…, si pelaku kejahatan hanya cengangas-cengenges minta maaf ke arahku.

Aku punya teman dekat—yang kadang tidak kuakui—namanya Nathan. Garis wajah lelaki itu tegas, kulitnya tetap putih bahkan jika sudah dibakar di pantai, rambut hitam agak panjangnya suka di sisir ke belakang. Dia cukup terkenal di kampus, lebih tepatnya kami berdua dan tiga manusia yang lain; tiga lelaki dan dua perempuan dari keluarga atas dalam satu grup. Selain itu kami juga andal dalam pelajaran, atau paling tidak soal musik atau olah raga. Bagaimana tidak terkenal? (Maaf, tidak bermaksud sombong).

Kembali ke Nathaniel.

Semasa tahun kedua kuliah dia adalah orang yang suka berpesta ke sana ke mari, loncat dari rumah temannya lalu ke tempat lain, sesekali membuka pesta di rumahnya sendiri. Aku sering mendampinginya—walau kadang menyenangkan didekati gadis-gadis yang kerah bajunya begitu turun—biasanya cuman untuk memastikannya bisa pulang, namun lebih sering dipaksa. Kadang dia pulang ke rumahnya sendiri, kadang membawa wanita, kadang ke rumah si wanita, tapi yang paling mengesalkan adalah kala dia lupa diri sampai mabuk parah, lantas terpaksa pulang ke flatku dan menginvasi kasur juga gulingku—oh, Miranda, sayang.

Kalau menemaninya pulang, mengesalkan juga sih; dari yang menyapa orang-orang tidak dikenal, berjalan ke tengah jalan, dan sempat berniat kencing dibalik toko farmasi. Anyway, apa yang kusebutkan tadi masih jenis waras, orang mabuk suka begitu, namun dia bisa kelewat batas waras juga.

Suatu waktu kami menunggu di pinggir jalan untuk mencari taksi, dia memegang botol vodka tak berwarna—yang niatnya aku buang, tapi tidak jadi, takut rambut coklat yang baru habis kupotong dijambak-jambak. Aku menjatuhkan hampir seluruh atensi pada mobil-mobil, berharap pada jam sebelas malam ini masih ada taksi yang lewat sampai lupa pada eksistensi temanku. Ketika aku awas bahwa Nathan sudah menghilang, itu disebabkan oleh botol yang membentur jalan diikuti sebuah isakan.

Kepalaku menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria tinggi dengan janggut keabu-abuannya berada dalam pelukannya Nathan. Orang asing itu melempar pandang bingung pada udara kosong (seakan minta tolong diselamatkan dari hantu sinting), sedangkan temanku menaruh dagunya pada pundak lawan sembari terisak dan setengah tertawa. Jarak kami lima meter, namun vokalnya cukup besar untuk di dengar.

“Oh, Dumbledore, you’re alive!”

Sampai sekarang aku masih suka bertanya apa yang dilakukannya waktu itu lantaran kalau dilihat-lihat, si pria asing lebih mirip Gandalf daripada Dumbledore. (Yang kuketahui satu tahun kemudian, setelah dua bulan putus dengan Lucy, bahwa lelaki tersebut adalah pamannya—dunia sempit sekali, ck).

Tapi, hal tersebut bukan yang paling mengesalkan.

Saat itu jam berdentang satu kali. Si manusia yang oh-so-handsome—kata gadis-gadis—sedang feeling emo lantaran perempuan yang dikejarnya, dua hari lalu ditemukan sudah memiliki pacar.

Kami berdiri di celah sempit dua bangunan, kali ini tidak ada vodka, adanya botol bir, dan kali ini aku tidak memanggil taksi. Langkah-langkah terbentuk di antara gang-gang sempit. Flatku dekat, gang adalah jalan tercepat menuju tempat tidur, daripada harus berputar melewati jalan besar yang kelewat panjang, masa bodoh dengan tikus-tikus juga Nathan yang kesandung kayu dan plastik sampah—dia masuk tempat sampahnya saja aku sudah tidak peduli.

Why I’m so stupid, I never see the truth, to choose …” Begitulah racauannya dimulai, awalnya terkesan menyesal, lama-lama dia membanggakan diri sendiri, “Tidak masalah, aku masih punya Ferrari yang lebih seksi darinya,” atau berubah sinting, “Yes, food is the love of my life.” Berakhir dengan dia yang berjalan di sampingku sembari merangkul pundak, agaknya tidak mampu berjalan lurus. “I should’ve chosen someone that always stay by my side.”

Aku mengangguk sambil memapah dirinya yang terlihat bisa hilang kesadaran kapan saja, namun dia malah menolak dan mendorongku sampai berpapasan dengan tembok.

I should’ve chosen you.”

Botol sudah hilang dari genggamannya—entah dibuang ke mana. Aku menatapnya nyalang. Dia menciumku. IYA, MENCIUMKU. DI BIBIR. Kalau begini caranya kubunuh saja dia tadi, mana cepat sekali pekerjaannya.

