Mungkin setelah ini Hera bakal mengganti definisi “Aktivitas Dominic paling sexy”.

Photo © Archilovers

London, England.
Spring, 2011
09:04 AM

 

Ruangan itu didominasi warna coklat dan putih lantaran hampir semua furniturnya disusun dari kayu; lantai kayu dan tembok batanya dicat coklat muda, meja kayunya ditemani kursi berbahan sama dengan warna putih, sementara counter pada tengah ruangan dihias kedua warna dominan; pengecualian pada dapur yang berwarna hitam namun dalamnya tetap putih, dan tentu display roti yang berlapis kaca. Toko tersebut masih sepi, hanya ada sejumlah pegawai dalam dapur, seorang lelaki, dan perempuan yang tengah memintal langkah. Mereka masuk melalui pintu utama, lantas melewati belasan meja dan kursi yang baru beres disusun, melangkah menuju pintu lain di ujung kanan ruang.

Hera menghentikan gerak tungkainya sambil bertanya-tanya pula memaki dalam hati, apa tujuan Dominic menggiringnya ke dapur café sekaligus bakery untuk staff alih-alih menyiapkannya sebuah meja untuk makan?

“Kenapa berhenti?” Jemari Dominic menaut daun pintu erat yang pintunya sudah terbuka seluruhnya. Mereka saling berhadap-hadapan, Hera di bilik restoran sementara Dominic tengah menapak kaki di dapur—dan seluruh pegawai di ruangan tersebut menatap mereka berdua bingung.

“Aku pikir kamu mengajakku makan,” jawab Hera sarat sarkasme.

“Ya, memang.” Sekarang pintu itu diganjal oleh kursi kayu agar tidak mengayun—dan bisa-bisa menyebabkan memar di pelipis si gadis. “Kamu tahu ini jam 9 pagi? Semua roti masih diproses karena kami buka jam 10. Sekarang aku mau membuatkan sesuatu untukmu.”

“Kamu? Membuat roti? Memangnya bisa?”

“Aku pemilik toko ini, ingat?”

Gadis berpakaian semi-formal itu melipat kedua tangan di depan dada seraya membagi pandang penuh keraguan. “Well, kamu sebagai pengurus keuangannya, pengambil penghasilan—ya mari kita persingkat sebagai boss.”

“Oh ayolah!” Kali ini Dominic tergelak, membuatnya hampir jatuh karena tersandung kursi dan gagal menjaga keseimbangan tubuh, orang-orang berpakaian putih langsung memasang raut kaget atau khawatir—untung jemari si lelaki menggenggam erat daun pintu. Hera hanya bisa menghela napas lelah melihat ketololan Dominic, sementara si lelaki kini mengusap sudut matanya yang basah oleh setitik air mata.

“Biar kuantar saja dirimu ke meja kita, Lady.” Ia segera memutar tubuh Hera, membangun jarak antara dirinya dan pintu dapur, pun mendekatkannya ke meja di sudut ruang—yang sejatinya tidak jauh-jauh dari tempat mereka tadi berdiri. “Sementara menunggu rotimu aku akan membawa minum,” ucapnya lalu berjalan menjauh sambil terkikik kembali, mengingat kemampuan memanggangnya diragukan.

Lima detik Dominic meninggalkan Hera, selama lima detik pula si gadis masih memasang tampang kesal serasa habis dikerjai, untungnya si lelaki segera membawa segelas jus jeruk diiringi dua kata, “Just wait.” Kemudian membiarkan Hera bersama jeruk, vas berisi bunga lili, juga majalah fashion entah edisi kapan, sementara Dominic berjalan ke dapur, mengambil apron, dan memakainya tanpa kesulitan.

“Ssst.” Dominic menempelkan jari telunjuknya dengan bibir sebelum pintu kayu di hadapan Hera tertutup. Gadis itu cuman melempar tatap apa-sih-maunya pada kayu coklat yang sungguh tidak memiliki salah.

Sejenak lelaki itu hilang dari jarak pandang Hera, namun beberapa detik kemudian ia sudah bisa dilihat di antara kerumunan orang-orang berseragam putih—oh, sungguh mencolok. Gadis beriris abu-abu tersebut bisa mengobservasi Dominic dari sekat kaca yang tembus pandang, mengawasi pekerjaan kerumunan manusia di dalamnya walaupun agak kabur.

