“Aziraphale The Angel, kau sedang bicara pada Crowley The Devil.”

Photo © Artem Trigubchak

Crowley tengah bersiap menenggak tehnya secara sopan pula mengesankan ketika Aziraphale, dengan rambut pirang pendeknya yang melambai-lambai, melangkah cepat dan sekonyong-konyong duduk di kursi di hadapannya. Mereka tengah duduk di restoran mewah; dapat dilihat dari barang-barang yang menaikkan tingkat estetika, alat-alat makan dari keramik yang kalau dijual pasti bisa membuat anak-anak di sebuah panti asuhan punya rumah, dan yang paling jelas dari setiap bilangan yang tercetak di menu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Crowley.

“Anggap saja menemanimu makan sore, daripada kau terlihat seperti manusia kesepian.”

Mereka adalah teman baik yang seharusnya tidak terjadi dan entah bagaimana terjadi, agaknya hanya terbiasa akan presensi satu sama lain lantaran dipertemukan dengan entitas yang sama selama ribuan tahun terus menerus. Kendati demikian, Crowley tidak suka jika Aziraphale datang tiba-tiba memberinya pandangan serius seperti sekarang. Well, pada satu dua waktu dia senang karena temannya mengabarkan soal kerusuhan atau bencana yang berlangsung, namun seringnya dia bakal dijejali petuah-petuah dari Surga—padahal ‘kan Crowley delegasi Neraka (mungkin ini semua gara-gara dia pun Aziraphale yang lama-lama tertular sifat-sifat manusia karena terlalu lama bergerak di antaranya).

“Kenapa kau senang sekali menjerumuskan manusia-manusia?”

Tuh kan, apa Crowley bilang, pasti Aziraphale mencoba mengingatkannya soal perkerjaan. Tapi, demi Iblis-iblis paling kejam di neraka, apakah manu—ralat, Malaikat itu sangat ingin mengganggu jam makannya!?

“Oh, Aziraphale, aku ingin makan.” Crowley memotong daging di atas piringnya, namun merasa kepala temannya makin condong ke depan ditambah picingan mata, Crowley mau tak mau merasa tak nyaman sampai harus meletakkan perkakas makannya pula membalas balik tatapan Aziraphale. “Astaga, kita sudah membicarakan ini untuk ke-666 kalinya dalam empat belas tahun terakhir! Apakah memorimu hanya diisi nyanyian-nyanyian Surga, lantas secara otomatis membuang omongan Iblis!?”

“Aku butuh jawaban.”

Sekarang uang yang dikeluarkannya untuk Long Island Duck terbuang sia-sia lantaran temannya berhasil membuang selera makan Crowley ke atas rerumputan Surga.

“Wahai Aziraphale The Angel, kau sedang bicara pada Crowley The Devil,” kata Crowley yang dilanjutkan berkat (Iblis mengumpat dengan mengucap berkat, bukan kutukan). “Jadi, demi Neraka yang cukup ramai saat ini, masa aku harus melaksanakan tugas buat membawa orang-orang ke Neraka dengan menanamkan Cinta dan Kepedulian? Yang benar saja!?”

“Tapi ‘kan kau suka jadi manusia, lagian kemarin kau juga sempat mengurangi kadar Iblismu.”

Sekarang Crowley berspekulasi—sudah lama sih sebenarnya—setiap kali Malaikat pulang ke Surga, memorinya soal obrolan mereka dicungkil-cungkil. Malaikat itu bahkan pernah ke pantai untuk melaksanakan godaan sesaat, sementara si Iblis bersenang-senang ke kota sepi berisi kenikmatan surgawi—Para Penguasa tidak peduli siapa yang melakukan apa, yang penting tugas terlaksana—apa dia lupa juga!?

“Aziraphale kau ingat dengan kesepakatan kecil kita?” Crowley menjentikkan jari lantas sebuah perkamen tua dari abad empat belas jatuh ke tengah meja. Jari telunjuknya menelusuri poin satu. “’Manusia melakukan baik buruk bukan tanggung jawab kita, namun mereka sendiri.’ Mereka bisa memilih, tidak seperti kita yang hanya memiliki sisi hitam atau putih.

“Kalau aku memutus sambungan kabel telepon buat satu distrik demi menyebabkan semua orang marah-marah, menyebarkan emosi buruk jika bertemu dengan manusia lain, membuat siklus saling teriak tiada henti, bukan salahku jika mereka melaksanakannya. Aku hanya memberi trigger, tapi terserap dalam emosi dan menjadi bagian dari Neraka sedikit demi sedikit, semua pilihan ada di tangan manusia. Sama sepertimu yang memberikan Rasa Bersalah ke pria yang tengah malam ingin menculik gadis muda ke atas ranjangnya, pada akhirnya itu adalah pilihannya. Kita hanya menjalankan tugas, Aziraphale,” jelas Crowley sambil sesekali menelan potongan daging besar—ya, dia penasaran juga dengan makanan manusia yang ini.

