Joshua mengenal wajah tersebut; seorang prajurit musuh yang dua jam lalu ia tembak dari jarak dekat.

Photo © Derek Zabrocki || Set in a fictional time and place.

Joshua mendengar letupan, tangisan, dan rintihan; semua bercampur baur menjadi satu semenjak enam hari ke belakang. Dia sudah mulai terbiasa dengan puing-puing bangunan yang berserakan, berbagai macam barang di atas tanah, pula debu tebal yang hinggap hampir di setiap sudut area ini; semua hanya makin buruk, tidak berubah, terkecuali untuk sore ini. Tanah-tanah yang sekarang dia pijak lembap, lebih lunak daripada biasanya lantaran jutaan tetes air hujan turun dengan frekuensi lambat, namun terus-menerus. Airnya mengiringi langkah Joshua sembari menyapu debu dari kedua pipinya juga senapan yang ia jinjing, membasahi baju para tentara yang tengah berjalan menggendong temannya, atau yang sudah tersungkur tak berdaya di atas tanah.

Dalam kesunyian Joshua melangkahkan tungkainya, memandang sekeliling yang penuh dengan tubuh lelaki berseragam sama dengannya pun yang berbeda. Dia terus bergerak menuju kemah—hanya ingin cepat kembali—namun seseorang di bawah atap bangunan secara tidak langsung menghentikan langkahnya. Lelaki itu terkapar tidak tersentuh rintik hujan dan menampilkan raut sedih.

Joshua mengenal wajah tersebut, seorang prajurit musuh yang dua jam lalu dia tembak dari jarak dekat. Waktu itu letupan senapannya disusul oleh suara debum tubuh tersungkur pula sebuah teriakan tertahan. Seperti sebagaimana harusnya, sebab dia telah mengosongkan jalannya dari lawan, tungkainya segera berjalan maju ke koordinat tujuan awal. Di antara geraknya dia mendengar tangisan dari tempat prajurit tadi tertembak, Joshua hanya bisa menoleh sejenak sebelum temannya menarik dirinya ke kiri untuk mencari tempat mengintai yang aman.

Sekarang, kedua iris cokelat Joshua mengamati tubuh itu. Pandangnya dapat melihat sisa air mata yang mengering menuruni kedua sudut pipi, satu tangan yang menutupi paru-paru kiri (tempat di mana peluru Joshua berada), dan tangan kanannya menggenggam selembar potret sepia—Joshua mengambilnya.

Ada lelaki itu sendiri bersama seorang gadis kecil—empat atau lima tahun—yang berada dalam gendongannya; di sebelah kanannya, seorang wanita tengah memegangi topi di atas kepala yang agaknya hampir terbang disapu angin; mereka menghadap ke kamera sambil tertawa ceria. Keluarga, kalau boleh Joshua bilang, keluarga dengan kebahagiaan kentara dan meluap hanya dari satu foto; keluarga yang senyum-senyumnya telah direnggut Joshua. Ketika mereka bertiga berkumpul kembali, hanya akan ada seorang wanita yang terisak mengantar peti mati sembari menjelaskan apa yang terjadi pada anak perempuannya.

Setetes air mata lelaki tersebut turun yang segera dibasuh hujan, sementara wajahnya menoleh dari potret tersebut.

Dia kerap kali emosional di medan tempur, namun tidak pernah yang seperti ini. Ngeri ketika sebuah peluru hampir saja menembus jantungnya, lantas rasa bersyukur menjalarinya; dia marah ketika teman masa sekolahnya ditembak mati, air matanya keluar diiringi bayang akan istri yang baru dipunyai temannya menjerit-jerit; dia sedih, akan hampir segala tindakannya menembak seseorang yang hanya menjadi bidak dalam perang. Namun sekarang, rasanya campur aduk, dia marah telah mencabut keceriaan dan nyawa dari manusia tidak berdosa; takut akan fakta bahwa jika dia menang atau kalah, nyatanya dia seorang pembunuh; sedih bahwa kini dia tahu pun begitu sadar, banyak kehidupan sudah hancur.

Akan tetapi, Joshua bisa apa? Dia tidak memiliki pengaruh di pemerintahan, tidak punya otoritas untuk melakukan negosiasi; dia sama tidak berdayanya dengan semua orang dalam tanah ini, terpaksa menjadi bidak demi membela negara.

Pada akhirnya, besok dia akan terus berperang, sembari berusaha tetap hidup dan mengembalikan ketenangan negaranya, walaupun dia harus membunuh lebih banyak orang—menyingkirkan harapan orang lain. Joshua hanya berharap, bahwa masih ada kehidupan selanjutnya yang lebih baik untuk mereka yang rela berkorban, dan sebuah tangis yang akan segera digantikan oleh keceriaan baru untuk orang-orang yang ditinggalkan.