Kemeja merah marun bergaris-garis hitam Dominic sekarang digulung sampai siku—takut ternoda tepung agaknya—dan memerlihatkan urat-uratnya yang menonjol setiap kali tangan itu mengaduk, menggiling adonan, atau menggelindingkannya ke sana ke mari—ya apalah, Hera lupa namanya. Rambutnya yang agak panjang setelah cukup lama mulai berjatuhan menghalangi lensa mata, beberapa kali ia harus mengayunkan kepalanya ke belakang agar rambut itu kembali ke posisinya, tapi caranya mampu membuat Hera menggigit bibir. (Mungkin setelah ini ia bakal mengganti definisi “Aktivitas Dominic paling sexy” dari mengeringkan tubuh sehabis berenang menjadi membuat roti di tokonya.)

Kadang, beberapa orang menghampiri Dominic dan berbicara sebentar, entah tentang apa; pada sejumlah waktu mereka menilik wajah Hera, lantas Dominic juga pegawainya membagi senyum sembari melirik si gadis. Dari luar Hera akan bertanya apa pembicaraan yang tadi melibatkan dirinya, dan si lelaki dengan senyum penuh rahasia menjawab tanpa suara, “You don’t need to know.

Dan hampir setiap kali Dominic mengangkat kepala dari adonannya untuk menemukan perhatian Hera, ia bakal mengedipkan sebelah matanya ditambah mengucapkan, “Wait.” Memotong adonan menjadi sekian bagian, menoleh, ia mengedip; mengambil kaviar, melempar dan memakannya, mengamati Hera, ia mengedip; menggulung adonannya, mendongak, ia mengedip. Hera secara buru-buru akan memutar bola mata berlagak jijik, membaca majalah tentang bunga—yang sumpah demi Tuhan ia tidak mengerti—atau menyesap jus jeruknya, tetapi semua cuman berlangsung sejemang lantaran ia mau melihat kerja si lelaki.

Entah berapa lama gerak tangan Dominic—yang adiktif—diawasi oleh Hera, terkesan sebentar menurut si gadis, namun ketika lensanya bertemu jam dinding, jarumnya berkata semua hal tersebut sudah berlalu dua puluh menit. Okay, kini Hera merasa bahwa dirinya telah diracun atau mabuk, ia jarang gagal memprediksi interval waktu yang lewat. Jemarinya memijat pelipis, bingung sekaligus ingin menyumpahi Dominic yang sudah menghilangkan konstan waktunya.

“Hi.” Mendengar suara tadi, Hera mendongak cepat. Dominic dengan wajah yang bersih dari tepung menyedot cairan oranye.

“Hey, that’s mine!”

The dough is already on the oven, just wait a little more minutes,” ujarnya sembari menandaskan jus yang tersisa. “I’m thirsty, sorry.”

Gadis itu mengangguk pelan seraya mengayunkan tangannya, memberi gestur terserah-apa-maumu—Dominic juga sepertinya tidak serius dengan kata penyesalannya, nadanya saja setengah niat.

“Mau minum apa untuk pendamping makan croissant?”

Oh, it’s a croissants, batin Hera. “Aku rasa teh atau air mineral saja cukup.” Ia diam sejenak. “Kalau kamu memberiku jus lagi, bisa-bisa aku mati kekenyangan.”

Dominic mengangguk pelan, berlakon seperti seorang pelayan yang dimintai tambahan makanan, lantas memutar tubuh dan melenggang sok keren—berserta gelas kosong di tangan kanan.

Ia balik lima menit kemudian, mengantar nampan berisi alat-alat makan, tissue, dan satu keranjang berlapis kertas yang diisi penuh oleh roti; dominansinya croissant, tapi sepertinya lelaki itu juga mengambil roti lain yang baru matang. Tangannya secara cekatan menata piring porselen putih pun alat-alat makannya. Pada akhir kerjanya ia mengangguk pelan juga mengatakan semuanya sudah siap dengan nada berlebihan, seperti seorang pelayan yang cari muka; Hera membalasnya bersama tawa, “Thank you.”

Lelaki itu untuk kesekian kalinya membiarkan Hera sendiri, kembali satu menit kemudian tanpa apron melilit tubuh. Ia duduk tepat ketika ada seorang pelayan yang membawakan dua gelas air mineral, secangkir kopi, dan satu gelas teh. Dominic mengucapkan terima kasih pada lelaki muda yang setangkap Hera namanya adalah Gerald, barulah memersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia di hadapan mereka.

