This is a portrait of a tortured you and I.

Photo © Alicia Magnuson || This is the edited (cut) version, unedited (messier) on page 2. || Parental guidance.

I’ve been up in the air, out of my head.

Maude menarik kedua sudut bibirnya tinggi sekali sementara Drustan di hadapannya tengah bercanda.

Mereka tidak bisa lagi menghitung seberapa banyak waktu yang habis hanya dengan bahagia ketika mereka bercanda, seberapa banyak aksi dan kepentingan yang mereka lupakan demi menghampiri satu sama lain di saat jatuh, tidak pula bisa mengingat jumlah hati yang mereka patahkan hanya untuk saling bersama.

“You’re in debt for stealing my heart,” Maude berbisik pada suatu sore di hadapan matahari tenggelam, sementara kekasihnya tengah memeluknya sembari mengembuskan napas di leher putih si wanita.

Drustan tersenyum, “In return, I’ll give you my last name.”

Stuck in a moment of emotion I destroyed.

Wanita tersebut duduk di sudut bistro, tangannya tengah mengaduk minuman di atas meja sementara. Lelaki di bangku depannya menatap segala gerik Maude penuh pandang tertarik, memerhatikan senyum malu-malu yang sedang timbul ketika sebuah pujian ia lontarkan.

“Mathilda,” panggil si lelaki.

Maude mengangkat kepala. “Ya?”

Tidak ada jawab, tidak ada lagi tanya. Mereka hanya saling memandang dan tersenyum bersama.

Di pinggiran jalan, sembari menaruh kedua tangannya yang agak beku di dalam kantung jaket, Drustan mengobservasi kedua jiwa tersebut selama beberapa menit. Lantas ia pergi bersama badai yang berkecamuk di dada.

All of the laws I’ve broken, loves that I’ve sacrificed.

Dicabik lagi, hatinya.

Drustan pagi ini merangkum bibir seorang wanita dengan miliknya, di hadapan sebuah pintu lift. Maude memisahkan Drustan dari seseorang yang tengah dicumbunya, mendorong wanita jalang tadi ke dalam lift, lantas menekan tombol menuju lantai dasar.

Ada hening panjang, bibir yang sama-sama tidak ingin berucap lebih lanjut lantaran tahu kalimat apa pun yang akan mereka keluarkan tidak akan meringankan suasana.

This is a portrait of a tortured you and I. 

Kalau ia adalah lelaki lain, atau kekasihnya bukan Maude, mungkin Drustan seharusnya sudah mendengar tangisan seorang wanita, lantas lelaki itu sendiri yang akan takut telah melakukan kesalahan. Akan tetapi, ini mereka; kala Drustan melempar gelas ke arah tembok, kemudian satu pecahannya menggores pipi Maude, alih-alih berteriak ngeri atau menangis, wanita berambut gelombang tersebut hanya bergeming sejenak sebelum melangkah keluar dari pintu rumah.

Drustan mengejarnya seketika, mencengkeram lengan Maude hingga menimbulkan bekas kemerahan. Kemudian, makian demi makin memenuhi beranda rumah si lelaki. Cacian yang menyebut Maude jalang keluar berkali-kali bersama cengkeraman Drustan yang kian kuat; tidak ingin melepas kekasihnya sampai ia puas menghina.

Intonasi Drustan makin meninggi. “Fuck you.”

Yeah, go.” Intonasi Maude langsung meninggi. “Fuck me.”

Chasing a dream so real.

“We can see crystal clear, that the inevitable end is near.”

“I know, but even if it ends, my heart still would belongs to you.”

I’ll wrap my hands around your neck so tight with love.

Sekali lagi.

Setelah puluhan kali Drustan memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka, setelah Maude berkata setiap hari bahwa semua telah usai; sekali lagi mereka bangun sembari saling memandang manik karamel milik satu sama lain. Akan tetapi, kali ini sebuah hal berbeda; tidak ada rasa emosi marah untuk saling memaki lantaran aksi mereka tadi malam, atau dorongan kuat untuk saling mencumbu satu sama lain di pagi hari. Detik itu, cuman ada kekosongan yang menyelinap di ruang hati dan pemikiran keduanya.