Lelaki itu berjongkok di samping prajurit lawan yang dia tembak mati, Joshua menyatukan kedua tangan lelaki tersebut pula menyelipkan potret yang tadi dia perhatikan.

May you rest in peace,” ujarnya sebelum kembali berjalan menuju tempat peristirahatan.

Langkahnya pasti, sementara pikirannya melayang jauh. Hari-harinya setelah ini tidak akan pernah tenang.

Di lahan inilah dia membunuh puluhan orang, di perang inilah dia merebut seorang ayah dari anak kecil, dan di pertempuran inilah dia punya memori yang akan terpatri sampai mati; menghantui, kapan pun, di mana pun. Di bawah guyuran hujan Joshua membiarkan air matanya berurai, berharap agar rasa yang mencengkeram jantungnya bisa lepas sekaligus meminta agar kesalahannya bisa diampuni seorang anak perempuan.

“I think there will be some specific faces that’s going to haunt me. A man, a woman, and their child, laughing in the beach. Then seconds later, there will be only two of them, crying in a graveyard.”

end.

Notes:

  1. Dibuang sayang hahaha.
  2. Well, ini tadinya buat event, tapi seperti biasa aku gagal menyelesaikannya HAHAHA. (yang di atas part satu, part duanya setengah jalan :( (quote terakhir potongan cerita di part dua…)).
  3. Judulnya harus diubah karena part duanya (yang bitter/sweet) gak ada, dan aku mentok ✌️✌️✌️
  4. Aku gak tau kalian bayangin Joshua siapa (mungkin tagnya belom keliatan LOL), bebas sih sebenernya. Tapi aku berniat nulis Joshua Hong dan dia gak punya foto sedih atau nunduk tanpa senyum LOL, jadi aku taruh di bawah aja mukanya.

qq9wKFb

I’m done with UAS, so I should be on holiday, but yeah… LOL. Anyway, happy holiday and Ramadhan, all! Hope you have fun and bliss :)

Advertisements

25 thoughts on “Devastated at Sundown

      • kaksher haiii ☺☺ maafin baru muncul sekarang habisnya aku kira ini bakalan action war yang serang2an HAHAHA taunya malah angst-family. aku kaget joshua dijadiin tentara, soalnya dia kan tampang gentlemen prince-like gt. tapi di sini dia lembut banget kok jadi tentara yoksi gentlemen. baca ini aku jadi kepikiran “iya juga ya berarti prajurit2 itu secara gak langsung adalah pembunuh???” tapi mau gimana lagi sih wong mau bela negara :( semoga si bapak rest in peace yha :”)

        aku suka karakter joshua di sini, suka juga sama tulisan kak sher. yosh semoga hasil UAS-nya memuaskan yha kak sher, keep writing & happy ramadhan! <3

        • AKU JADI MEMPERTANYAKAN KENAPA MILIH JOSHUA. Sempet kepikiran Mingyu atau Seungcheol, tapi… yaudah deh Joshua aja, idk why HAHAHA.

          Dulu sempet nonton dokumentari gitu, banyak dari mereka menderita trauma gara-gara ngebunuh innocent people, dan lain-lain :(

          Amiiiin :”” Makasih ya Ais, keep writing too ♡♡♡

  1. Pas baca awalannya aku pikir ini mystery apa fantasy gitu tapi ternyataaaaaa 😂 family 😢
    Karena awalnya udh ekspektasi genre berbeda, galaunya masih nanggung dan harus nunggu next chapter, ya Allah, semoga hati aku kuat 😂
    dan iya sih ngebayanginnya joshua sebentin yg jadi prajurit ㅋㅋㅋ
    tadi ada typo sih beberapa sher, but nice!

    • Halo kak! Aku bingung mau masukin ini genre apa sebenernye hehe, tapi kalo fantasy sepertinya aku belum kuat bikin LOL, dan… kayaknya chapter selanjutnya gak akan release deh :( jangan berharap terlalu banyak kak.

      And thank you for the reminder :)

  2. Kak Sher ini ….. sedih. Aku nggak bisa bayangin Joshua jadi tentara; ngebunuh banyak nyawa pakai peluru yang memang tugasnya- aku nggak bisa :( ngeliat Joshua mukanya suram aja uda “heh jangan nangis dong akunya” HUHUHU
    Tapi cerita kakak tuh bagus banget :( ada sedih-sedihnya gitu waktu baca, apalagi yang kalimat terakhir UGH. Nice story, Kak Sher! Keep writing ya kak 💜

    • HI CATH! Ya ampun kita sudah sangat lama tidak mengobrol.