Kedua orang tersebut makan dilingkup hening, hampir tidak ada sedikit pun silabel yang keluar; atmosfer terbentuk seolah mereka adalah dua partner kerja yang harus menjaga image setiap saat—tidak sepenuhnya salah, sejatinya mereka hanya partner kerja. Terkadang Hera melempar tanya soal pembuatan roti, atau di sedikit kesempatan Dominic menceritakan tentang tokonya, namun mereka tidak berkelakar seperti ketika makan di rumah. Kalau ditanya mengapa, agaknya ini semua pilihan Hera, ia menjaga gerak tubuh sebab merasa diawasi oleh orang-orang di sana; bahwa ia adalah pusat perhatian.

Makanan mereka tinggal setengah kala Dominic mengutarakan pemikiran Hera, “Kamu merasa canggung lantaran merasa diawasi?”

Hera harusnya memaki karena tadi adalah sebuah pertanyaan retoris, tapi penjaga kasir baru saja lewat sehabis dari toilet. “Ya,” jawabnya bersuara rendah. “Lagi pula kenapa mereka memerhatikanku?”

“Karena mereka penasaran soal kekasih bossnya?”

Ugh.” Tangannya segera menaruh gelas ke meja dan mengambil lap mulut, lantas mengeringkan cairan yang berada di ujung bibirnya. “Maaf. Tadi kamu bilang apa?”

Lelaki tertawa kecil, “Lupakan.”

Hera memegang kedua alat makannya dan masih memandang lawan bicaranya intens.

“Oh, ayolah, lupakan aku bercanda.” Kini Dominic menggelengkan kepala pun berusaha wajah seserius mungkin—tapi tetap bibirnya tidak tahan untuk tersenyum jenaka. “Aku sering menceritakanmu, mereka mungkin ingin melihat bagaimana wajah seseorang yang aku sebut-sebut.”

Gadis itu ingin bertanya lebih lanjut sekaligus meminta klarifikasi tentang hal yang sempat ia dengar, cerita apa? Dirinya? Namun, akhirnya kedua tangannya kembali membelah roti. Di seberangnya, Dominic masih tersenyum jenaka melihat Hera menyerah untuk melawan, dan baru melanjutkan kegiatan makannya ketika kepala bersurai coklat gelap itu mendongak. Mereka mengubur obrolan dalam kepala sampai hanya tersisa satu dua potong roti di atas porselen.

“Kamu mau belajar membuat roti?” tanya Dominic sehabis menelan potongan roti terakhirnya. “Kami membuka kelas memasak.”

Hera diam, abai soal perkataan Dominic lantaran melihat seorang pelayan yang baru saja mengerutkan dahi setelah lelaki itu berucap.

“Sepertinya kamu tertarik tentang cara membuat jenis roti—dilihat dari caramu memerhatikanku tadi.” Dominic berdeham. “You know, you can learn or just see what we do, or maybe taste the dough or chocolate. You need to ease yourself sometimes.”

Is it a cooking class or a free vacation?”

Both.” Dominic menjawab cepat. “Yes or no?”

Hera mengangguk, namun masih setengah sangsi. “Well, let’s try it.”

Lelaki di hadapannya mengangguk singkat, lalu menarik dan menyodorkan secarik kartu nama; kartu nama berbeda dengan miliknya yang resmi. Hera membaca rangkaian alfabet yang tercetak pada kertas putih di atas meja sebentar, sebelum menatap Dominic dan bertanya apa maksudnya. Pemilik kartu tersebut berdeham lagi sembari merapikan dasinya. “Come to this place at 10 A.M. on Saturday.”

Gadis itu mengangkat alis. “To your house?”

Yes.” Dominic menaikkan salah satu ujung bibirnya sekaligus menyandarkan pundak ke leher kursi, layaknya habis memberikan penawaran berharga. Ia menambahkan, “And only the both of us.”

Hera tergelak mendengar perkataan Dominic, apalagi melihat raut lawan bicaranya yang sangat-sangat mengesalkan pun menantang. “Oh,” ia berkata sehabis gelaknya usai, “so smooth, motherfucker, so smooth.

That’s how I work.” Dominic kembali menegakkan punggungnya pula menenggak cairan pekat kopi yang tersisa di cangkir. Ia berkata sambil menekuri bibir cangkir, “So, it’s still a yes, or become a no?”

