Ia bohong. Ia jujur. Ia berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Begitu pun aku di sisi ini.

by S. Sher, Slovesw, Siluetjuliet.

Gloomy, Psychology || PG – 15 || Photo © unsplash

Hari ini aku bertemu seorang wanita. Ia dulu primadona di wilayahnya, kendati aku tak begitu tahu asal-usulnya. Awalnya aku tak yakin, namun pernyataannya selaras dengan kondisi fisiknya. Kulitnya bening, rema gelombangnya sehitam arang, dan irisnya seperti potongan obsidian. Dan ya, ia bakal membuatmu menoleh untuk kedua kalinya saat kau berpapasan dengannya. Jadi aku mengiyakan aklamasinya tentang dirinya yang primadona itu.

Ia pribadi yang supel, dan selalu mencoba mencari konversasi yang menarik di antara kami berdua. Ia menatapku lamat-lamat, lurus hingga aku nyaris mengira bahwa ia sedang menelisik. Tapi rasanya aneh dan tidak relevan saja, lantaran kami baru saja bertemu hari ini, di kamarnya. Impresi pertama bertemu dengannya, bagaimana ya? Menarik, intinya.

“Kau tahu,” iris obsidian itu menatap lekat-lekat aku lagi, “kau lumayan menarik juga, kau sama-sama cantik. Kau mungkin bisa jadi primadona juga.”

Aku mengulas senyum, menanggapi tanggapannya.

Kalau diamati lagi, kami memang mirip. Aku—bukannya bermaksud sombong—bisa dibilang cantik, tidak semengesankan dan sememikat jika wajahku bermake-up, tapi tanpa bubuhan apa pun juga, orang bilang struktur mukaku bisa saja jadi salah satu jajaran primadona di kampus. Sikapku juga baik, tidak suka cari masalah seperti perempuan-perempuan yang sok hebat.

Pun begitu, kami berbeda. Aku tidak pandai bergaul dengan orang-orang, menurutku pribadi sih begitu, orang yang dekat denganku pasti hanya sekadar kenal atau penasaran denganku, lalu beberapa hari kemudian lupa soal pertemanan di antara kami. Aku tidak suka tergelak bebas di kampus, walaupun terpaksa melakukannya untuk tidak terlihat sembrono atau jutek. Pokoknya, semua kesenangan yang ada padaku itu hanya lapisan luar, aku lebih suka duduk sendiri bersama kucingku di sore hari.

Aku mirip sepertinya. Akan tetapi, aku bukan dirinya.

“Banyak orang yang menyukaiku,” ia menginisiasi, “mereka bilang aku kelihatan menyenangkan; cantik, pandai bicara, supel, dan hal-hal yang lain. Tapi di situlah kesalahannya: mereka nol besar.”

Aku terdiam, menyimaknya yang memasang raut serius. Rahangnya kelihatan mengeras, lantas jemarinya berlarian di rambut hitam arangnya yang ditempa cahaya kamar.

Anggukan. “Mereka salah. Mereka semua tidak tahu berapa banyak penderitaan yang kudapat lantaran mendapati ibuku dipenggal oleh adiknya sendiri. Mereka tak tahu sama sekali tentang aku, yang berusaha meraih tali tambang agar aku bisa mengakhiri hidupku dan mati dengan tenang.”

“Mati tidak menyelesaikan masalah,” kudapati diriku berbicara, “Tuhan bahkan tak pernah berusaha menyelesaikan masalahmu dengan membunuhmu. Kautahu, kau hanya lari dari mereka, beristirahat sebentar, kemudian bertemu dengan mereka—masalah-masalah itu—lagi dalam bentuk yang berbeda. Ya, mungkin begitu kalau dianalogikan.”

Ia cuai, “Kau benar. Tapi sekali lagi, kau sama dengan mereka—sama-sama tidak tahu.”

Kasar, itu impresi keduaku setelah mendengar perkataannya. Namun sepertinya ia sadar, lantas meralat, “Oh, maafkan aku. Aku benar-benar sinting, ya? Tapi, terlepas dari apa pun penilaian mereka tentangku, aku tidak apa-apa.”

Wanita itu mencoba mengulas senyum, seraya berusaha menyentuhku berulang kali.

