Pintu lemariku terbuka, tidak sepenuhnya, cuma sebagian.

Photo © Mark Knobil

Akhir-akhir ini aku suka terbangun tengah malam atau dini hari, kadang jam dua belas, mungkin jam setengah satu, atau jam tiga. Setelahnya aku memang tidur lagi, tapi aku punya “penyakit” jika sudah bangun, jadi sulit tidur atau tidak nyenyak. Paginya, ketika berangkat sekolah, aku akan menguap berkali-kali juga berjalan secara tidak semangat—kemudian ibu bakal menuduhku bermain smartphone sampai larut pagi.

Dua minggu sudah waktu tidurku rusak, kantung mataku mulai kentara dan itu mengerikan, aku jadi harus membubuhkan concealer bahkan saat mau sekolah.  Rasa-rasanya ingin cerita ke ibu lantas minta diberikan pil tidur atau setidaknya pergi ke dokter, tapi nanti malah diceramahi kalau boleh saja aku hanya stress mengingat UAS yang makin dekat. Yasudah, aku berharap ini akan membaik, kalau sampai seminggu sebelum UAS semua makin kacau, nanti akan kususun rencana lebih lanjut untuk ke dokter.

Namun, ternyata, masalahnya baru tampak dua hari lalu.

Aku terbangun pukul dua pagi, mendapati leherku pegal karena salah posisi tidur, ternyata aku tertidur waktu membaca jawaban tugas kimia dari temanku. Segera saja kurapihkan buku-buku yang masih berserakan dan menaruhnya asal di atas laci meja.

Lalu, kala tungkaiku melangkah kembali menuju ranjang, aku sempat menoleh ke belakang, menuju deretan kaca setinggi tubuh, laci meja, lemari bajuku; rasanya ada yang ganjil di sana. Pupilku masih menilik setiap inchi dari bagian benda tersebut sampai aku memutuskan bahwa kesadaranku kurang untuk menilai keadaan.

Tubuhku sudah bertemu kasur ketika aku kembali memerhatikan tiga benda lagi; berakhir pada keputusan yang sama bahwa aku kurang pantas untuk mengevaluasi.

Di malam berikutnya, kelopak mataku terbuka pukul tiga dini hari—ya kurang beberapa menit. Badanku tidak pegal, namun rasanya suhu kamarku lebih rendah daripada biasa, agaknya sebab di luar gerimis pula aku masih memakai AC tanpa menaikkan suhu. Sekarang aku jadi kepingin pipis.

Telapak kakiku memintal langkah menuju kamar mandi di seberang kamarku, di antara selang waktu itu, ujung mataku sempat melihat lemari pakaianku terbuka sedikit—sepintas saja. Beberapa menit setelahnya dihabiskan oleh diriku di kamar mandi, lantas memandangi interior lorong lantai dua rumahku—tidak penting, aku hanya bosan. Lalu, di depan kamarkulah aku membeku.

Pintuku sudah terbuka sepenuhnya. Pintu lemariku terbuka, tidak sepenuhnya, cuma sebagian.

Di dalam lemari ada seorang anak laki-laki, berpakaian kaus hitam dan celana pendek, duduk bersila. Namanya Ray, anak tetanggaku yang meninggal sebulan lalu. Genggaman tanganku pada daun pintu melemah pula sekujur tubuhku rasanya merinding hingga seperti mau pingsan—tapi tidak pernah terlaksana. Ketika kepala anak lelaki yang tengah menatap kehampaan itu menoleh ke arahku, kutelan air liur lamban.

Matanya kosong—maksudku tidak secara harfiah lubang matanya tak berisi—tatapannya tidak bermakna, bahkan saat sorot itu berada di garis linear dengan milikku. Kami saling memandang selama beberapa detik, kemudian bibir itu melengkung terlalu lebar, terlalu berlebihan hingga ujungnya hampir menyentuh telinga. Aku mau menjerit, aku harusnya menjerit, namun aku menutup pintu kamarku cepat, lantas berlari menuruni tangga rumah dan sampai di ruang makan.

Napasku memburu. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa selamat sampai lantai satu rumahku tanpa tersandung tangga atau apa; tungkaiku saja rasanya tidak ada. Tanganku menuangkan air dari vacuum jug ke gelas di meja serampangan, airnya tumpah-tumpah—masa bodoh—lantas meminumnya juga secara serampangan.

Napasku masih berusaha kuatur ketika derit pintu menerjang hening. Kepalaku menoleh ke kiri atas pun aku bisa melihat sebuah bayang-bayang tengah bergerak menuju tangga. Seketika tungkaiku berlari menuju kamar kakakku di arah jam sebelas, mengetuk pintunya beberapa kali, lantas masuk tanpa menunggu persetujuan.