      Jangan sedih-sedih :” Aku juga sebenernya agak gak bisa bayangin oppa korea jadi tentara soalnya… gak tau, kayak kasian dan gimana gitu.

      Thank you so much Cath ♡♡♡ keep writing too ya :)

      • iya nih kak, udah lama ya nggak saling balas di kotak komen wkwkwk.
        huhuhu joshua kalo wamil nanti gimana ya kak, nggak bisa bayangin aku :” ngetik cerita yang berbau tentara tuh buat aku sesuatu sekali HUHUHU tapi ini bagus, pake banget ((bilang lagi))
        you’re welcome kaaak ♥ ayo sering-sering ngobrol kayak dulu kak wkwkwk :))

        with love,
        kate x

        • Aku selalu gak kebayang gitu kalo ada idol korea yang wamil, tapi pas wamil jadi nice juga :” hahaha, makasih sekali lagi ya cath :)

          Semoga kita muncul di wp di saat yang bersamaan ya ;) ♥♥♥

  3. Halo Kak Sher! :D
    Seneng deh liat update-an Kakak soalnya aku ngerasa kok Kakak kayak menghilang dan ternyata hiatus buat UAS xD semoga memuaskan deh uasnya Kak ;)

    And then aku kira ini genre-genre action gitu. Kalo boleh wadul, aku rada-rada sensitif banget sama tema perang dan tentara kayak gini. Apalagi Kakak nyelipin unsur family yang asdfghjkl aku udah ga bisa ngomong apa-apa.

    Nice one kak! Keep writing, Kak Sher :D <3

    • HI VRIS!

      Kita kesannya lama banget gak ngomong apa-apa ya hehe. Aku mau ketawa aja sebenernya kalo ada yang ngomongin uas LOL, tapi makasih buat doanya, Amin :””

      Hahaha aku belom menjamah action nih. Wah, aku sebenernya… gak tau pas ada event ini, aku langsung kepikiran perang aja :( Dan… emang anak perempuan cewek itu yang selalu mau aku tulis kalo jadi nulis perang hehe.

      Thank you vris ♡♡ Keep writing too :)

  4. hello sher! btw tapi sher di aku kebayangnya joshua svt kok hehe. ternyata pas ya dia jadi prajurit gini, ih suka deh :’)

    btw kalo bikin cerita perang gini yang jadi highlight pasti perang emosi karakternya ya. yang mikir dia pembunuh lah, yang mikir dia udah seenaknya ngambil nyawa orang lah, tapi di sisi lain juga kalo dia nggak gitu berarti dia sama negaranya yang mundur, atau salah-salah dianya yang mati. terus kalo udah bawa-bawa cerita keluarga, wah … udah deh udah a whole new level. udah angst banget suasananya hehe.

    aku suka bagian yang joshua milih ngedatengin si pria yang dia tembak, terus di situ dia kaya having deep thought gituuu. nyampe ih feelnya ke yang baca hehe. suka banget pokoknya. dan langsung trenyuh pas joshua bilang: may you rest in peace :’)

    suka ih! hehe. keep writing yaaa! :D

    • Hi kak Fika! Kayaknya ini tanda-tanda kak fika sudah mulai mengenal dan terbiasa sama seventeen deh X)

      Sebenernya aku mau ngehighlight the destruction after war, cuman gak kuat research LOLOL. Tapi emang emosi di perang paling greget buat diceritain, sedih :” semua serba salah.

      Pingin banget dari dulu emang nulis tentang rasa bersalah ke anak perempuan itu, gak tau kenapa :” dan… aku ngerasa semua yang perang pasti pingin siapapun rest in peace :”)

      Makasih kak fika :) Keep writing too!

  5. KAKSHER AHHAHA Maaf ya baru komen, aku hampir lupa kalau belum komen :(
    Kaksher dulu juga udah pernah nulis joshua svt nggak sih? Jadi, aku langsung kebayang dia waktu baca nama “joshua” dan ternyata bener huehue mau garuk tembok rasanya :( Jujur aku yang kayak, “HAH?!?!?” baca cerita ini, soalnya joshua mukanya angelic gitu dan tiba-tiba dia jadi tentara yang seharusnya sangar tapi dia di sini tampak lembut banget. Hatiku jadi lemah. Tapi di sini kebayang banget kok sedihnya dan nyeselnya joshua.

    Tolong deh kaksher ajari aku buat deskripsi panjang yang nggak membosankan!? Feel-nya kerasa banget kak, pengin nangis 😭 Terus ending-nya juga bikin aku bener-bener mau nangis :( Quote akhirnya juga sesuatu sekaliii ih kzl deh.

    Well, you did a great job kaksher 😍😍 Ditunggu karya lainnya HEHEHEH! <3

    • Hahaha Shia, gak usah maaf-maafan kali ;) Santai aja.