Aku mundur, ia mundur. Aku tidak mengerti apa yang barusan terjadi, tapi ketika jari telunjuknya yang dingin menyentuh milikku, rasanya aneh. Jarinya tidak seperti seseorang yang seharusnya aku ajak bicara pun perdengarkan kisah hidupnya, dan maniknya ketika kaget mendapati aku menapak mundur, terkesan tidak sadar akan segala hal yang baru saja ia lalui di ruangan ini.

Ia bohong. Ia jujur. Ia berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Begitu pun aku di sisi ini.

Kalimatnya sempat menyihirku untuk percaya bahwa, kondisiku sama buruknya. Semua orang tidak tahu soal aku, tentang aku yang ayahnya sering menampar pipi adik laki-laki tanpa peduli lebam yang membekas di sana.

Dan ia juga tidak tahu! Sama seperti aku tidak tahu ia. Tapi kami mengerti. Aneh, memang.

Seketika itu juga, ia linglung. Surai legamnya berayun seiring gerakan kepala yang digelengkan. “Oh, maafkan aku,” ujarnya parau dengan nada terkejut yang masih lumayan kentara.

Ia mundur setapak lagi, lantas melanjutkan, “Maaf karena sudah menganggapmu sama seperti mereka.”

Aku tidak menjawab, hanya mampu tersenyum kikuk.

Impresi ketiga yang dapat kutarik dari gadis primadona ini adalah: ia sinting. Baru saja bersikap arogan, lantas dalam sekejap meminta maaf dengan santun.

Tapi, yang dia katakan memang benar, sih. Aku tidak sama dengan mereka—mereka yang tidak tahu apa-apa. Mereka yang aku sendiri tak tahu siapa, di mana, atau apalah.

Aku, cenderung mirip dengannya. Sudah kubilang, ‘kan? Namun, jika begitu pasti aku juga sama sintingnya. Iya, kuakui nalarku menjadi sedikit terdisorientasi seperti ini setelah bercakap satu-dua kalimat bersamanya. Ia dan aku—suka atau tidak—tak ubahnya dua sisi mata uang yang kendati berbeda, kendati menghadap ke arah yang berbeda, namun masih menjadi satu unit. Satu kesatuan.

Oh, lupakan. Agaknya aku sedang bicara poin-poin sinting dan miskin makna.

“Ya, sepertinya aku harus terpaksa menyetujui perkataanmu barusan soal mati-tidak-menyelesaikan-masalah, dan soal Tuhan-tidak-pernah-menyelesaikan-masalahku-dengan-membunuhku.”

Aku tersenyum jemawa mendengar penuturannya.

“Toh, tali yang seharusnya kugunakan meregang nyawa juga tak mampu membuatku menghilang,” selorohnya diselingi jeda untuk sekadar memandang sekeliling. “Aku malah berakhir di ruangan berbau antiseptik sialan ini.”

“Tapi,” aku menyela, “kau… uhm, kelihatan bahagia-bahagia saja di sini.”

Untuk kesekian kalinya, ia mengangguk, “Ya, dan hal itu pulalah yang dikatakan mereka tentang aku-yang-nyaris-mati.”

Aku, tidak tahu mengapa, malah terkikik. Dia cemberut, sementara tungkainya terayun dua tapak untuk memangkas jarak. “Tapi, aku benar-benar ingin menghilang.”

“Kenapa?”

“Ingin tahu saja bagaimana rasanya.”

Ingin tahu, katanya? Benar-benar tidak waras, idiot, imbisil, atau apa pun itu.

Lantas, tungkainya melangkah lemah menuju nakas besi di sisi pembaringan. Diraihnya toples kecil berisi pil-pil dan kapsul yang tidak kuketahui nama dan fungsinya.

“Jadi, bagaimana rasanya menghilang?”

Aku mengedikkan bahu. “Mungkin enak; bebas dan lega.” Ia tersenyum. Dikeluarkannya sebagian isi dalam toples, lantas diserahkannya padaku.

“Kalau begitu, bantu aku menghilang.”

Aku memandang sebuah cermin dalam bingkai kayu cherry yang sungguh jernih, menghadirkan ia sebagai pantulan diriku. Mata kami—mataku, dan matanya yang adalah cerminan milikku, bersirobok, melepas sorot sarat kehampaan dan keputusasaan yang entah berapa lama bersarang di sana. Terlalu banyak kontradiksi dalam diri kami; ramah, hanya untuk tidak dihakimi; bergaul bersama kelompok, padahal ingin sendiri; mau memperbaiki hidup, namun lebih ingin mati.

