Hera memiliki 1001 cara untuk melupakan seseorang. Kecuali untuk Dominic karena ia cuman punya satu.

Photo © Kevin Biberbach

Hera memiliki 1001 cara untuk melupakan seseorang. Kecuali untuk Dominic karena ia cuman punya satu, yaitu bunuh diri—yang mana tidak akan ia lakukan.

Coba jabarkan bagaimana caranya ia bisa berhenti menyayangi lelaki tersebut ketika setiap ia tengah berjalan mundur, Dominic selalu saja memastikan dirinya mengganggu. Entah Dominic tiba-tiba sudah merebahkan diri di atas tempat tinggalnya bersama wine di meja, mengirimkan satu paket roti beraroma harum ke kantornya, atau tiba-tiba menghadang Hera di tengah jalan dengan buket bunga di tangan; semua membuat usahanya untuk menyukai lelaki lain buyar sekonyong-konyong.

Bukan berarti Hera selalu menjadi wanita jahat yang ingin meninggalkan dan butuh segala macam sogokkan untuk kembali, terkadang memang ia berpikir lebih aman untuk mengakhiri hubungannya. Lagi pula, kelakuan Dominic yang bisa dinilai agresif tidak sebanding dengan dirinya; Hera pernah memesan tiket pesawat di hari tersebut menuju benua lain, lantas ketika sudah menemukan Dominic di tengah-tengah restoran, bibir lelaki itu segera ia rangkum dengan miliknya tanpa meminta izin—yang kemudian malah diikuti tepuk tangan teman-teman si lelaki.

Pun di tengah romantisme tersebut, masih terdapat hal-hal destruktif di antara mereka. Hera yang membenci perkataan Dominic akan masa-masa pacarannya dengan mantan terakhir—Aoide—yang dilabeli sebagai waktu paling romantis dan konyol, dan Dominic pernah mencaci keadaan ia mabuk pun tidur bersama Hera ketika wanita itu sedang dekat dengan Mino. Ada rasa bersalah dan tidak nyaman yang menyerang, namun mereka tekan sekeras mungkin—karena keinginan untuk memandang mata satu sama lain lebih sering berdatangan tidak kenal waktu daripada kesadaraan diri mereka atas benar dan salah.

Iya, ini soal Hera dan Dominic yang selalu berhasil menginterferensi kehidupan satu sama lain; memotong hubungan mesra milik teman—kekasih, mantan, atau apa pun—karena, oh ayolah, mereka sadar bahwa mereka diciptakan untuk saling mencumbu—cuman membutuhkan sedikit drama dan petualangan bodoh saja. Dan sesungguhnya…, tulisan ini tentang mereka yang berjalan liar di dalam kepalaku, namun tidak pernah aku tuliskan begitu saja; perihal mereka yang entah bagaimana kabarnya setelah ini.

end.

Notes:

  1. Ini kacau gjls, cuman mau nulis mereka aja. YA ALLAH AKU KANGEN.
  2. Dominic tuh karakter cowok yang pas aku tulis ngebuat aku “ah, anjir mau” sendiri, sialan, butuh cowok kek Dominic. Dan Hera adalah kumpulan segala macam kompleksitas yang gak pernah berhasil aku tulis dengan baik.
  3. Terus liat library ada isi mereka doang tapi cuman dikit… sad.
  4. I have their complete story in my mind, how it started, how it ended, but…
  5. Jadi… mereka bakal diapain ya?
  6. Somehow ini malah mau aku masukin ke Seri Namanya (yang belum lanjut juga LOL)
  7. Do many girls dye their hair blonde before get a romantic photoshoot… susah banget nyari yang brunette… :(
Advertisements

3 thoughts on “Tentang Hera dan Dominic

  1. miss dominic-hera hahahaha. Akhirnya kamu balik bawa ini kembali ya, sher. Suka sama deskripsi kamu tentang mereka. Buat aku pribadi sih, ini couple tak akan ada matinya lah.

    Menginterfensi kehidupan.

    ouch.

    Semangat terus yaaaa, kamu ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s