Ada rona merah di pipinya lantaran lelah berlari sepanjang jalan hutan yang becek, melewati jalur-jalur tak berujung yang bagai terulang.

“Joshua.”

Suaranya menyapaku di sebuah hutan rimba, yang dipenuhi suara burung bersiul sahut-menyahut, juga jangkrik yang bunyinya patah-patah. Matanya biru muda, sangat muda hampir menyamai batu es. Manik itu ada pada wajah oval dibingkai rambut ikal hitam, pada beberapa bagian diikat serampangan dengan serat pohon.

Sedetik kemudian ia berlari, menjauh—menjauh dari apa entah aku tak tahu. Tahu-tahu aku sudah ikut berlari. Langkahnya terus sejajar dengan milikku, terpisah beberapa meter lantaran ada semak belukar yang mengisi spasi di antara kami.

Aku tidak mendengar suara sepatu botku mengentak tanah atau menciprat air. Namun, aku bisa mendengar nada tungkai gadis itu yang konstan, satu-dua, satu-dua, pula setiap sepuluh hitungan ia akan menginjak ranting pohon yang tergeletak di tanah. Di balik kami—atau di baliknya—ada sesuatu, entah apa, tapi bunyinya membuatku bergidik. Seperti bunyi mesin tik, tapi berinterval tetap; dari rentang sebuah jari menekan tombolnya, mencapai ujung pun baris baru dimulai; hurufnya selalu sama, persis.

Gadis itu menoleh ke belakang. Ada rona merah di pipinya lantaran lelah berlari sepanjang jalan hutan yang becek, melewati jalur-jalur tak berujung yang bagai terulang.

Setiap baris lembar kertas terus diisi. Lembarnya usai, ada suara kertas ditarik keluar dari mesinnya.

Aku menarik napas dalam-dalam dan punggungku menegang seketika. Selimut yang semalam membalut tubuhku sudah sepenuhnya geser ke kanan, dan kini aku menggenggam seprai putih pelapis kasur erat-erat. Keringat turun dari dahi hingga menyentuh ujung daguku diikuti napas tersengal-sengal.

Oksigen kembali kuraup banyak-banyak untuk menenangkan detak jantung. Lima menit tubuhku masih bergumul dengan kasur, sementara pikiranku sudah tenang. Lantas aku memutuskan untuk mempertemukan kaki dengan lantai kayu flatku yang mulai menghangat lantaran ditimpa cahaya mentari—semalam aku lupa menutup tirai. Tungkai milikku meniti langkah menuju dapur yang hanya berbatas tembok dengan kamarku, kemudian tangan kananku membuka kulkas pun mencari botol isi jus jeruk yang aku beli semalam.

Jemari tangan kiriku mencengkeram pinggiran besi kulkas sehabis menenggak cairan oranye tersebut. Mataku terpejam terlalu rapat sampai-sampai kerutan di dahiku muncul. Mimpi tadi entah berapa kali sudah aku lewati.

Ding! Dong!

Kepalaku berputar ke balik punggung, menatap interkom yang sudah berbunyi padahal baru jam sembilan pagi. Aku menaruh botol yang masih ada dalam genggaman ke meja kayu, lantas mengambil jaket biru tua yang ada di gantungan balik pintu—beruntung sweetpants yang sedang kupakai tidak buruk-buruk amat.

Tinggal di lantai tiga dan aku memutuskan untuk menuruni tangga ketimbang menunggu lift. Dalam dua menit sendal rumahan bututku sudah berada di lantai satu, tempat seseorang menekan bel flatku tadi. Pupilnya memindahkan porosnya dari undakan tangga terakhir, menuju ke hadapanku.

“Tuan Hong?”

Suaranya menyapaku dari balik pintu flat jeruji besi berwarna coklat kayu, disponsori atmosfer hening mendebarkan oleh entitas tak dikenal. Matanya biru muda, sangat muda hampir menyamai batu es. Manik itu ada pada wajah oval dibingkai rambut ikal hitam, pada beberapa bagian diikat serampangan dengan karet hitam kecil.

Gadis itu.

End.