“Tapi—”

“Kalau kau berniat bertanya ini—tolong katakan pada Petinggimu agar memberi memori spesial soal jawabanku—aku menghasut orang-orang tentu demi Armageddon dan kejayaan Neraka.”

Aziraphale menyandarkan punggungnya pada kursi, mengubah pandangan seriusnya pada Crowley jadi lebih santai. “Kau tidak pernah berubah.”

Kita tidak akan pernah berubah.”

“Malaikat akan selalu berusaha menyelamatkan manusia.”

“Dan Iblis punya tugas untuk menjadikan manusia bagian dari kami.”

Lelaki, maksudnya Malaikat (mereka tidak memiliki hormon penentu jenis), dengan baju berbulu putih di hadapan Crowley mengangguk, dan Iblis berbaju hitam itu tengah berpikir buat menciptakan kotak memori atau menulis surat pada Penguasa Surga agar menjadikan obrolan ini diingat sepanjang masa oleh Aziraphale. Dia masih merenung soal tinta pun kertas macam apa yang pantas digunakan seraya menusuk potongan biji zaitun dengan garpu, namun tiba-tiba sadar bahwa dia tidak tahu alamat Malaikat-malaikat, pula sekali lagi ketenangannya direnggut Aziraphale (rasa-rasanya Malaikat ini belajar bagaimana menjadi setan untuk Iblis hingga membuat Crowley kesal).

“Crowley.”

“Apa lagi!?”

“Mau pergi nonton teater tidak?”

“Oh!” Lelaki—Iblis, terserahlah—itu tersenyum. “Kalau yang ini aku suka.”

end.

Note:

  1. Crowley dan Aziraphale dipinjam dari The Good Omens by Neil Gaiman & Terry Pratchett, termasuk beberapa kejadian juga yang aku ganti sedikit (gimana setan mengumpat, yang matiin sambungan telepon, Crowley yang menghasut demi Armageddon & Neraka, dan pas Aziraphale & Crowley gantian nugas).
  2. Well, I, somehow, never finished reading the novel, but if you like dark yet funny and witty novel, The Good Omens is recommended. Both English and Indonesia are good, tapi yang Indo agak aneh di beberapa kalimat jadi aku pindah ke novel Inggrisnya he he he.
  3. Aku merasa gagal tiap kali berusaha nulis sesuatu yang kalimatnya nyantai.
  4. Tolong beritahu aku ini genrenya apa hahaha.
Advertisements

13 thoughts on “XV. The Devil

  1. HAAIII SHER!!! selalu yaa selalu kalau aku baca fiksi kamu, pasti mikir “ini anak makan apaan sih?” hahaha SUPER!!!
    genrenyaaa kalau buatku … fantasy ? :D

    aku bacanya nyantai kok sher, beneran. ehe. kapan yaa aku bikin ginian? huhu
    makasih yaa sher udah ngenalin aku ke Crowley dan Aziraphale. #eaaaa
    jadi, bisa yaa mereka tukeran tugas, terus nonton teater, terus makan segala?? hahaha banyangin malaikat dan iblis berduaan? wow! :D

    maaf sher komenku pendek. :'( KEEP WRITING S.SHER!!!! ^^

    • Makan nasi pake lauk kok kak he he he. Wah, aku ak kepikiran ya ini masuk fantasy (!?).

      Bikin apa, ini apa 😂😂😂 Bikin seenaknya kak Ani mau bikin aja. Aku juga gak kesampaian terus mau adventure LOL. Baca bukunya kak kalo mau kenal lebih jauh ;)

      Iya, mereka nyenengin banget dibukunya, aku gemash, apalagi pas POV Crowley itu sarkas-sarkas lucu hahaha.

      Thank you kak and keep writing too!

  2. ini genrenya spiritual XD padahal ya nggak begitu2 amat
    aku ga paham tapi improper ideanya di sebelah mana
    anyways, awas aziraphale nanti kalo ke teater bareng crowley ketularan jahat lho.
    haha ingatan dicungkil2 itu kok entah kenapa bikin ngakak ya?
    nggak gagal kok ini, malah kesan santainya crowley itu nyenengin sekaligus ngeselin, kalo aku adi aziraphale *ya g mungkin lah
    itu berasa kyk nasihatin berandalan ga mau insaf :p
    keep writing sher!

