…, soal kaca yang rusak bentuknya bisa diurus nanti.

Tinjunya menghantam cermin segi empat, menyebabkan beberapa bagian kulit punggung tangannya robek dan ada sisi-sisi yang tertanam serpihan tajam.

Ia menangis.

Bukan menangisi darah yang mulai menguar, tangannya toh sudah kebas; mati rasa. Ia menangisi hidupnya yang kosong, tiada gejolak emosi yang orang-orang berikan padanya—atau setidaknya begitu yang ia rasakan.

Di tempatnya yang baru ini, ia tidak tahu harus berkawan dengan siapa, sementara semua temannya tertinggal di dekat rumah lama. Kakaknya juga pergi jauh ke luar negeri dan sekarang ia tidak tahu harus menangis di pelukan siapa. Ibu ayahnya ada, cintanya, kata mereka, juga ada; namun ia tidak pernah merasakannya, ia hanya pernah merasakan keraguan dalam ucapan mereka, ketidakpercayaan akan hal yang ia jalani.

Ia menangis. Di kamarnya sekeras yang ia bisa; meraung dalam hening.

Kedua orang tuanya di ruang sebelah tidak seharusnya tahu apa yang terjadi, soal kaca yang rusak bentuknya bisa diurus nanti.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s