Kakak lelakiku memandangku sambil bertanya-tanya. Tapi ia tidak mengeluarkan pemikirannya begitu melihatku berjalan dengan keadaan gontai dan peluh turun bebas dari pelipis. Aku minta ditemani tidur. Pada hari biasa mungkin ia akan memaki diriku dan mengusirku tanpa belas asih, katanya, kami sudah dewasa. Akan tetapi, menyadari intonasiku yang desperate, ia turun dari ranjang tingkat duanya, lantas menarik kasur bagian bawahnya pun menyuruhku tidur di kasur atas. Perlahan aku merangkak naik.

“Sakit?” tanya kakakku.

Kepalaku menggeleng lemah.

“Yaudah tidur aja, mumpung hari sabtu, bisa bangun siang.”

Aku mengangguk.

Lima menit kemudian lelaki yang berbeda dua tahun dariku itu sudah tertidur pulas, ada sedikit rasa bersalah lantaran tahu ia baru kembali pukul sebelas malam dan akan pergi lagi pukul delapan nanti. Hanya saja, ketika pintu kamar ini mengayun sangat lambat, rasa itu sedikit hilang ditelan atmosfer mencekam.

Ia berdiri di depan pintu kamar kakakku, menatap tepat netraku. Pupil pula iris matanya kini tampak sewarna bola matanya, tidak ada lingkaran hitam atau hias warna apapun lagi di sana, cuman putih. Bibirnya yang tadi tersenyum lebar sudah robek—berdarah di beberapa bagian—dan tulang hidungnya bengkok ke kanan. Tangannya… lengannya tinggal satu, lainnya terpotong tidak rapih dan itu secara harfiah, tangan yang tidak menggenggam daun pintu seperti baru digergaji—terlihat dari cairan merah yang mengotori lantai. (Barulah aku mengerti alasan ia menjalani pemakaman dengan closed-casket1)

Aku tidak mengerti kenapa aku geming, tidak mampu menolehkan kepala atau memanggil lantang nama kakakku, memejamkan mata pun aku tak mampu.

Otakku harus memproses citra ia tertawa dengan bibirnya rusaknya, tidak bersuara, namun seperti orang yang tertawa sangat puas. Beberapa detik kemudian berhenti tiba-tiba pun memandangku tajam. Satu detik berikutnya menggerakkan kepala ke kanan juga ke kiri, lantas tertawa lagi. Di beberapa waktu menggaruk-garuk kepala, diikuti oleh tercabut rambutnya dan noda darah di kepala. Tertawa lagi.

Agaknya seperempat jam sudah berlalu—rasanya bagai ribuan hari—ketika akhirnya ia mendekatkan jari ke bibir dan menutup pintu kamar kakakku. Aku mendengarkan langkahnya yang berjalan menjauh, bersama tawa yang kali ini terdengar; bahagia, sangat bahagia. Kemudian lenyap dalam mili sekon, ditelan pusaran tak kasat mata.

Aku memejamkan mata lama sambil berdoa berkali-kali. Merasa jika seandainya aku menderita darah tinggi, mungkin besok aku dinyatakan mati karena serangan jantung. Mataku terbuka, menemukan pintu masih tertutup rapat juga suara napas kakakku, dan aku sungguh bersyukur hanya itu yang aku dapatkan.

Aku melirik jam digital di meja kakakku, 3:28 AM. Sebentar lagi ayah akan bangun dan aku bisa mencari keamanan darinya.

end.

  1. Pemakaman di mana peti matinya tidak dibuka, dikarenakan kondisi mayat yang kurang pantas untuk dilihat publik, culture daerah, dan/atau pilihan dari keluarga.

 

Note:

  1. I’m officially done with my UAS. I changed my gravatar (namanya Grace Hartzel kalo ada yang kepo hahaha) and wordpress theme X)) ((Bakal ngadain polling mungkin minggu depan (!?)))
  2. So, this is my first time writing horror (yang gak ditwist jadi komedi gagal), maaf kalo gak serem (takut gak bisa tidur sendiri soalnya).
  3. W gak tau itu deskripsi bocahnya, asal-asalan karena tidak ingin membayangkan. Unbetaed bagian dia btw LOL.
  4. Terus aku kesel sendiri kenapa bisa bawa—sok—santai kalo nulis psycho atau horror, tapi enggak pas yang lain.
  5. Sengaja banget ngeschedule jam 11:00 kok, tadinya mau jam 3:28 malah LOL.
  6. GAK TAU UDAH BERAPA KALI MAKE COVER GAMBAR KASUR HAHAHA.
Advertisements

25 thoughts on “She Couldn’t Sleep

  1. SHEEER INI SEREM BANGET AKU MANA BACA PAS MALEM LAGI GIMANA INI POSISI TIDURKU DEKET PINTU LEMARI

    aku skip beberapa desc soal si hantu soalnya serem banget tapi ugh tetep aja aku merinding heol

    daebaque! keep writing ya!