    • Wah, aku gak kuat bikin ketegori spiritual di sini, secara blogku acak-acakkan LOL. Impropernya cuman satu yang bagian malaikat nugas jadi Iblis (!?), apa aku aja yang lebay hahaha.

      Soalnya Crowley yang ngomong kak X) HAHAHAHA, berandal gak mau insaf, Crowley gak bakal insaf ya :”

      Thank you kak, keep writing too :)

  3. Yaaaa kangen banget baca tulisanmu sheeeer…

    Ini mungkin karena efek aku jarang baca dan nulis jadi durasi bacaku juga lemot plus pemahamannya juga ikut lemot kayanya. Jadi kebanyakan berenti sambil mikir(?) huft
    tapi aku ngerti banget jalan ceritanya terus tetiba jatuh cinta sama crowley??? XD lucu ya iblis sama malaikat bisa temenan kaya gitu huhuhu mana tugas sama sifat mereka kan beda bgt…
    kece badai lah kamu mau bikin genre2 kaya gini cocok bgt… lain kali bikin lagi yang kaya gini boleh loh boleeeeh hahahah
    Keep writiiiiinnnggggg!! ♥♥

    • Hahaha, aku kalo jarang baca juga jadi gitu, suka berenti mikir dulu, mungkin karena belom kebiasa lagi aja :”

      AKU JUGA CINTA SAMA CROWLEY DI BUKUNYA. Lucu ngeselin, gemash. Mereka berdua kalo digabungin gemay emang ♥

      Ini genre apa juga aku bingung kak he he he.

      Makasih kak ♥♥ terus nulis juga ya!

  4. Hai, Sheeeerrr!!!
    Sejujurnya, first of all, aku sama sekali nggak kenal tentang Crowley dan Aziraphale… padahal awalnya aku ngira Aziraphale ini cewek, eh ternyata cowok XD
    Terus aku suka cara pengemasan friendship kamu di cerita ini sheeerrr, soalnya Crowley sama Aziraphale jelas-jelas beda banget gitu, mana mereka sempet-sempetnya adu bacot segala~~
    Eeeeeh, tapi waktu Aziraphale ngajakin Crowley nonton tuh kayaknya ilang aja gitu kalo mereka barusan aja lagi debat… Pertemanan di antara perbedaan yang sungguh luarbiasa wkwwkwkwkwk

    Daaaaaaaaan, aku juga jadi kepo banget sama The Good Omens, jadi pengen tau lebih banyak hehehehe nice one, Sher!

    • Aku juga pas revisi pertama kali mikir bahwa Aziraphale bisa dikira cewek atau cowok LOLOL, namanya kayak Unisex juga kan, terus aku tambahin rambut pendek itu, ternyata tidak terlalu membantu juga ya hahaha, nanti aku coba edit dikit deh ;)

      Kayaknya ini kebawa dari bukunya juga, soalnya di sana mereka begitu; mereka adalah definisi perbedaan tidak membatasi pertemanan HAHAHA.

      Kalo suka dark-dark yang diselipi humor gitu aku merekomendasikan banget kak X) And thank you :)

  5. SHEEEEER x) btw sekarang aku jadi penasaran sama bukanyaaa heu. entar cari ah :” anw aku suka namanya aziraphale sama crowley hehehe, terus sukaaaaa sama karakternya crowleeey omg sabar yha, mo makan malah diajak ngobrol xD oiyaaaa tapi aku suka friendshipnya mereka berduaaaa like, walaupun punya tugas masing-masing tapi masih yang gimanaaaa gitu. AKU NGAKAK PAS AZIRAPHALE NGAJAK NONTOOOON xD HAHAHAHAHA DUH KALIAN :”
    anw kusuka pokoke ceritanyaaaa. hehe. sher, btw aku mo nanya absurd boleh gak heu. biar komen kita nge-italic gimana dah? pake html ya emang? yang dikasih lalalala gitu bukan? ini aku nyoba sih pake html hahahaha. jangan kaget kalo komen aku jadi berantakan yha hehehe.
    anw keep writing yaah sheer <3

    • Cari kak X) Intronya seru banget, aku jatuh cinta sama crowley di situ. Karakter mereka emang beda yang somehow blend gitu jadinya gemash. Dua-duanya suka ngajak tengkar, tapi kalo Aziraphale edisi baik, Crowleynya agak galak LOLOL.

      Bisa dong, di bold leh ugha, ngasih link dll. Itu juga udah ke italic kok 👍👍👍 iya biasanya make html, tapi beberapa ada yang enable markdown. Di line aja kak, soalnya kalo typing di comment htmlnya automatically keganti gitu hahaha.

      Thanks kak, keep writing too :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s