What the fuck, man!?” Kutinju wajahnya keras-keras, meninggalkan setitik noda darah di sudut bibir—pula rasa nyeri di kelima jariku. Sudah jelas jika kadar alkohol mempengaruhi otaknya kelewat batas, dia bahkan tidak bisa membedakan mana yang boleh disantap mana yang tidak. Tapi aku mau bagaimana lagi!? Nathan bukan lelaki yang bisa diruqyah dalam keadaan seperti ini.

Ketika tubuhnya gontainya kembali menegak pun tangannya masih berusaha menggapai mulutku, rusuknya tidak bisa terhindar dari pukulan. “Fuck off!”

Itu adalah sebuah turn of event yang… menyebalkan, menggelikan, mengenaskan—kesucianku seperti diambil. Bibirku kuusap-usap dengan kedua tangan, jijik akan rasa alkohol yang bercampur air liur, apalagi ketika mengingat lidah—okay, lupakan, aku mual.

Kemudian, dia aku tinggal—maaf saja, ya.

Saat itu kami sudah sampai di ujung gang, jalan setapak yang luas tinggal beberapa jengkal lagi. Dari jauh, seseorang tengah memperhatikan kami berdua pun dengan sembrononya memotret insiden tadi. Dialah wanita yang menyelamatkan Nathan dari tikus-tikus kelaparan, sementara aku dilingkup jengkel sambil berjalan pulang pula mengelus tangan yang nyeri. Wanita yang sama dengan seseorang yang mencemplungkanku dan Nathan ke neraka, penyihir bangsat.

Pada pukul tiga pagi,  alam mimpi masih tidak ingin kutemui dan Natasha mengirimkan gambar di grup WhatsApp. Ketika melihat notification selanjutnya soal, “We have a new couple, guys!” pastinya aku penasaran dan tanpa tedeng aling-aling membuka obrolan tersebut. Kemudian mau muntah pula meloncat dari lantai dua belas—tidak jadi, malaikat maut masih memberi ide waras padaku.

Nathan pasti sedang teler pagi itu, jadilah tinggal aku yang memerangi kata-kata selamat dari si pengirim gambar, Wanda, dan David. Kalah total. Seminggu kumpul berlima dengan bahan-bahan tawa yang membuatku memanjatkan doa agar bumi membelah diri, lalu menelanku—tapi tidak pernah terjadi, dan tiga makhluk keturunan Voldemort itu malah makin menjadi. Sebulan dipasangkan dengan orang tertampan di fakultas, ew, lebih baik aku jadi bujang dan menua bersama kucing-kucing—grandpa cat, tidak buruk juga.

Dia pernah minta maaf soal hal tersebut, tapi aku bilang lupakan saja karena semua malah jadi awkward. Sebab permintaan maafnya gagal, dia mengubahnya sebagai traktiran makan burger—salah satu dari dua kabar baik. Kabar baik lain dari hal tersebut adalah Nathan mengurangi obsesinya soal menenggak satu botol minuman ketika ada (takut kejadian yang lebih mengerikan menimpanya), yang mana membuatku tidak perlu pusing-pusing menjemputnya tengah malam.

Namun inside joke itu masih bertahan berbulan-bulan kemudian, bahkan ketika Nathan sudah sungguh jarang berpesta dan kami berdua memiliki pacar masing-masing.

“Siapa yang akan menjadi kepala rumah tangga di antara kalian?”

Aku mendelik nyalang pada Natasha, sedangkan si pelaku kejahatan hanya cengangas-cengenges minta maaf ke arahku. Oh, Nathaniel Prendergast, setan jahanam, kepik busuk, upil kerbau.

end.

Note:

  1. The Dumbledore jokes taken from 9gag.
  2. This is not something I usually write, so… sorry for the mess.
Advertisements

2 thoughts on “The Magic of a Kiss

  1. Aku suka nama Nathaniel, that’s why kulanjutkan baca waktu nemu nama itu hahaha. Biasanya Nathan identik dengan cowok-cowok badass begitu, tp di sini dia troll banget HAHAHAHA. Asli aku udah kepikir banget jan jangan ni cowok bakal nyium temen cowoknya, njir jangan jadi yaoi plis wkwkwkwk. Tapi responsnya….ngakak wkwkwkwkwk duh. Emang sih bahasanya agak frontal tapi aku suka gimana dong XD intinya kusuka fic ini daaan keep writing my dear sistah!

    • HALO NISWAAAH. IT’S BEEN A LONG TIME. I MISS YOU SO MUCH ❤

      Aku kepikiran nama Nathaniel gara-gara inget The Bartimaeus Trilogy, terus di situ orangnya badass cuman pas muda agak nerd gitu 😄 hehe maaf ya ini tiba-tiba jadi man x man, iseng aja sih. Dan bahasa frontal tuh enak banget buat dipake emang HAHAHA.

      You too niswah and thank you ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s