“But the thing about remembering is that you don’t forget.” ― Tim O’Brien

Photo © Konstantin Gribov

11 short stories.

Umurnya lima tahun dan ia tengah bersembunyi di bawah meja dapur, berharap dirinya lindap dari pandangan di antara bayang-bayang. Ada jeritan mengharap bantuan di luar sana, kian lama makin tak berdaya pun terdengar depresi. Lantas suara tersebut berhenti di tengah teriakan tertahan, disusul oleh ujung mata pisau yang basah dan sebuah mata dingin yang muncul di jendela dapur.

Siluet tubuh tersebut tegap dan besar, menyisakan memori yang tidak pernah ia lupakan, apalagi sebuah manik hijau yang menatap langsung milik si bocah sebelum kabur di tengah pekatnya malam.

Umurnya 23 tahun dan Hera meringkuk di pinggir sofa. Bayangan itu menyergap lagi ketika seisi rumahnya kehilangan cahaya. Lantas ia hanya bisa menangis dalam diam, sendirian.

Dominic pada masa awalnya bersekolah hanya mendapat permen-permen, biskuit, atau es krim murahan kalau menginginkan camilan manis, bukan seperti kue mahal yang dibelikan orang tua dengan jas cashmere kepada anaknya. Kecuali pada satu waktu—yang kalau ia ingat, membuatnya merasa bersalah—ia merengek minta sepotong baguette dari toko roti yang baunya sangat menggoda. Ayahnya memaksa anak itu untuk tetap pulang, mengabaikan tangis Dominic yang begitu nyaring.

Air matanya belum mengering ketika malam hari setelah ayahnya pergi, berbagai macam roti lembut tersedia di atas meja makannya. Ia dan dua kakaknya buru-buru berlari dari kamar ketika mencium baunya, mereka tersenyum lebar diikuti oleh milik orang tuanya. Para anak kecil itu tidak mengetahui hingga sepuluh tahun ke depan, bahwa ada tabungan untuk motor yang lenyap sehingga ayahnya terpaksa berjalan ke tempat kerja untuk beberapa minggu lagi.

Ketika keluarganya kadang berlibur ke rumah lama di Chester, ia masih sering datang ke toko tersebut, mencoba roti yang berbeda-beda sembari duduk di pojok ruangan bersama anggrek kuning. Lantas pulang membawa setumpuk plastik penuh roti, membawa hangat dan kenangan untuk keluarganya.

Tungkainya bergerak maju mundur dan roknya sesekali mengayun disambut angin. Ia datang menemani Angkasa yang tengah menatap kepada entah apa di langit sore—well, lebih tepatnya ia mengawasi lantaran takut lelaki itu melakukan hal tidak wajar di atas gedung apartemen. Namun mengobservasi bungkam si lelaki, ia tahu bahwa ada sesuatu yang menahan Angkasa.

Gadis itu meraih lengan temannya. “Sa, kadang lo gak perlu pura-pura lagi, kalau mau, nangis aja.”

Kedua pupil Angkasa melirik temannya, lantas ada air mata yang mulai menggenang di sana. Sedikit demi sedikit airnya mengalir makin cepat, bersamaan dengan Angkasa yang mulai terduduk di lantai. Si Gadis perlahan menarik kepala Angkasa ke atas kedua pahanya, mengelus rambut si lelaki pelan tanpa suara.

Nadya, orang yang tidak akan mempertanyakan apa yang terjadi, teman yang membuat Angkasa tidak takut terlihat lemah di depan orang lain.

Pelupuk matanya digenangi air mata, sementara si lelaki memeluknya erat-erat. Mereka berdiri di atas jembatan bersama teriakan-teriakan yang kemudian mengudara, disusul dengan jeritan yang terdengar begitu miris.

Menangis. Menjerit. Meronta.

Sandra kalut lantaran Angkasa tidak membiarkannya mati.

Liburan di Selatan California tidak meninggalkan kesan yang Nino harapkan. Maunya ia bisa tertawa bersama teman masa kecilnya, lantas pergi keliling kota dengan paman dan bibinya. Satu panggilan di sore hari kala ia tengah bernostalgia dengan temannya, mengubah hangat air laut yang menabrak kakinya jadi terasa dingin.

