Prove me wrong, Drea.”

Originally posted here.

“Hah?”

Ketika ia dan adik laki-laki di dalam mobil baru saja keluar dari tempat rekreasi, dan tiba-tiba si Adik mengatakan bahwa dunia seperti hukum Markovnikov, jangan salahkan Andrea kalau satu-satunya respons yang ia miliki cuman sebuah silabel. Perempuan yang sedang menggigiti wafel cokelatnya itu langsung saja melempar pandangan apa-apaan-sih kepada Rama.

“Kak,” mulai adiknya ketika melihat raut wajah menyebalkan Andrea, “secara garis besar ini soal yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Okay, jadi untuk informasi kalian semua, Andrea adalah seorang mahasiswi yang cukup mumpuni di salah satu jurusan di bawah naungan FISIP. Sedangkan adiknya yang bernama Rama ini hidup di dunia teknik penuh dengan pelajaran fisika, buta soal ilmu sosial dan sebagainya—yang ia mengerti cuman sedikit urusan geostrategi. Jadi salahkah Andrea jika ia berpikir bahwa adiknya hanya asal bicara atau memang perempuan itu yang tiba-tiba lebih bodoh dari Rama?

“Ilmu sosial dari mana tuh, Dek?”

“Kak, itu hukum kimia. Tentang alkena atau alkuna yang jika diberi tambahan Hidrogen maka senyawa yang memiliki Hidrogen lebih banyak akan mendapatkannya lebih lagi da—wait, gue lupa lo gak akan ngerti juga. Pokoknya, secara kasar kita bilangnya, ‘Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.’”

Sejujurnya Andrea ingin memperdebatkan lebih panjang soal “tidak akan mengerti juga”, bodoh sekali kesannya perempuan itu, namun ia mengurungkan niat dan menanyakan hal lain pada Rama. “Kenapa lo tiba-tiba ngomong itu?”

“Masih ingat sama bapak tua yang minta-minta dan lo kasih uang itu?” Atas pertanyaan Rama, kakaknya mengangguk-angguk kecil. “Pas tadi lo beli wafel—yang fyi, menurut gue sangat kemanisan, lo gak overdosis apa?”

Andrea tidak habis pikir bagaimana caranya bisa punya adik seperti ini. “Ram, fokus.”

“Iya iya,” ujarnya, “ada seorang preman yang dengan kurang ajarnya ngambil uang dari bapak-bapak ini. Lo ngerti? Bahkan manusia berengsek ini bukan orang yang kaya-kaya banget, tapi masih ngambilin uang orang lain, dan orang-orang di sekitarnya kayak gak ngeliat apa-apa. Well, gue juga tidak berniat untuk menghajar preman ini—walaupun gue belajar martial arts—karena mereka pasti bakal main keroyok, jadi cuman gue kasih lima puluh ribu bapaknya, tapi orang yang lain rasanya… literally don’t see anything.

“Atau kayak minggu lalu kita ke pasar—btw, gue gak mau ikut ke sana lagi, tolong diingat. Orang-orang yang berkecukupan, beberapa berkecukupan sangat lebih dilihat dari merk jam tangannya—dan gue bisa membedakan mana yang asli or not. Tapi seperti kebanggaan sendiri untuk bisa menawar dari harga setinggi langit sampai se-per-empatnya, fine, sebagian rasanya memang di luar batas wajar, tapi ditawar sampai dikurangin seribu atau dua ribu lagi? Fucking shit Drea, seribu gak akan bermakna sebegitu besar untuk pembeli yang datang dengan mobil atau pemilik sepatu sampai harganya nyaris satu juta, tapi untuk mereka yang jualan? Itu bisa menentukan mereka akan makan nasi atau tidak.”

Adiknya punya api tersendiri dalam iris matanya ketika amarahnya memuncak, dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Andrea bisa melihat api yang bercampur dengan keputusasaan. Perempuan itu bisa merasakan bahwa Rama yang careless pada nyatanya punya kepedulian terhadap sekitar, sekitar yang memang lebih membutuhkan perhatian. Di saat seperti ini Andrea tidak punya banyak kata-kata untuk diucapkan, sebab yang dibutuhkan adalah bukti nyata. “Ram, gak semua orang kayak gitu.”

I know.” Jawabnya cepat, kemudian hening menyergap singkat sebelum vokal si lelaki timbul lagi. “Actually, I don’t know. There are people who cares, but I don’t think it’s enough to make a better place to live. Terlalu banyak orang yang menimbun uang padahal tidak dipakai, cuman takut hilang; sebagian lainnya menghamburkan uang dalam jumlah kelewat berlebihan tanpa pernah memikirkan orang lain.