      Pernah hehe, inget aja, padahal yang itu acak-acakan banget setelah aku baca lagi LOL. Gak tau kenapa, Joshua adalah satu dari sedikit anak seventeen yang struktur mukanya lebih ke strong dari pada angelic, jadi aku pake aja 😆😆😆

      Gak usah minta ajarin Shia, your writings are great in your own way kok 😉😉

      Thank you shia 💝💝💝 ditunggu karyamu juga ya :)

  6. YAAMPUN SHER, lama engga balik pas nemu notif dari kamu daku bahagia masaa :D :D

    emm, apa ya. mungkin pengaruh di daerahku sekarang lagi terjadi bencana alam erupsi gunung, pas baca ini feel yang kamu bangun tiba-tiba ingetin aku sama pengungsi di daerah aku tinggal. heuheuu, maafkeun vana jadi baper, tapi pas baca bagian josh yang mikir setelah dia nembak itu rasanya ngena banget lah. apalagi pas ‘may rest in peace’ duh, aku gabisa bayangin kalau jadi josh, berdebat sama diri sendiri pastinya. rasa kalut josh disini sukses kamu gambarin, sher. deskripsi kamu selalu juara lah, aku selalu give up kalau udah bahas deskripsi yang engga buat bosan /kapan yhaa aku bisa nulis gini/ :)

    keep writing yaaa yang udah siap UAS, ciyeeee. <3

    p.s: banyak yg udah mulai libur tapi kampusku baru uas minggu depan, aku sedih. HAHAHA

    • Hi kak :) Lama gak ngobrol di wp hehehe.

      Waduh… kak vana gak apa-apa kan? :( semoga keluarga baik-baik aja, dan cepat berlalu. Hehe, kayaknya may you rest in peace satu-satunya hal proper yang bisa dia lakuin saat itu, jadi… yaudah. Gak usah nulis gini aja hahaha, pasti tulisan kakak bagus dengan caranya sendiri 😉😉😉

      Aku udah libur harusnya, tapi hari ini kelas lagi LOLOL. Anyway, thank you, and keep writing too ♥︎♥︎♥︎ Semangat uasnya kak!

  7. Sher, kenapa aku melewatkan ini ToT Kirain ini action fantasy blablabla krna aku gak minat crita bergenre itu. Ternyata aku salah besar. Ini…demenanku banget T_T
    Ceritanya menyesakkan dada banget. Singkat tapi jleb, sarat makna. Huhu, aku suka sekali, itu saja :”
    Dan tentara itu profesi yang bener2 mengaduk emosi dan sanubari. Being inhuman for humanity :^ (kalimat apa ini .=.)
    Keep writing ya! :D

    • Belum berhasil menyelesaikan tulisan action/fantasy kak hehe.

      Tentara sama dokter jadi dua profesi yang menurutku… melibatkan banyak emosi :” dan aku suka kata-katanya, Inhuman for humanity, bisa juga.

      Thank you kak, keep writing too ya :)

  8. God- Aku sedih banget bacanya karena 1) Mas Joshua bunuh-bunuhin orang 2) Deskripsi tentang keluarga yang ditinggal prajuritnya itu bikin emosional. Tapi ya gimana namanya perang, kalo pemerintah udah bertitah kita yang rakyat biasa bisa apa, apalagi yang laki-laki :”
    Beberapa hari yang lalu aku barusan nonton film dokumenter buatan Perancis, judulnya “Human”. Di situ ada beberapa tentara yang cerita kalo mereka sebenernya nggak mau perang, tapi karena tuntutan kondisi terpaksa ngangkat senjata. (filmnya recommended sekali buat ditonton, Kak :D)
    Terus line “may you rest in peace” itu bikin makin sedih, bisa bayangin perang batin macam apa yang dialami sama Mas Josh.
    Aku suka deh soalnya di sini ada moral value tentang kemanusiaannya, jadi kaya ngingetin kalo mau berbuat jahat sama orang lain itu jangan cuma mikirin dendam sama ego, tapi mikirin resiko serta apa yang ditinggalkan orang itu ketika kita menghilangkan nyawa mereka.
    Keep writing ya, Kak Sher ^^

    • Kalo bisa milih sepertinya rakyat lebih baik gak perang :” tapi kalau pemerintah, well, pasti ada alasan di balik perang-perang dan aku gak bisa ngomong banyak soal itu.

      Aku juga pernah nonton film dokumenter, tapi cerita soal PTSD gara-gara, setelah perang mereka sedih/stress sadar yang dibunuhin innocent people gitu :(

      Anyway, makasih Rani buat reviewnya sama rekomendasi filmnya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s