  2. KA SHER PLS NO MORE HORROR NO MORE IN THE MIDDLE OF THE NIGHT NO MOREEEE
    Aku merinding. Bye. Aku skip2 bagian dia udah di kamar kakaknya dan si bocah itu muncul. Santai sih santai, oke, tapi kerasa banget lah merindingnya. Ah. Kezel kenapa aku nekat baca kukira gabakal seserem itu. Ah kesel. Ka sher no more pls (((no more))) (maksa) LOL

    Tapi, ini bagus kok as always. Keep writing!

    • Hahaha ((malah ngetawain orang)), harusnya pas baca genre horror kamu close aja, baca siang ini ;) ((kemudian aku direbus)).

      No more gak ya? Aku gak suka bikin horror sebenernya, cuman untuk memenuhi prompt aja, jadi tergantung apa yg kepikiran dari prompt ✌✌ Coba baca deskripsi dia lagi pas siang HAHAHA, serius aku nulis sekali, beta sekali, gak berniat beta lagi…

      Makasih shia ♥

  3. Aku tadi malam udah liat kalo kak Sher ngeposting fiksi, dan baru liat genre aku gasanggup baca dan milih baca sekaranggg. Oh untung td malem gajadi baca, kalo iya mah w mana bisa tidur ;;;

  4. ANJEER UNTUNG BACANYA PAGI2!! :((
    Ini ga gagal kok sher enggak! Aku suka deskripsinya bikin merinding parah. Aku aja bikin horor gagal mulu hahaha ((udah berapa kali aku bilang begini? Pft))

    Atuh aku juga takut sama lemari di depan pintu kamarku. Lemari kayu udah lama, gede, tapi pintunya suka kebuka sendiri terus suka bunyi ‘nyiiiittt’ gitu… aku juga selalu ngelirik lemari itu kalo tau2 sesuatu lagi ngeliatin. Trs kalo mau buka lemari itu tuh kadang suka deg2an sendiri, jadi slalu pengin buru2 tutup klo udah ambil baju hah malah curhat :(

    Ini serem banget tapi nagih(?) Kukira kamu mau kasih twist yg lebih mengejutkan kaya misal si kakaknya tiba2 jadi anak kecil itu, tp nyatanya enggak. Sukurlah xD

    Yah pokoknya keep writing sher!

    • Aku ngerasa deskripsinya gak mendetail kayak biasa gitu kak hahaha. Enggak kali kak, kakak aja yang merasa gitu.

      Aku gak suka banget sama apapun yang bunyinya nyiiiittt gitu, rese kalo tiba-tiba ada angin, malah jadi kaget sendiri. Minta beli baru aja kak lemarinya :((( ((semena-mena)). Kok pintunya suka kebuka sih…

      Kalo horror emang suka gitu, nagih, tapi nanti jadi takut sendiri LOL. Aku mau memastikan ini endingnya selamat jadi ya biarkan anaknya pergi :”

      Makasih kak :)

  5. Sher, kamu nyebelin.
    Untung aku bacanya pagi…
    Tapi ga untung juga sih, tetanggaku baru aja meninggal sialnya, asheemmm…..
    Deskripsimu nyebelin bgt, bikin merinding disko uuuuhhh…..
    Lalu, aku musti gimanaa?

  6. Untunglah aku sedang tidak dalam masa paranoid dengan kisah kisah horor bhak/dibuang sher/itu kok aku ikutan ngekek bahagia baca si dedek ngekek (?)/mak/masa biasanya kalau ada yang maen (?) alih-alih kedinginan aku malah kepanasan coba sher XD e kecuali pada beberapa kasus tertentu ding

    ada typo sher~~

    • Aku kalo baca/nonton horror tuh malah takut gara-gara keinget hantu yang jaman dulu ditonton… Maippo psycho gini nih makanya malah seneng LOL

      Di mananya kak? :” ((edisi gak mau baca cerita horror sendiri))

      • Baca ulang aja sher, baca ulang dan kamu aka menemukannya di sini dan di sana :”), kalau nonton teh pas berani sher XD pas gak ada yang ‘ngikutin’ apa ‘iseng’ jadi gak kebayang-bayang wkwkwkkw