Kami paradoks, pun tak mampu dipisahkan. Sama halnya dengan siang dan malam; putih dan hitam; atau ya dan tidak. Selalu ada satu kisi di antara preferensi itu semua, dan di situlah tempat kami. Di situlah tempat kami dipaksa berada.

Ya, dan layaknya hidup dan mati, kami berada di antara himpitan kedua opsi tersebut.

Pada akhirnya aku memandang dia, cerminanku yang seakan bisa memilih jalannya sendiri, lantas mengangguk lemah dan dibalas dengan gerak kepala yang sungguh identik.

“Ayo, menghilang.”

end.

Note:

Tata’s

Aku tenggelam.

Becca’s:

Lewati mas, ga punya receh.

Sher’s:

Karena A/Nnya kakbec sama tata sampis, biar aku yang rusuh. AKHIRNYA SETELAH SEKIAN LAMA BERWACANA COLLAB (7 BULAN! 7! SETENGAH TAHUN.) ADA JUGA YANG JADI :””” Tebak-tebak berhadiah kata “selamat”lah buat yang bisa nebak bagian nulis kita.

Advertisements

14 thoughts on “Di Antara Himpitan Kedua Opsi

  1. DUH OMG KALIAN COLLAB HEUHEU. TRIO S KECE!! ATUHLAH AKU MASIH TERSYEPONA NIH AH. UDAH UDAH MARI MATIKAN KEPSLOK YAH.

    Adoooh like usual tiap baca fiksi kalian (i mean, you all, sher; becca; sama tata) pasti ga ada tebakan aku yang bener hahaha. Pertama ku nebak ini si aku lagi ngomong sama beneran si ‘primadona’ kampus dalam artian ada 2 karakter di sini. Kedua, aku nebak mereka berdua ini ada di kamar rumah sakit. Yaaah rumah sakit jiwa gitudeh (gegara yang bau antiseptik lagi). Ketiga mereka mo mati bareng. EH TAUNYA DI AKHIR -.- Oke guys you got me beautifully lah heuheu. Ini well-written banget. Btw selamat atas kolabnya yang sukses hehe. DAN APA ITU AUTHOR NOTESNYA TATA SAMA BECCA xD duh ya kalian :”) glad to know you all beneran. Have a good time ahead ya semuanyaaaa.

    Aku mo nebak tapi jangan marahin aku kalo salah ya. Kalo awal-awal mungkin tulisannya tata, kah? Dilanjut becca trus sher ehe. Daaaan maafkan komenku ngalor ngidul gini :” pokoknya ku suka syekali ceritanyaa. Keep writing yah semuaaaa.

    Buat sher, makasi buanyaaaaak udah bantuin aku kemaren via line huhu lavlav deh. Makasih juga udah ngasih resources gambar baguuus huhu dan ngenalin aku ke tema canape x)) last last have a good time ahead yaaah ♡♡♡😊😊😊

    • Tersyepona sama tersapu beda dikit lho fik, huwehehe…
      As usual, kami kolabnya ngaco ((fak ding, part owe doang yg ngaco)) ini bukan komenmu yg ngalor ngidul tp emg fiksi kami yg gatau arah kemana… wkwkwk tau2 jadi nya fitu aja, jd jgn ditebak… org kita yg bikin aja mabok, wkwkwk x)

      Btw, thankseu yhaa udah mampir. We also glad to know youu *ketjup*

  2. HAH INI FIC PERTAMA YG AKU BACA DI 2016 HAHAHAH DAN CUMA BISA SJDWJWJBSJSKAJAJA

    Siapa sih yang gatau kalian aduh, tulisannya ajib terus ga ada alesan gak baca ini mah…. anw, mari kuluruskan sesuatu; ini cerita tentang sosok primadona yg punya dua kepribadian gak sih? Aku kok ya mikirnya gitu…. awalnya sih aku mikir ada dua orang yg saling ngobrol dan curhat, tapi kok ya pas akhir kaya mereka itu orang yg sama denan dua kepribadan yg beda??? Ahahhaha terus aku baca ulang lagi dong ttg masa lalu mereka, si cewe primadona yg 1 katanya ibunya dibunuh sama adiknya sendiri. Trs primadona 2, ayahnya nampar adik laki2nya sendiri. ITU KEJADIAN YG SAMA APA BEDA SIH?
    Hah yaampun kalo bener, kalian ngerangkum semua cerita apik bgt!! :”””)

    Ah ya, buat pembagian jatah tulisan, aku gak tau.. ini kaya udah kecampur terus kaya gak ada part yg beda sendiri. Kaya yg nulis cuma satu org. Tp klo boleh nebak ((katanya ga bisa nebak?? -.-)) yg awal sher, tata, trs ka becca?