Berita tentang bibinya yang dibunuh oleh pencuri menjadikan hatinya kacau, sementara tungkainya langsung berlari menuju mobil dan pulang ke rumah keluarganya. Dua jam ia mengemudi bagai orang kesetanan ditemani oleh CD lagu Eric Clapton milik pamannya. Air matanya meruah lagi ketika lagu Tears in Heaven memenuhi mobil, sedangkan otaknya bertanya bahwa mungkinkah ia tidak perlu mendengar berita kematian seandainya saja ia tidak pergi, seandainya saja ia melindungi bibinya.

Jika ia tidak bermain dengan temannya, dunia akan baik-baik saja. Pasti, kan?

Tangisnya kembali mengalir. Ia akan membenci pantai Crystal Cove dan lagu Tears in Heaven sampai entah kapan.

Tidak sedikit pun menyangka akan pulang ke Indonesia bersama duka, bukan cerita menyenangkan tentang seberapa indah liburannya.

Orang asing dapat mengubah sudut pandang manusia hanya dengan pertemuan singkat dan untuk Andrea bukti paling benar dari pernyataan itu adalah ketika seorang laki-laki membuatnya merasa malu pun berterima kasih di waktu bersamaan.

Pukul sebelas malam di kereta terakhir menuju Bekasi, wanita tersebut tengah duduk bersama lima orang lainnya; satu di hadapannya, sisanya tersebar agak jauh. Kepalanya sakit dan sekonyong-konyong, ia limbung ke depan, hampir jatuh jika saja orang di kursi depan tidak menahannya dan menyandarkannya kembali. Lelaki itu menyodorkan sebotol air yang dengan cepat ditolak si gadis—takut diracuni, diculik, dan dimanfaatkan.

Ia menolak habis-habisan sampai si lelaki agaknya frustasi sendiri, kemudian membuat Andrea menenggak paksa airnya dan memberikan sebotol minyak kayu putih untuk dicium. Ada hening yang menyelinap karena—walaupun telah diselamatkan—Andrea masih tidak bisa percaya sepenuhnya, lelaki itu sendiri sepertinya sadar pun tidak berniat protes.

Orang asing itu berjalan menuju pintu sembari memecah hening.

“Baikan?”

Andrea mengangguk.

Kemudian, si lelaki memberikan sebungkus roti dari dalam tas yang segera diterima oleh Andrea tanpa protes.

“Makan,” ujarnya. “Kalau tidak mau menerima makanan dari orang asing, lain kali pastikan tidak pingsan atau bawa milikmu sendiri. Jangan merepotkan.”

Lelaki itu tersenyum dan menghilang.

Andrea merenung dan memakan roti di tangannya.

Rama hanya pernah di-bully sekali dalam seumur hidupnya. Masa SMA, seorang kakak kelas tingkat akhir—yang digadang-gadang sebagai penakluk wanita, namun bullier tingkat kakap—mencari pencetak poin terbanyak di lapangan basket yang dicap curang, Rama.

Ia ditarik ke belakang pada suatu sore di sekolah, kemudian beberapa tinju dari empat orang mendarat di pipinya. Kaget membuatnya diam, lantas ketika sebuah kesadaran muncul—dan terima kasih kepada ibu yang menyuruhnya belajar Aikido—ia menendang perut lawan hingga lelaki itu terjungkal. Teman-temannya yang terenyak memberi kesempatan untuk Rama yang emosinya terlanjur terbakar memukuli mereka balik, lebih banyak dan menyakitkan sampai temannya menarik mundur Rama.

Di sekelilingnya ada binar terkesan, mungkin bersyukur setelah sekian lama, senior bullier itu tidak berkutik. Tiba-tiba, emosi marah Rama malah berubah sedih melihat tatapan itu, nyatanya sesuatu yang dikatakan masa terindah menyimpan sisi kelam banyak orang-orang.