  7. HAHAHAHA SHEEER AKU NGAKAK BACA NOTESMU YANG SOAL PAKE GAMBAR KASUR xD oke excuse the capslock aku cuma terlalu girang. Tapi emang kalo kamu udah masang gambar kasur pasti sebagian besar ceritanya merembet ke gloomy, sad, yang putus asa banget. Dan aku selalu suka kalo genre ini udah kamu yang bawa. Duh i love you for writing this kind of genre deh sher. Jarang aku nemuin writer yang kayak pro banget nulis sad genre gini x)) oke fangirlingannya udahan dulu hahah bakal panjang nih kalo diterusin xD

    Beneran lah kaga kebayang kukira si Aku liat hantu bukan yang gimana, eh taunya dia liat penampakan anak tetangganya huhu. Untung aku lagi di kampung halaman (eaeaea) terus di sini kalo malem ga sepi-sepi amat heuheu. Aseli pas si Aku tetiba udah nyampe ruang makan, aku udah ati-ati kalo misal bakal ada kejar-kejaran di sana. Entah si hantu ngegantun di kipas angin ato apa lah. Alhamdulillah xD but but kakaknya baik sekaliiiiii heuheu untunglah si kakak engga ngusir terus yang: apa sih apa sih malem-malem hahahaha. Ah yaampun sudahlah pokoknya aku suka cerita kamu. Suka suka suka sampe 100000000 kali.

    Oiya btw kamu pake tema apa kah? Aku suka. Putih, rapi, terus bersih gitu keliatannya. Aku lagi galaw nyari tema wp niiih bosen gitu sama yang lama hahahaha. Makanya lagi jelajahin wp orang-orang nyari inspirasi (elah tema wp doang yak padahal xD) terus di sini bagus juga pula bisa masukin quotes orang heuheu. Okeh okeh sher daripada aku ngomong geje mari kita sudahi dulu. Keep writing yaaa!!😊😊😊😊

    • Aku tuh make gambar kasur kalo udah mentok (lah tapi mentok terus akhir-akhir ini), sampai ke Flickr aja tidak menyediakan foto lemari baju yang cocok jadi cover :( cukup kak, aku ini lama-lama gak napak tanah, padahal yang bisa genre gloomy atau sad banyak pasti :”

      Hahaha, aku bingung banget mau bikin hantu gimana, gak suka sama horror. Yang penting emang keramaian ya biar gak serem sendiri :”) Tadinya mau tiba-tiba di bawah kolong meja makan, tapi gak jadi deh, abis bingung. HAHAHA, kasian kalo kakaknya ngusir gitu dari kamar terus kabar Aku bagaimana LOL.

      Aku make Canape kak, ini emang clean gitu bacanya enak. Aku juga kalo nyari inspirasi liat tema-tema orang, tapi berakhir sama tema yang belom dipilih orang hahaha. Tapi masih galau mau make ini apa Harmonic (yang kemaren, abis kayaknya aku identik sama tema itu LOL). Kalo nyari tema aku mau bantu kak hehehe.

      Makasih kak :) 💝

  8. Dear Sher,
    Pertama, aku nggak terlalu suka baca cerita horor tapi entah kenapa aku suka baca cerita ini.
    Kedua, kamu nulis cerita bergenre horor, tetapi enggak terkesan seperti cerita horor biasa. Ada sesuatu yang beda (dan meski horor begini, tetap ada informasi baru yang ditawarkan).
    Ketiga, aku suka tema barunya. Canape, ya? Lebih bersih, walaupun yang sebelumnya juga bagus.
    Keempat, are you INTP? (Huahaha, nggak nyambung banget ya? :D Just wondering)

    Sekian dan terima kasih :)

    • Halo kak :)

      Ini emang gak horror-horror banget mungkin kak, karena akunya gak terlalu suka genre itu juga X) Terus yang beda… aku gak tau juga sih kak hahaha.

      Iya, aku masih bingung mau make Canape atau Harmonic (yang sebelumnya) hehehe.

      HAHAHA kok kakak bisa tau aku INTP? Ini empat-empatnya bener soalnya, jadi penasaran.

      • Aku belum bisa nebak tipe MBTI orang secara persis, sih, tetapi dari beberapa informasi di ‘about’ juga genre cerita-ceritamu kok sepertinya ada yang cocok sama aku ya? Hahaha, tapi alasan utamanya sih aku pernah browsing salah satu blog dan salah satu komenmu di sana menyatakan bahwa kamu adalah INTP *duh, aku tahu ini payah banget, sorry*.
        Jadi, apa yang aku lakukan sekarang hanya mengkonfirmasi dan … aku senang ketemu sesama INTP di dunia perfiksian :D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s