    Udahlah ya, drpd ngerusuh di awal tahun, kuakhiri komen gajelas sampai di sini. KEEP WRITING AND HAPPY NEW YEAR ♥♥

    • Tita, apa kabar dirimu setelah baca fiksi kami? Gumoh gak? Berhati-hatilah, kadang fiksi kami dpt membuat asupan gizi berkurang /gak/

      Mari luruskan tita, luruskan saja rambut saya yg keriting ini, bisa? x)
      Wkwkkw itu ceritanya sama kok, kan si aku ngomong sm cermin… kepribadiannya dua, iya… lebih tepatnya dia paradoks (lah, lebih mbulet penjelasannya)

      Dan untuk urutan nulis, selamat…. kalau kamu bisa nebak, karena kami sendiri aja gabisa nebak tulisan kami yg mana /ngaco/

      Anw, makasih banget yhaa udh dimampirin(?)
      Semoga tahun barumu indah xoxo.

  3. I’m speechless, nggak bisa berkata-kata. Gini ya kalau bakat-bakat luar biasa berkolaborasi, hasilnya luar biasa pula. Aku nggak bisa menebak siapa yang menulis bagian apa, karena pada kenyataannya pas melengkapi. No misfit.

    Sama kayak Kak Fika, aku sempat dibikin bingung. Awalnya udah mengira si Aku itu berbincang dengan bayangannya, tetapi ragu karena ada bagian ‘bau ruang antiseptik’. Ah, kalian jago sekali mengeksplorasi sudut-sudut kelam dalam otak manusia. Gloomy, sounds depressed, kosong, ah entah apa lagi.

    Sher, aku bisa apa selain nge-like dan komen seperti ini? Keep writing yaa :)

    • Halo kakak aminocte :)
      This is siluetjuliet speaking, salam kenal^^

      Hehe, maaf ya, kami ngaco bikinnya… hand to hand begitu aja langsung jadi… ((percayalah, awalnya planningnya ga begini, hehe))
      Kami bukannya jago mengeskplorasi sudut kelam dalam otak manusia, hanya sengaja menjejalkan segenap kalimat yg ada di otak, biar keliatan penuh fiksinya /digampar/

      Anw, likes dan komenmu sungguh menentramkan hati.
      Terimakasih, dan selamat tahun baru^^

  4. Kak sher rinduuuuu, aku sandy(?) moga masih inget kalo ga inget juga gapapa sih :”) #rapopo

    kayaknya aku harus berterimakasih sama notif dari email, yg mengatakan kalo ada cerita yg layak dibaca di sini(?) #apadeh KARENA AS ALWAYS CERITANYA GOOD, APALAGI COLLAB BEGINI, dedek mo nangis rasanyaㅠㅠ

    oh ya alasan kedua akan kedatanganku ke sini(?) itu soal the abominable bride masih dipertanyakan jadwal tayangnya di indonesia, padahal aku udh nunggu dari jaman nenek moyangㅠㅠ

    rindu mas benedict dan rindu ka sher(?) wkwkwkwk

    oh ya, btw HAPPY NEW YEAR 2K16

    (maaf udh nyepam ehehehe)

    • Hi Sandy! Aku agak bingung baca unamenya ganti. Masih inget kok aku X)

      Ini collab bikin puyeng kayaknya, sampe kamu nangis bacanya LOL. Kita aja pusing bacanya lagi (!?).

      HA. Iya kalo di indonesia gak tau, tapi hari ini bakal ada new episode :”) Hari ini, aku gak tau harus bahagia apa sedih, secara bingung mau nonton di mana.

      AKU JUGA RINDU MAS BENEDICT HAHAHA. Happy new year sandy :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s