You know it takes time to make money, that paper doesn’t just come out when you’re home and watching TV. Maybe they don’t have time. Many of them have people that organized their charity, or they can just give away a big amount of money in one go.

“Apakah mereka benar-benar sadar soal yang jauh di bawah mereka? Yang tidak diurus oleh rumah panti atau komunitas mana pun?” Rama mengakhiri pertanyaan dengan tawa setengah tulus.

There are people out there helping them, some thinking how to help people like that, just like you; but that’s a start, isn’t it?”

“Gimana kalo gini, jika lo ngeliat orang kaya yang mau ngasih lembaran mahal untuk orang pinggiran—yang sudah tidak tahu harus kerja apa lagi. Gue bakal traktir lo Sushi Tei, Holycow, atau Pancious.” Nadanya menantang, tapi Andrea tau bahwa adiknya ingin mendapatkan bukti secara konkret; desperate. “Prove me wrong, Drea.”

Andrea tertawa sesaat. “Skye dong.”

Rama melempar pandangan nyalang, namun jenaka. “Minta sama pacar lo sana kalo mau Skye.”

Obrolan soal hukum Markovnikov—by the way, Andrea sudah tahu bagaimana cara kerjanya pada benzena—telah berlalu berminggu-minggu. Sekarang perempuan itu berdiri di pinggir jalan, memegang tali sling bag-nya sembari memperhatikan puluhan kendaraan yang berlalu di hadapannya—sesungguhnya ia sedang menunggu adik yang dengan kurang ajarnya tidak kunjung tiba.

Pupil hitamnya bergerak tak tentu arah, kadang memperhatikan anak berseragam SMP yang sedang berpacaran, melihat arah mobil datang berharap mobil putihnya segera tiba, atau kadang berpikir mungkin ia bisa menyeberang terlebih dahulu untuk membeli tahu goreng. Tidak ada yang seru, semua hanya situasi biasa, kecuali satu hal yang langsung membuat tulang belakangnya menegak. Di seberang jalan ada orang berpakaian kumuh, lantas ada mobil putih mengilat yang berhenti di depannya; mungkin Andrea tidak bisa melihat secara mendetail, namun ia tahu pasti bahwa digenggaman jemari yang tengah terulur dari dalam mobil, ada selembar uang berwarna merah.

Dirinya masih fokus melihat jalan di sisi lain, ketika sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Kaca penumpangnya terbuka, menampilkan wajah Rama yang dibingkai rambut awut-awutan—habis bangun tidur. “Sorry lama.”

Andrea menghela napas kesal, namun ia seharusnya memang sudah biasa dengan kelambanan Rama bangun tidur. Tangannya membuka pintu mobil, sebelum masuk dan langsung berkata, “Dek, Holycow.”

What?” Rama hanya sempat menoleh sebentar—dengan pandang kesal—sebelum memfokuskan diri untuk memutar setir ke kanan dan masuk ke arus kendaraan. “Kenapa tiba-tiba Holycow?”

Tawa kecil keluar dari ceruk bibir Andrea. “Lihat bapak-bapak dengan baju compang-camping di seberang jalan?”

Rama menghentikan aksinya untuk memutar setir—semoga saja ia tidak tiba-tiba diklakson dengan kejam lantaran berhenti terlalu lama. Kedua pupilnya menemukan seseorang yang tadi dilihat Andrea dan ia tentu menemukan selembar kertas seratus ribu. Ia menoleh. “Lo yakin yang ngasih punya level kecukupan yang jauh-jauh di atas?”

Perempuan itu tidak kaget sama sekali dengan pertanyaan Rama, lelaki itu masih adik kecilnya yang skeptis. Andrea tertawa. “Orang yang ngasih naik Mercedes, which is not the kind of car you can buy with a little money, he’s rich, and yes Rama, you’re wrong. There’s a faith in humanity somewhere.”

End.

Note:

  1. More information about: Sushi TeiHolycowPanciousSkye.
  2. Part duanya anggap bonus, dan itu beneran ada yang kayak gitu, dan reaksiku cuman, “Wow, that’s nice.”
  3. Makasih buat Mba Hilma a.k.a. slovesw dan Mba BBX a.k.a. siluetjuliet yang mau membaca ini terlebih dahulu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s