Kepada, kedua orang tua yang jujur sungguh aku sayangi.

Photo © ~jessS~ || Orignally posted here

Kepada,

Kedua orang tua yang jujur sungguh aku sayangi.

 

Aku tidak ingin diperhatikan. Tidak, tolong, dengarkan aku dulu. Bukan berarti aku minta kalian mengabaikanku secara absolut, membuangku di tengah jalan luntang-lantung. Ini soal rasa khawatir yang makin lama makin membesar. Aku mengerti jika di mata orang tua, anaknya akan selalu menjadi bocah kecil, namun ketika menjadi bocah kecil pun, aku bahkan tidak diperlakukan seperti ini.

Rasanya aneh jika pada malam hari aku dibombardir oleh pesan-pesan atau deret panggilan tidak terjawab dari kalian. Dua yang lalu semua tidak masalah. Kenapa ketika aku sudah kelas tiga SMA, semua jadi harus dipertanyakan? Aku lebih nyaman dengan hening, lebih tenang dengan kita yang hanya menukar sepatah dua patah frasa tanpa harusku jelaskan panjang lebar soal kegiatanku.

Jika ibu dan ayah ingin tidur pada pukul sepuluh malam, namun aku belum pulang, tidur saja. Aku tahu arah jalan pulang dan kunci rumah selalu kubawa, aku punya teman, yang sudah kita sepakati bisa dipercaya. Dipastikan bahwa akan ada satu dua laki-laki yang jika mengajakku pergi, bertanggung jawab untuk memulangkanku ke rumah secara utuh. Jadi jika ingin tidur, tidurlah.

Kebebasan adalah apa yang aku tuntut, aku minta maaf untuk itu, hanya saja terbiasa dengan tidak diacuhkan. Aku menuntut kebebasan lebih, kala merasa milikku makin dikontrol. Bukan bebas dalam artian buruk yang aku maksudkan, aku hanya ingin dibiarkan pergi jauh atau pulang larut, ini juga karena persiapan ujian yang mau membunuhku.

Dan, sumpah aku mengerti dengan semua orang tua yang protektif soal kabar anaknya, namun aku bukan merasa kesal, aku merasa aneh? Tidak nyaman agaknya.

Ketika aku masih memakai rok merah, ibu ayah tidak rumah, sekarang aku tidak masalah, dulu pun aku tidak masalah. Aku tahu bahwa ayah dan ibu mencari uang untuk menghidupiku dan adik, tidak masalah jika aku harus tinggal dengan tetangga sebelah yang hidup sendiri. Sumpah, aku mengerti. Tidak masalah jika ayah hanya sempat mengantarku, pulang aku dijemput tetangga yang masih hidup sendiri; tidak masalah jika ibu hanya bisa membuatkanku bekal pun menelepon sesaat saja. Tidak pernah jadi masalah, aku bahkan tidak merasa kurang kasih sayang, karena aku tahu seberapa kalian menyayangiku dari binar mata kalian, lagi pula ada ibu guru, teman-teman, dan seorang tante yang merawatku.

Akan tetapi, ketika ibu memutuskan untuk berhenti bekerja lantaran merasa penghasilan ayah sudah lebih dari mencukupi, mencoba mengobrol denganku secara intens setiap saat, segalanya terasa… tidak wajar. Mungkin lantaran aku mengerti apa yang ibu dulu lakukan, meninggalkanku demi merawatku. Mungkin lantaran aku membiarkan ibu beristirahat di malam hari pula akhir pekan, tanpa adanya banyak silabel yang uoba aku pertanyakan. Hanya saja, ada satu hal pasti, itulah normalku, kala sebuah kalimat tidak mengudara terlalu banyak, namun meninggalkan satu sama lain untuk saling melindungilah yang terjadi. Coba saja dekati adik, tapi tolong jangan renggut normalku.mana

Kepada Ayah, aku tidak mengerti ketika engkau mengajak keluarga kita makan-makan lantaran aku yang masuk sepuluh besar di peringkat kelulusan. Terima kasih untuk itu, cuman, aku akan lebih berterima kasih jika kita makan-makan bukan atas nilaiku, aku tidak terbiasa. Dua tahun yang lalu, bahkan jika aku mendapat nilai sempurna dalam fisika, ayah tidak akan tahu, ayah bahkan tidak akan sempat untuk memeriksa jadwal ujianku, paling hanya sempat untuk mengantarku ke sekolah naik mobil yang dilingkup sambungan telepon dengan kolega, tapi aku berterima kasih untuk itu.

Jika seandainya kalian membaca surat ini, aku mohon jangan berubah, tetaplah seperti diri kalian, dan anggap surat ini tidak pernah tertulis. Aku takut dengan perubahan, apalagi soal normalku di lingkup rumah yang aku sambangi setiap hari, aku tidak siap untuk beradaptasi kembali.

Satu lagi dan yang terakhir kalinya, aku tahu aku tidak berpikir secara biasa, tidak berniat menjalani hidup seperti manusia biasa, tolong, jangan katakan bahwa menjadi berbeda tidak akan pernah menolong kita untuk hidup. Kalau kalian berkata bahwa Einstein, Beethoven, Steve Jobs, adalah manusia tidak biasa yang menjalani hidup susah payah; I’m willing to try that, because they’re the non-ordinary, the extraordinary people that actually change the world. Percayalah, aku akan berusaha untuk selalu menjaga harapanmu, dan permintaanku cuman biarkan aku seperti ini, karena inilah normalku.

 

Dari,

Seorang anak yang memandang normal dari perspektif lain.

end.

Note:

  1. I just hate when someone said, “You need to be grateful that your parents work for you,” without thinking who they are talking to because kids are just kids, they don’t understand. Well, maybe they will, maybe it’s going to be fine, or it will be too late, or the effect last forever.
  2. Triggered by comment on 9gag, yang aku lupa postnya apa LOL. Inti commentnya kayak poin satu, terus ada yang bales gimana dia ngerti apa yang dilakuin orang tuanya, tapi efeknya adalah dia gak nyaman buat ngobrol sama orang tuanya.
  3. Tau event 30 Hari Menulis Surat Cinta pas bulan februari itu? Tadinya mau ikutan, cuman taulah aku Mrs. Wacana LOL. Jadilah berniat nulis surat-surat kayak gini yang kemungkinannya gak surat cinta 😂😂😂 dan dari tebakanku soal orang-orang (!?).
  4. Niatnya mau buka make yang bitter/sweet soal mantan (!?), terus yang jadi malah ini duluan, yaudahlah hehehe.
  5. Bakal menyampahi timeline buat dua hari ke depan LOL.
Advertisements