Still a yes.” Tidak ada jeda, Hera menjawab pertanyaan tersebut tepat ketika usai diucapkan.

Kali ini Dominic tersenyum sangat bangga, namun Hera tidak menyelanya oleh tawa. Si gadis mengayunkan pelan kartu nama tadi, lantas memerlihatkan aksinya memasukan kertas ke dalam tasnya dengan sangat jelas. Mereka membagi senyum asimetris penuh rasa puas.

Note:

  1. ONESHOT EVERYBADEH. Gak nyangka pas selesai nulis sampe 1000+ words, nulis apa coba. Bosen gak? Kalau iya, kenapa? :”
  2. Aku gak tau ini manis apa enggak, tapi aku menyelipkan beberapa kalimat yang kalau diuraikan sendiri dan gak dalam konteks bercanda mungkin manis (?).
  3. Udah mentok nyari judul. Apa harus aku ganti jadi, “Mari Jatuh Cinta Bersama Dominic.” Lama-lama aku yang suka sama ini bocah LOL.
  4. Karakter Hera selalu ganti-ganti kalo ada Dominic, aku sedih gak bisa konsisten :”
  5. Fyi, cafe x bakery yang jadi cover itu Cornerstone Cafe, London.
  6. Masih gak puas sama ini hahaha, aku merasa sangat butuh review setiap nulis cerita dengan banyak dialog.
Advertisements

8 thoughts on “A Morning in Dominic’s Bakery.

  1. Hufff. Aku nggak jago ngereview, tapi coba aku kasih tau apa yang kupikirin waktu baca ini hehehehe

    1. NGGAK BOSEN. Buatku, ini nggak ngebosenin sama sekali. Dan kalo ditanya kenapa, ya, karena penulisan kak sher yang menurut aku nggak monoton. Terus, karakternya Dominic aaa a a aa a dia yang bikin aku semangat banget bacanya ;;-;; dia itu kayak apa ya, macam cowo genit kalo sama pacar, suka bercanda, santai, terus terus yang paling aku suka dia kok pinter masalah dapur gitu ;;;-;;; idaman banget lhaa ;;-;; aku kebayang banget seksinya dia waktu bikin kue.

    3. JUDULNYA AHAHAHA, why, judul yang ini bagus kok kak

    6. Hm, bingung mau review apa kalo soal ini soalnya aku sendiri kalo buat dialog banyak, jatuhnya malah ngalor ngidul nggak jelas :c dan entah kenapa aku ngerasa mereka agak awkward (???!?!?) nggak tau kenapaa ;;;-;;; percakapan mereka kayak mereka baru pacaran gitu ((atau emang gitu?)). Yah, mungkin cuma aku aja yang ngerasa gitu ehehe gapenting. Ini badhay.

    Heu, nggak membantu sama sekali emang komen ini (((buang jha))) (((gpp kok))). Tapi, aku juga cinta Dominic kok. Ehe.

    • Alhamdulillah sih kalo ternyata ini gak semonotonin yang aku pikir :”” Karena dia emang playful, tapi harusnya bisa mature LOL. Dia cuman bisa masak roti doang, kalo makan besar aku… liat nanti ya bakal dibuat gimana hahaha.

      Gak tau, aku mentok aja nyari judul LOL.

      Jadi sebenernya… mereka bahkan belom pacaran, makanya pas Dominic bilang ngenalin pacar & bilang bercanda, Heranya kagetkan. Anyway, jadi makasih udah ngingetin aku gak explicit nyebut mereka cuman temen/partner kerja, jadi bingung huhuhu.

      Ih, makasih banget lho shia udah mau komen sepanjang ini. Dominic cowok kita bersama lah udah HAHAHA. ♥♥♥

  2. Oh yeah, ini aku kenapa jadi ikut-ikutan senyum asimetris sih? Huh, ini gara-gara Dominic, yang entah kenapa buatku seperti show off banget. Iya, aku tahu dirimu keren, Dom, tapi nggak perlu segitunya kali.

    Oke, lupakan.

    Kalau menurutku, ini nggak membosankan. Entah karena aku suka settingnya atau suka roti, yang jelas buatku, narasi, deskripsi, dan dialognya ngalir, kok. Apalagi dialognya rada sarkas gitu ya, jadi nggak terlalu manis, dan aku suka.

    Duh aku apalah sok sokan kasih review gini. Semoga berkenan, Sher.