Isla setengah mabuk masuk ke atas peron kereta bersama tiga teman gadisnya, ditambah dengan dua orang orang pria—yang berambut hitam adalah kekasihnya. Walau beberapa orang yang mengisi kereta sepi ini meliriknya sebal, tawa cekikikannya masih tidak berhenti, toh ia tidak akan peduli. Orang-orang di sini tidak akan mengenalnya; tahu pun, mereka tidak akan berani macam-macam dengan the oh-so-pretty Isla si Ratu Sekolah; jangan lupakan juga James kekasih tampan yang siap melindunginya.

Seseorang menyenggolnya. Ia tersentak, lantas bayang tentang dirinya yang menjadi gadis di ujung sana runtuh sekonyong-konyong. Sebab, Isla hanya seorang gadis biasa yang tidak menarik.

Lazarus, lelaki penikmat hidup sesuka diri yang tidak yakin apakah hatinya bisa berperasaan. Kemudian pada suatu sore yang terik, ia dapat melihat seorang anak kecil dengan muka kusut yang siap menangis lantaran es krim miliknya jatuh. Mata Lazarus yang dilapisi kaca mata hitam melirik es krim di tangannya sembari menghela napas, spontan ia melakukan hal yang dianggap tidak berguna dan bodoh; berjalan mendekat.

Dirinya berjongkok sementara senyumnya mengembang. “Want some?”

Anak itu tersenyum lebar sampai-sampai giginya yang bolong terlihat jelas, sementara si ibu berterima kasih beberapa kali. Es krim di tangan Lazarus diambil oleh si bocah kecil sebelum ia menjilatnya dengan bahagia.

Ada perasaan yang ingin Lazarus sangkal ketika si anak pergi bersama ibunya; sebuah rasa hangat menjalar pada dirinya. Ia tidak menyangka—atau menerima—bahwa dirinya senang juga bersyukur ada sebuah senyum tulus yang disebabkan olehnya.

Tidak. Ia tidak akan menjadi lemah lantaran seorang bocah.

Wajah tampan, harta, jabatan, kecerdasan; bagian mana yang tidak Drustan punya?

Pagi ini sesuai ia bersiap melangkahkan diri menuju rutinitas kerja yang membosankan. Akan tetapi, tepat ketika tangannya membuka pintu rumah, ayahnya memanggil.

“Where are you going?”

“Work.”

“No. Today you’ll stay, someone will come to teach you about our business.”

Lelaki itu mengangguk menuruti perintah ayahnya.

Apa yang tidak dimiliki Drustan? Kebebasan.

Maude menyusun laporan di atas meja kerja tersebut, membolak-balik halamannya sekali lagi untuk memastikan tidak terjadi kesalahan. Drustan di baliknya, dengan kedua tangan masuk ke kantung celana, mengobservasi kerja si wanita.

Another plan to steal stocks?”

No,” Maude menjawab singkat. “Today he told me to plan something way more complex.”

And what is that?

Pupil nyalang Maude menatap lekat lelaki di hadapannya, sementara satu tangan kanannya meletakkan sebuah pistol di atas tumpukan kertas. “Assassination.”

end.

Note

  1. Bēon (old English) means be, to be, or exist.
  2. Diurutin sesuai yang paling pertama karakternya aku buat sampe terakhir.
  3. Cerita panjangnya Drustan sama Maude masih ngawang, jadi ceritanya cacat.
  4. Bagian Nino diambil dari sebuah komen 9gag yang ya ceritanya kayak gitu.
  5. Makin lama makin panjang (dan gak jelas), dari Sandra yang cuman secuil sampe Andrea yang panjang amat LOL.
  6. Guess their relationship with each other hahaha.
  7. 10 hari buat ini, kayak seorang 1 hari  😂😂
Advertisements

4 thoughts on “Bēon: A Time that Changes Their Sentiment

  1. Mikirnya keras nih kalo mau ditanya hubungan antar Chara apa, aku gak ngikutin ocmu huhuhu
    Tapi feel yg disuguhkan di setiap ceritanya beda2, aku suka :)
    Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s