya S-nya gede, lainnya pueeerfeect! ((Anyway, aku sempet berhenti sebentar di situ terus mikir, Kenapa kak sher nggak milih malam Minggu aja? LOL

    💓💓💓💓💓💓💓

    • Yaudah selow aja sih ta, aku juga belom baca tulisan terakhirmu he he he.

      Di…. BANYAK. Pas pindah kalimat aku rasanya aneh, ada yang kurang, penghubungnya ilang LOL. Iya emang sengaja disetting biar keliatan gak kenal dulu kok :”)

      LAH INI GAK ADA HUBUNGANNYA SAMA GLOOMY. Kayaknya bar gitu semua (?). Lah kenapa kalo mantan ta? Mengingat doi? HAHAHA. YEU LUKAS MU LUCAS WITH C, LAGIAN EMANG LUCAS MAU SAMA KAMU.

      Jadi… emang iya cocktail kan campuran, nah yang dia minum itu aku sebut di situ New Yorker. Borboun Whiskey itu campuran paling dominan New Yorker (lainnya paling cuman lime, gula, es, sama sirup gitu (lah ini aku jadi kayak mba-mba yang jaga bar)). Gitu deh ta hehehe.

      LAH SABTU MALEM SAMA MALEM MINGGU BEDA APA??? Milih bahasa sabtu malem soalnya si Lukas lagi jomblo (?). Makasih ta udah ngingetin!

      💋💋💋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s