    • Aku ngebuat dia rese-rese yang ngangenin gitu, tapi mature (mature partnya kapan-kapan aja HAHAHA).
      Roti emang enak sih kak (?). Karakter Hera aku biarin jadi cewek yang bold gak suka digombalin jadi gitu hahaha.

      Berkenan banget kok, makasih :)

  3. HAHAHAHA. DOMINIC DIESEL-KU. LOL. DOMINIC SAMLIKUM. HAI. Btw, itu kenapa namanya Dominic M. ya? M-nya siapa? Jangan-jangan namanya Muhammad Dominic ((DILEMPAR))

    Engga ngebosenin, kok. Tapi waktu aku baca terus sampe ke a/n-nya kak sher baru nyadar “lah, akhirnya nulis 1000+ words” LOL.

    Aku malah kebawa pas tahu Dominic pake kemeja merah marun, uh, man in red giu loh….. tapi sexy-nya Dom runtuh begitu saja pas disadarkan sama rambutnya yang gondrong. Sorry, Hera. Sori. HAHA.

    AKU NGAKAK KENAPA JUDULNYA GITU HAHAHA. WTF. Tapi yang ini bagus kok judulnya, aku juga suka covernya :”) untung judulnya bukan Mari Jatuh Cinta Bersama Dominic—berasa ftv teve sebelah (halah). Terus Hera-nya tuh ya, masih yang bold, masih kebal diadepin cowo macem Dom. Huh. Suka juga dialognya, khas dialog kalo waktu-waktu sarapan gitu. Asik, cantik lah. Aku jadi mau croissant ((ganyambung))

    Ah, koreksi dikit doang.

    1. Paragraf 1 : di cat -> dicat
    2. Paragraf berapa gatau (males ngitung, hiks) : lagipula -> lagi pula, dipisah HE HE coba dicek di kbbi ya, soalnya kayanya dipisah gitu kak.

    Udah lah ya, ini nanti kalo kebanyakan yang ada aku malah nge-bully namanya Dominic lagi HAHAAHAHAHA

    💜💜💜💜💜💜

    • ASTAGA TA. KENAPA KAMU SENENG BANGET MENGHINA DINA DOMINIC SALAH APA MAKHLUK SATU INI. Menurut L aja Mnya apa.

      Aku mau nangis pas ngeliat di word 1500+, tf yang aku tulis coba.

      Aku malah jijik pas baca ulang, ini ngapa orang aku kasih baju warna merah coba, gak cocok di bayanganku LOL. Tolong dia gak gondrong banget, cuman agak panjang, kayak Chris Hemsworth, gak panjang kan tapi kalo rambut jatuh cukup ngalangin mata 😜😜

      HAHAHA. KITA SAMPIS LAH NGASIH JUDUL. Untung nyari cover mayan ya, kalo enggak fix gak ada yang baca :”” Dominic x Hera kan ala-ala ftv HAHAHA. Alhamdulillah aku bisa mengkonsistenkan dia sedikit di sini, soalnya aku malah agak lost sama karakternya. BELI DI TOKO ROTI. GAK USAH NGOMONG.

      1 & 2 bener kok ta, astaga aku kelewatan ngecheck lagi huft.

      KELUARKAN NATHMU AKU BULLY DIA.

      💋💋💋

  4. apakah sekarang nabil perlu menambahkan ‘punya toko roti dan bisa bikin roti dan bisa bikin gelindingan dan namanya harus dominic’ sebagai tipe ideal kak? ka sherrrr kooo bisa banget ngehidupin karakter dominic yaang ga muluk-muluk, karakternya ga fiksional tapi di realita ada banget yang kaya dia, tapi berasa waaaah banget pas bacanya (ini sangat membual maafkan)

    ceritnya asik banget kak, engga koook sama sekali ga boseeen. dialognya juga asik. malah tiap baca ceritanya kak sher nabil suka parah sama dialognya. ga banyak omong, tapi tiap ngomongg ocreeeh :D

    • HAHAHA. Tiati nanti dibantai Hera bil ;) Walaupun mereka udah mantan yang gak tau balikannya kapan LOL. Karena… Terkadang cowok idaman banyak, cuman tersembunyi aja 😂😂

      NABIL SERIOUSLY THANK YOU SO MUCH. YOU MADE MY DAY. Pagi-pagi bangun dengan notif di cerita-cerita Dominic, astaga :”””

      💋💋💋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s