Tunggu. Aku geming sejenak. Ada kebodohan di sini.

Photo © sphmao

Warning: Improper story and sensitive topic for some.

Lelaki itu berpikir dapat membodohiku selama ini, membayangkan jika dirinya memacari seorang wanita. Salah besar. Pengakuan yang ia pikir dapat menjadikanku jijik terhadap dirinya dan lari menjauh, malah cuman membuatku geming bersama satu ujung bibir yang terangkat. Kemudian ialah yang terkejut lantaran aku tahu rahasianya selama ini, ia menangis—berpikir bahwa seandainya aku tahu, aku akan pergi.

Dasar bodoh.

Setiap kali ia menyebut “calon pacar” tidak pernah ia memanggilnya dengan wanita atau apapun yang menandakan ia adalah perempuan; setiap kali ia ingin bersama si Kesayangannya, tidak satu kali pun ia ingin menunjukkan siapa; lantas ada satu nama lelaki yang sering muncul di notifikasi ponselnya. Menghindar dariku tidak berguna, semua jelas, puzzle-nya sedikit demi sedikit menyatu. Sayang, aku hanya tidak berani melakukan konfrontasi karena takut memberikan konklusi yang salah.

Baiknya, masalah itu sudah lewat. Buruknya, sekarang problem yang ada adalah ketika ia menangis karena kekasihnya menjadi sedikit berengsek seperti tidak ingin dilihat bersamanya di kampus dan ia makin lama makin takut mendapatkan cacian jika hubungan mereka ketahuan; tabu kan kalau kata banyak orang di Jakarta?

Malam itu aku berdiri di hadapan dirinya yang tengah duduk di atas kasur bersama air mata yang terus mengalir, aku meremas kursi di balik tubuhku; marah dan sakit menyadari seorang lelaki yang terlihat berbahagia di kehidupan seharinya ternyata bisa serusak ini. Kalimat tanyanya keluar, apakah ia tidak bisa memenuhi nilai moral yang dimiliki masyarakat, apakah ia masih bisa mencintai dan menikmati hangat tubuh seorang wanita?

Aku mendekat dan menarik kepalanya ke dalam pelukanku, mengelus punggungnya berharap bahwa ada rasa tenang yang menyelinap ke dalam dirinya. Akan tetapi, kedua matanya malah memandangku dalam, melempar sebuah tatap yang bertanya apakah ia boleh mencoba. Diam. Sarafku kaku ketika tangannya melingkar di pinggangku, apalagi ketika ia menarik wajahku turun dan mulai meraba pipiku. Aku tercengang untuk sesaat, namun ketika ia merangkum bibirku dengan miliknya, tubuhku maju dengan keberanian untuk direngkuh, dan dirinya menginginkan lebih; kecupan, pelukan, hangat.

Mungkin di pikirannya berkecamuk bahwa ia bisa memilih bersama lelaki itu hanya karena ialah yang selalu ada, namun ketika ia mulai mengenalku juga membiarkanku mendobrak ceritanya, semua berubah. Sayang aku tidak benar-benar tahu, maka aku lebih baik hanya menerima ketika kedua tangannya meraba setiap senti tubuhku; meraba tulang selangka hingga turun di antara pahaku. Ia melenguh pun aku.

Tunggu. Aku geming sejenak. Ada kebodohan di sini.

Bibirnya siap meletakkan kecupan di atas leherku sebelum aku menarik diri dari hadapannya. Sorot mataku berubah tajam, sementara pandangannya bertanya kenapa tiba-tiba aku menghindar.

“No. We shouldn’t do this to prove you’re not what you’re.” Ada jeda panjang, hening yang terkesan destruktif, dan aku malah memberi efek tambah. “You’re not going to carry my sin in hell.” 

Aku mundur, menjauh, mengambil langkah seribu. Sahabatku akan menangis, tapi aku tidak berniat mengkhianati Tuhan sama seperti dirinya.

end.

Note:

  1. Maaf ya, percobaan membuat karakter berbeda sama cerita yang ada di grey area.
  2. Boleh banget diprotes kalo ini gak enak nulisnya LOL.

 

Advertisements

4 thoughts on “The Wrong Way to Prove It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s