Note:

  1. Kepikiran mesin tik soalnya yang menurutku cukup patah-patah dan konstan ya itu, efek abis nonton atonement juga keknya.
  2. Kangen nulis misteri/adventure edisi gak tuntas, bahkan belum mulai HAHAHA.
  3. Udah gak familiar sama kpop, cuman tau dikit dan berakhir OOC.
  4. Actually, aku buat setting ini semacam di apartemen New York.
  5. Aku mulai lelah berada di antara romance or gloomy, mau menyentuh adventure/fantasy but… (tapinya banyak LOL).
  6. Warna matanya ice blue.
Advertisements

10 thoughts on “Ended In Front of My Door

  1. hah. aku juga kaget pas baca ada tulisan hong jisoo.. tumben2an kamu nulis ff dengan cast yg beda xD

    anw, ini apa yaaa…. kukira diawal emang lagi dikejar sesuatu. terus kenapa tetiba ada cewe mata biru dateng gitu kan. sampe tiba2 loh? loh? ternyata mimpi aahahaha endingnya juga manis gemes gatau kenapa. bisa gitu ya, dari mimpi terus ketemu beneran di dunia nyata. aku juga pernah mimpi orang yg ga dikenal, tapi kok gak pernah ketemu di dunia nyata ya(?) mungkin karena udah lupa mukanya kali ya (kan katanya kalo udah mimpi sebagian memori di mimpi ilang, katanya) xD
    as always, aku selalu suka pembawaan kamu deh.

    pokoknya mah, nulis teruuuuuss ya! <3

    • HAHAHA. Abis mau winner, tapi aku lagi bosen aja. Jadi berakhir dengan anak 17.

      Tadinya gak berniat ini bangun tidur sih kak, cuman aku belum kuat nulis adventure jadi yah… gitu LOL. Endingnya gemes ya? Aku pikir malah agak creepy.

      Aku pernaa bacanya, kalo orang di mimpi tuh biasanya orang yg somehow pernah kita liat, tapi memori kita belum tentu ngeproyeksiinnya persis atau gimana lah hahaha.

      Makasi :) Kak tita juga terus nulis!

  2. Seperti yang dua lainnya kaget ada nama kembaran aku muncul di fiksimu /gagitu/

    Dan ini unyuuuuuuuuuuuuuuuuu banget parah……..kirain teh si gadis oval berambut ikal dengan mata biru anjay lah pengen punya mata biru /tif/ iya si mbak itu teh pokoknya cuma delusi-khayalan kaka josh dalam ceritanya…..terus dia kebawa masuk dan tak kembali /mulai ngaco/

    Btw atuhlah kalo abis mimpi gitu ketemu aku semalem abis mimpiin kamu kok kamunya ga dateng ke rumahku kak /dikeplak/

    Kyaaa pokoknya sukalah ini gemash gemash unyu kayak yang baca /fixinitifamintadirukyah/
    Bhay sher sebelum makin mabok akan sampah ini kusudahi saja

    xx sodara kembarnnya hong jisoo xx

    • Lho kak? Jadi ini kembarannya Joshua!? Hahaha.

      Aku juga pingin punya warna mata biru atau abu-abu :( harusnya ini beneran ketemu di hutan, cuman aku gak tau mau dikemanain, dan ngerubah plot LOL.

      HAHAHA, mungkin kakak yang harus nyamperin ke sana. Yah kak… bentar aku panggil ustadz ya 😜😜

      Makasih kak :)

  3. Okay, Kak Sher, aku lagi iseng-iseng dan tadinya langsung ngeklik pokoknya cerita yang mau dibaca aja.
    Dan aku agak shock sih…karena aku sebetulnya juga lagi bikin semacam cerita yang isinya; kita ketemu orang ga jelas di mimpi yang menghantui, trus orang itu akhirnya terwujud dalam dunia nyata di depan kita secara kebetulan. Bedanya castku Kim Jongin dan AKU SHOCK SEKALI WAKTU TAHU ALURNYA SAMA PERSIS….
    (oke abaikan aja curhatan kayak ginian)
    Cuma punyaku mungkin ada lah seribu kata lebih, dan diksinya gitu-gitu aja, kosakata juga kurang kaya. Kalau punya Kak Sher pembawaannya bagus banget, aku paling suka yang bagian deskripsi mestin tik itu ><

    Semangat nulisnya, Kak Sher <3

    • Ini ide udah nyangkut lama banget cuman baru ketulis sekarang, dan santai aja kalo sama, pasti akhirnya beda & cerita kayak gini gak baru juga LOL.

      Hahaha, coba dong ceritamu dipost aku jadi penasaran. Hasilnya juga pasti bagus lah :) Iya itu mesin tik thanks to Atonement, ngasij backsound kayak gitu.

      Makasih ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s