Tüsi

Setiap rona di sini bukan paduan cahaya, mereka hanya sekadar warna.

Photo © Dreamland is Calling

Apel berwarna ungu, danau penuh dengan corak polkadot, dan langit sewarna daun—yang mana oranye. Di sini warna terlihat berbeda; alih-alih mendefinisikan keelokan, hal tersebut cuman menjadi penghias tanpa makna.

Tidak butuh matahari untuk berona, lagi pula cahaya ada dari ribuan pendar bohlam yang berjingkrak tak tentu arah—kadang mengekori tanduk rusa, kadang hanya bergulung di bentangan sabana biru. Sedangkan mentari masih tersangkut di tepi bulan, arah jam dua; tidak akan berubah ke mana pun kau berupaya lari, sebab setiap penghuni menjadi poros satu bintang besar tersebut. Bentuknya bagai lilin mainan yang telah digigit dan diinjak bocah-bocah, lantas direkonstruksi kembali sebagai bola sebelum ditiup asal oleh naga paus. Dan sinarnya tidak substansial karena setiap rona di sini bukan paduan cahaya, mereka hanya sekadar warna.

Oh, omong-omong perkenalkan aku Qalipti Tus, makhluk unik yang tinggal di dunia ini. Warna mataku cokelat, rambutku hitam legam, dan kulitku sewarna susu cokelat dalam duniamu. Iya, aku seperti kamu, atau mungkin aku adalah kaummu—yang seharusnya tidak berkelana ke sini.

“Hey, kau!”

Aku berhenti menatap Zebra merah ungu yang tengah memakan kayu, menoleh pun menemukan seorang bocah dengan kuping bagai kelinci. Ia menatapku panik.

“Siapa yang mencuri warnamu?”

Tidak ada. Bibirku kelu; tungkaiku geming.

“Kaulah si pencuri warna? Anak manusia?”

Iya.

“Oh, bodoh!” Seolah ia andal dalam menerka pikiranku, ceruk bibirnya segera merutuk aku yang berdiri di hamparan semak oranye tanpa perlindungan.

Ada derap langkah-langkah mendekat, menebas daun; mencari aku si pencuri warna. Bagai tahu apa yang mengikis spasi dan dicampur rasa tak tega, anak lelaki tersebut menggandeng lenganku; menuntunku melangkah entah seberapa jauh sampai bersua tempat berlindungnya.

“Lagi pula, kenapa kau mencuri warna?” tanyanya di antara suara kaki kami.

“Karena duniaku mulai kelabu.”

Dan aku, kaummu, di sini diburu karena dianggap tidak berwarna.

End.

Notes:

  1. Efek insom dan tiba-tiba kepikiran.
  2. Mungkin ada pesannya mungkin enggak
  3. SURREAL! Yang fail sepertinya. Silakan dikomen atau dikritik.
  4. Qalipti Tus means normal color in Kazakh
Advertisements

2 thoughts on “Tüsi

  1. waaaaah sudah lama aku gak baca surrealisme sher! (dan sdh lama juga aku tidak menulisnya ;-;) huks kangen
    aku suka, vivid description of colors-nya terutama, kyk ada di lukisan. terus itu ngapa anak manusia bisa nyasar di situ? buat nyuri warna pula. suka pesan tersiratnya juga sih *ada ataupun tidak :p
    keep writing sher!

  2. haloo Kak Sher, aku jalan-jalan hhe~

    ini surrealnya keren banget huhuhuhu. entah kenapa dunia di mana warna sekedar warna ini seru banget kayaknya. zebra jadi warna merah ungu, apel ungu, danau polkadot… ASIKKK❤ aku masih berusaha nyari pesan tersembunyinya sih. tapi yang namanya interpretasi beda beda kan ya~ jadi~ apaqa mungkin anak manusia ini hidupnya kurang berwarna terus dia nyuri warna di dunia itu karena di sana warna berarti tidak lebih dari sekedar warna? tapi malah ketauan dan diburu sama makhluk sana yang benci kaum manusia yang begitu-begitu aja?~

    WKWKWKWK kenapa aku ngelantur sih mon maap Kak ))):

    udah lama gak baca ficmu, dan ternyata makin kereenn! keep writing, Kak Sher! Luvvv❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s