Drustan bangkit dari tidurnya, kemudian segera memakai pakaiannya yang berserakan di lantai kamar kekasihnya. Sedangkan si wanita hanya terduduk dan memandangi seseorang yang dipastikan akan keluar tanpa sepatah kata pun, membiarkan hari ini seakan tidak pernah terjadi—namun, ia salah. Lelaki berambut hitam pendek tersebut berbalik demi menatap Maude lekat-lekat, ia berjalan mendekat, dekat sekali. Bibirnya ia letakkan di atas milik kekasihnya.

Maude ingin memberontak, mau mendorong tubuh Drustan hingga jatuh menghantam lantai, tapi ia malah bergeming, membiarkan bibir bawahnya digigit kuat sampai ada darah yang terkecap. Lantas, interaksi itu diputus sekonyong-konyong.

Nyalang matanya menatap milik lelaki yang adiktif untuknya, menemukan sebuah tatap memohon. Memohon akan apa, wanita itu sendiri tidak yakin. Maude tahu apa yang tengah berkecamuk di pemikiran si lelaki persis seperti miliknya, namun ia tidak bisa mengurai itu dengan mudah.

Mereka adalah candu yang tidak ingin bersama, namun tidak bisa lepas.

Hanya saja ada sebuah limit yang tidak bisa dilampaui tanpa merusak keduanya secara utuh; luka yang tidak akan pernah tertutup, pecah yang sebagian besar bagiannya hilang, jiwa yang tidak akan percaya pada cinta lagi tanpa merasa sakit. Maka, saat pandang itu bertemu, semua dinyatakan usai dalam diam; hening yang berkata bahwa semua ini tidak akan pernah terlupakan, namun berpura-pura lupa akan satu sama lain adalah hal yang harus di lakukan.

Sedetik lebih lama lagi untuk mengingat masa lalu mereka, sebelum semua dibiarkan lindap dari kenyataan.

Kemudian Drustan mengecup kening Maude dan pergi sembari mengingatkan. “This is the end.”

Take no more.

end

Note:

  1. Actually, quite an old writing.
  2. Ditulis karena pada suatu malam nge-suffle lagi 30 Seconds to Mars terus keplay lagu Up in The air, dan mengingat bahwa lagu dan videonya pernah menjadi kesukaan. Dan… lyricnya seru abis dijadiin bitter/(yang sebenernya gak) sweet.
  3. Dengerin nadanya tuh asik, pas baca liriknya itu berbagai macem emosi ada, sedih tapi marah, mau lepas tapi masih sayang HAHAHA.
  4. Tadinya nama ceweknya mau Ariadne, tapi nama Ariadne pasti kebayangnya red/ginger hair, meanwhile aku ngebayangin cewek ini blonde.
  5. Potongan dialog beberapa dari lagunya 30 Seconds to Mars juga.


Advertisements

6 thoughts on “Up in the Air

  1. HAH ANJIR AKU JAM SEGINI BACANYA BEGINIAN EWKWKWKWK.

    kak tau ga … pas baca ini tuh aku gatau kenapa lgsg refleks keinget joker&harley quinn LOL model-model hubungan kyk gitu kali ya (!?!?!!). terus … AHAHAHHA ASLI KOK JD BINGUNG GINI BAGUS BGT udah lama ga baca tulisannya kak sher … terus balik-balik nemu beginian ((btw yg page 2 lebih ganas ya ceritanya LOL)) terus ini ga menye-menye …. suka. aku jd pgn dengerin lagunya.

    btw mba boleh koreksi satu ga? he he he ((bacot)) ‘memerhatikan’ = memperhatikan karena kata dasarnya ‘hati’ nggak ‘perhati’ cmiiw!!!! sudah ku suka semangat kembali produktif nulis lagi ok!!!!!!!!

    • HAHAHAHA. Lead singernya 30 Seconds to Mars kan Jared Leto, dia ganteng banget lagi. Apanya bagus, yang kedua panjang terus muter jadi aku cut malah LOL.

      Makasiiih koreksinya tata, miss you

      💋💋💋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s